RAD1KUS MAKAN KAKUS Bukan Binatang Biasa Penulis: Raditya Dika Pcnyunting: Christian Simamora Penata letak: Wahyu Suwatni desain sampul: Nanda fotografer: Deki Andika Penerbit GegasMedia jl Haji Montong No 50 Cianjur-lagakarsa, Jakar ta Selatan 12630 Telp. (0211 78883030, ext 213,214,216 Faks- (021)7270996 Email: redaksi@gagaasmedia.net Website: www.gagasmedia.net Distrbutor tunggal: IransMedia JI. Mandar XXI Blok DD 1 ] No. 31 Bintaro Jaya Sektor II1A tangerang Telp. (021)7364002 Fab. 1021) 7357875 Email: pemasaran@transmediapuslaka.com Cetakan pertama. 2007 Celakan kedua, 2007 Hak cipta dilindungi undang-undang Dika. Raditya Radikus Makankakus: Bukan Binatang Blasa Raditya Dika; penyunting. Christian Simamora cet. I Jakarta: GagasMedia. 2007 x + 232 hlm; 11,5 x 19cm ISBN 979-780- 166-7 I. Nonfiksi-komedi II. Chrisuan Simamora 895 --text mjbookmaker by http://seven.jw.lt --recent o/a I. Judul Pengantar Penulis HAAAAAH, buku ketiga, Selama nulis buku keti- ga ini, banyak nostalgia yang keinget lagi. Gue jadi inget, waktu pertama kali gue nawarin naskah buku Kambing jantan, dateng sendirian ke kantor Gagasmedia. Begitu editornya ngeliat nas kah Kambing jantan gue, dia bilang. 'Wah, Maaf Kalau mau nerbitin buku tentang ternak mah bukan di sini!r 'Ini bukan buku tentang ternak. Mas!' Gue waktu itu jawab, udah mau nangis, 'Ini buku kum pulan blog gitu, kayak diary tapi ditulis dengan gaya humor. Kejadian sehari-hari gitu. Gue juga inget waktu buku Kambing jantan pertama kalinya masuk ke Gramedia. Begitu nyam- pe Gramedia, langsung ngelihat ke kiri kanan H nyariin buku gue di-display di mana. Anehnya, gak ketemu-ketemu. Gue panik dan berguman, 'Anjrit! Scan Buku Oleh: KANG ZUSI http:''kangzusi.com' RADIKUS MAKANKAKUS Bukan Binatang Biasa Jangan-jangan ditaro di rak bagian buku ternak!' Gue langsung lari ngibrit sambil berharap jangan sampai gue menemukan buku gue ditaruh di rak Peternakan, di samping buku Jurus Jitu Mengawin- kan Monyet dengan Ibu Mertua Anda. Untungnya, sampai di bagian buku pertanian'peternakan, me- mang gak ada disana. Gue juga ingat pas ada orang yang mengham piri tumpukan buku gue di Gramedia. Gue, dengan kepura-puraan tingkat tinggi, ngomong, 'Wah! Kambing Jantan! Lucu setali yg buku ini!' Ketawa- nyo makso banget, kedengarannya kayak orong keselek duren, 'Hakhakhakl HAKHAKHAK!' Yang ada, orang di sebelah gue tadi justru gak jadi beli bukunyo, takut jadi kayak gue begitu baca tuh buku. Gue jadi inget, saat itu gue berharap bakalan tetep nyai uri n perasaan erafed itu, perasaan seolah menemukan hal baru, ekspektasi berlebihan yang gue dapet saat ngeliat tumpukan buku with my own name on it di display buku baru. Berbekal kenangan-kenangan itu sebagai moti vator paling mujarab, gue persembahkan buku ke tiga gue. Buku ini masih tetep berisi pengalaman pribadi gue yang kayaknya gak pernah abis-abis keanehannya. Masih tetep ancur. Masih tetep ada adek-adek gue. Masih tetep mencoba untuk jujur dalam menulis. Dan terutama, masih tetep ber- harop you will laugh along with me. Sebagai penutup, dan biar keliatan pintar, gue mau nge-quote Woody Allen: "1 am thankful for laughter, except when milk comes out of my nose." Pipis, Love, qnd Gaul, Raditya Dika untuk thatpeculiarguy, kapan Balada Badut Mabok Gue sirik sama tem en-temen sue, Atesannya sih simpel aja; saat ini mereka udah kuliah Jingkat akhir dan mereka lagi dalam lahap pembuatan skripsi. Sedangkan gue Betam sama sekali. Gue pengen aja kayak temen-temen gue itu, yang bolak-balik bikin dallar perfariyaan kepada ibu-ibu rumah tangga, atau pergi ke Bogor dalam rangko penelilian lapangan. Hmmm, penelitian. Ka- yaknya seru banget tuh. Daripada ketinggalan mainan, gue lalu beren cana bikin penelitian mendiri. Gue nyari-nyari ide, kira-kira penelilian macam apa yang Cocok bual gue. Mulailah gue baca koran botak-balik, tanya kiri-kanan. Selama lahap pencarian Ini, gue baru sadar ternyata susah juga memilih tema penelitian. Mau neliti tentang tawuran remaja, takut kebacok. Mau meneliti kehidupan homoseksual Takut jatuh dnto. Bingung. Setelah melalui proses meditasi yang lumayan menyadai seluruh jiwa-ragn. akhirnya gue nemu lema penelilian gue. Ya, sebuah karya ilmiah JU- perkeren: meneliti kehidupan badut dengan menjadi badut. Temo ini gue pilih karena hampir seluruh ke luarga gue takut sama badut. Dari gue sampai a dek bungsu gue, pas kecil soma-sama takut soma badut. Nah, berhubung kata lemen gue, bikin karya ilmiah itu judulnyo harus ponjang, ribet, dan kalau bisa pake Bohasa Inggris, jadilah karya ilmioh per- lama gue berjudul; Monitoring Altruism Bonalify On Clowns Doing Unprecidented Responsive Environ ment Nuisonce (alou disingkalt MABOKDUREN], (Mtuk penelitian menjadi badut ini, pertama- tamo tentu gue harus punya kostum yang sesuai dong. Gua langsung nyari tahu siapa saja orang yang bisa dipinjamin kostum badut. Setelah nanya ke Rofik, asistennya nyokap gue, akhirnya gue dapel juga namar kontak searang supplier badut pesta- Namanya Nanang. 'Halo, bisa bicora dengan Mas Nonang' sapa gue di telepon. 'Iya. Ini popoknya Dika ya Tadi, Rofik nelpon duluan. Katanya, nanti ada bapaknya Dika yang akon menghubungi soya,' kata Nanang. 'Bukan, bukan bopoknyo,' kato gue. 'Oh, jadi ini Om-nya' 'Bukon, bukan. Maksud saya, ini bukan ba paknya Dika yang menelpon. Tapi ini Dikanya sendiri. Saya bukan onak kecil atau om-om. Saya yong mau pesen bodut.' 'Oh, iya iya. EVenf-nyo di mana Outdoor IndoorSaya bisa macem-mocom, saya biso tebak- tebokon, n g e-'oke' 'Bentar, Mos,' gue memolong. 'Saya sebenar nya bukon mau nyewa badutnya. Permintaan saya agak beda.' 'Beda Gak pa-po jugo. Komi terima-terima sa ja kok yang beda,' kola Nanong. Dalem hati gue, jangan-jangan si Nanang udah biasa terima orderon bedo. Jangan-jangan kemaren dia baru ngurusin pesta seks badut di mana Winnie The Poah kawin somo Dora The Explorer, terus diliatin Sponge Bob yong lagi sibuk nonton Donal Bebek striptease, 'Bedanya begini,' gue berkota, 'saya mau nye- wo kostum badutnya untuk keliling kota Jakarto.' 'Apo' Nanang sepertinya tidak percaya de- ngon opa yang baru saja dia dengar. 'Iya, saya mau merasakan sehari jadi badut.' 'APA' lini, Mos. Soyo penosoran bagai mo no orang memandang dan memperlakukan badut di kehidupan jehari-hari. Jadi. saya ingin pergi ke keramaian dan memakai kostum badut ini,' jelas Hening. TUT TUT TUT 7TJ77 Anjrit, ditutupi Jangan-jangan si Nonang udah takut duluan, nyangkain lagi ditelepon orang gilo. Cue nelpon dia lagi, sebelum dia lopor ke polisi. 'Halo Mosi Kok ditutup sih I' Gue sewot. 'Oh, yang tadi beneran' Nanong bertanya Hening lagi. 'Mas Dika.' lanjut Nanong. kalem. 'Kalau gitu, saya ikuton aja. Biar seru. Nanti, kita dorong mobil berdua di pinggir jalan pakai kostum badut! Kan keren bonget! Terus yo' GubraJr. Tarnyato si Nanang ini emang beneran badut kali ye. Sempet-sempetnya dia nawarin berkelana berdua dolam kostum badut gini. Tapi, gue akhirnya menolak tawaran dia. Jadi badut sendirian kayak nya lebih seru. Pembicaraan berlantul ke mosolah kostum apa yang mau dipakai. Biar freak, gue pengen kepalanya harimau de ngan baju ksatrio. Nanong pun dengan semangat oerapi-opi janji bakal nyiapin semuanya. _USO\yO, Nanang sampai di rumah gue. Orangnya ternyata lebih kecil daripoda gue, botak, dan berkocamata bingkai hitam. Bajunya arna oronye dan bercelana panjang hitam yang dilipat bagian bawahnya. 'Sebenernya, saya pengen sekali ikuton dengan Mas Dika,' kata Nanong, 'lapi'saya ada urusan sampai nanti sore.' 'Oh, gak pa-pa kok, Mos Nanong.' 'Oh ya, nama saya yong sebenarnya itu Pongky -o' ka Jng. 'Pongky Kok jauh bonget samo Nanong' 'Iya, Pongky. Ompong sebelah kiri. Hahoha,' katanya sambil menunjuk ke arah giginya yang emang beneran ompong sebeloh kiri. Pas dia lagi ketowa lebar, gue meratiin. Buset Beneran ompong. Ada tigo sampoi empat gigi yang ompong di bagian itu. '3 Gue berpikir do lem holi, gede juga ompongnya. Saking gedenya, seolah-olah gue bisa masukin bambu runcing ke sela-sela giginya. Hmmm, seru juga kalo Nanang hidup di zaman kemerdekaan dulu, dia gak usah repol-repof ngangkat bambu runcing. Tinggal sellpin bambu runcing aja di sela giginya, terus lari membobi buta nyerang orang- orang Belanda. Namanya bakal jadi saingan si P:lung Jagaan Betawi, dijuluki... si Nanang Jago PaloL 'Mas Dika' kala Nanang membuyarkan la munan gije, '$ i:"i o..: u!_*:3Sde-ign-ipo'iolitia nnyo ya. Begini lho, saya juga pernah mengaumi banyak suka-duka jadi bad u!. Saya mau mewantl-wanll saja. Nanti, Mas, mungkin pas jadi badut ngerasain juga.' 'Oh ya Kayak glmana aja' 'Kayak waklu itu, saya pernah jodl badul puke kostum Danai Bebek. Eh, oda anak-anak kecil yang ngira saya kayak bebek beneran, bisa berenang.' Tarus' 'Anak-anak itu ngejorok saya ke kolom renang. BYUR! Untung, gak tenggelem. Saya langsung diselameiin orang-orang. Begitu di tepi kolam, saya langsung pulang dan nyari baja j Gue ketawa garing. Setelah puas curhal soal hidupnya sebagai badut, Nanong mengajari gue cara memakai bajunya, kepalanya, kaus tangan, den sepatunya. Setelah perjuangan cukup berat, maka, jadilah gue onak haram Harimau dan Ksatria Inggris: Badui Mobok! Badut mobok stop memberantas keperawananl Kesan perloma memakai kostum badut; susah banget buat ngeliat. Gue gok bisa ngelial ke mana-mana. Gimana bisa ngelial Bolongan buat matanya aja sekecil biji gorila, udah gilu posisinya lerlalu di alas. Banyak him,f spotyang gak keliatan. 'Mas Nanang, yang bikin kepala harimaunya ini orang buntung ya' 'Nggak, kok,' kala Mas Nanang, malah nang- Karena bolongan mata yang gak proposianal itu, gue terpaksa turun tangga dengan susah payah. Ngeraba-raba tembok bfar bisa ke luar dari kamar. Yong ada, gue malah mirip orang bulo ketimbang badut. Biar bisa ngeliat dengan baik, kepala gue harus diturunin ke bawah, agak-agak nunduk gitu Belum lagi, celananya juga ketat banget. Tadinya, gue mau nyelipin ketimun di selangkangan biar sekalian promosi, tetapi gak dapet tuh ketimun yang mau. Dengan kepola yang harus ditundukkan ke bawah ketika berjalan, dan celana yang ketat, jadinya gue kalau jalan harus ngangkong ke dalem dengan kepala godek-godek. Benar-benar badut imbisil. Berhubung udah ketemu kostumnya, gue pun resmi memulai penelitian ilmiag gue. Gue nggak sendiri; bersama gue hadir pula orang-orang tim sukses penelitian yang tugasnya memotret progres penelitian: Mister, Andini, dan teman-teman lain. Misi kita hari ini: kayang di depan Monas dengan kostum badut Percobaan pertama: manggil, bajaj. Sebelumnya Nanang pernah cerita, ketika dia jadi badut dulu, setiap kali mo cegat bajaj poke kostum badut, eh tukang bajajnya malah kabur semua. Gue mau membuktikan pernyataan itu. Gue bergegas ke luar rumah dan menunggu bajaj lewat. Untungnya, gak berapa lama kemudian, ada satu bajaj lewat Begitu liat bajaj, gue lari-lari sambil ngelambaiin tangan, 'Bajaj! Bajaj!' Tapi, perlu diingat, dengan kostum gue yang ketat ilu, gaya lambaian tangan gue malah kayak robot. Bener-bener kaku. Sialnya, meskipun be berapa kali ngelambaiin tangon, eh bajojnya engga juga berhenti. Tuh Bajaj maloh ngelewati gue gi!u aja, don muka si abong bajoj ngelialin gue sambil mang a p. 'MONYET LO! GUE DOAIN GAK ADA BADUT LAIN YANG NAEKI' Gue teriak penuh amarah. Gue coba lagi nyetop bajaj lain yang terlihat di kejauhan. Masih di ujung jalan, gue udah ngasih tanda mau nampang ke bajaj itu. Eh, yang ada malah pas tuh bajaj nyadar lagi dipanggil, dia berhenti. Lalu, muter balik. Frustrasi, gue lalu nyari trik lain. Gue suruh temen gue ngebrentiin bajojnya. Baru setelah dapet bajaj, gue yang naik. Rencana ini ternyata berhasil, begitu temen gue melambaikan tangan, bajaj yang lagi lewat :angsung berhenti. Gue langsung keluar dari per- 'BANG! AYO JALAN-JALANI' jerit gue sambil jalan ngangkang. Supir bajaj tampak shock. Mukanya ngelirik- ngelirik gue sedikit, menunjukkan raut khawatir. Mimpi apa dia, tiba-tiba pas lagi norik, ado harimau mabok minta naek bajaj. Tapi gue cuek aja, dengan kepedean tingkat tinggi langsung masuk bajaj sam bil bilang, 'Bang! Kita keliling kompleks!' Bang, ayo kita cari harimau-barimau betina Karena kepala gue terlalu gede, gue gak bisa duduk lurus. Kepala gue jadinya nongol ke luar; idug dan moncong kepala menjulur dari badan bajaj. Begitulah kira-kira penampakan anehnya sa- at gue dan tukang bajaj yang (kurang} beruntung itu muter-muterin kompleks rumah. Di jalan, sempet ada beberapa orang yang nunjuk-nunjuk bajaj dengon raut muka heran. Di tengah perjalanan, gue berpikir untuk nga|ak ngobrol si tukang bajaj. Maklum, gue kan anaknya baik hati. Gue berusaha masukin kepala gue, tapi yang ada kepala si tukang bajaj jadi kesodok ke 'ADUHl' Si abang bajaj kaget karena tiba-tiba kepalanya disodok. Mungkin dia mengira gue ba kal nodong dia kali ya. Gawatnya lagi, kalo sampe teriak, 'JANGAN BAJAK BAJAI SAYA!' Begitu kepala gue nyodok-nyodok si tukang bajaj, gue nonya sama abang-abang bajajnya dengon suara yang dibuat-buat serem. Pertanyaan nya juga gak penting, 'Bang, abang suka harimao Si abang-abang, dengan kepala kesodok, berbicara dengan luar biasa kalem, 'Suka,' 'Sukanya harimao yong kayak gimano' Gue nanya makin ngaco. Sambil ngomong, kepola gue makin maju, bikin kepala si abang-abang semakin gencar kesodok 'Yang gimana apanya' Si Abang nanya, sam bil mempertahankan kepalanya biar gak ngebentur setir bajaj, Kemungkinan besar, sebentar lagi dia bakal gegar otak, 'Iya, harimao yang besar opa yang kecil' 'Yang sedeng aja' 'Sedengnya, sedeng besar apa sedeng kecil' 'Sedeng..., Ya, sedeng,' Si abang kayaknya udah capek ngejawabin pertanyaan gak penting gue. Daripada gue disiram oli panas, akhirnya gue memilih diem aja. Abis itu, kita beranjak untuk psrgi ke Ratu Plaza. Rencananya, dari Ratu Plaza kita akan noek Trans Jakarta (Busway), lalu pergi ke Monas. Namun, saat mobil kita ngelewatin anak-anak yang maen bola, mereka teriak-teriak dari jauh, 'Om Badut! Om Badui! Om Badut' Gak beberapa lama kemudian, anak-anak itu udah ada di samping kaca mobil gue. Kepala gue ditoyor-toyor. Tangan-tangan butek item mereka nyolok-nyolok idung gue. Berhubung gue adalah badut yang baik hati. gue lalu memanfaatkan momen popularitas ini untuk menyebarkan kebaji kan Dori kaca jendela, gue teriak, 'JANGANLAH KALIAN ABORSI!' 'APAAN ITU ABORSI' salah satu anak berta- nya-tanya. Gue buru-buru nutup kaca mobil sebelum hal- hal yang tidak diinginkan terjadi. Mereka masih ngejar-ngejar. Malah, meskipun teman-temannya yong laen udah nyerah dan berhenti, masih ada stau anak tuyul yang tetap kekeuh loncat-loncat di Ya h, akhirnya sih si tuyul berhenti, berteriak, 'DA5AR BADUT BEGO!' Sesampainya di Ratu Plaza, kita markir mobii di deket Carrefour. Rute perjalanon berikutnya adaloh keluar dori mobil, masuk ke Carrefour, keluar Ratu Plaza, naik jembatan Busway, terus naik Busway ke Monas. Buat manusia biasa, perjalanan seperti itu mungkin normal-normal saja. Topi buat orang berkostum badut, perjolanan seperti itu sama de ngan... NERAKA JAHANAM. Di Correfour, guediliatin orang-orang di sekitar dengan pandangan nista. Terlebih lagi, karyawan- karyawannya megang-megang gue begitu gue lewat. Awos aja kolo sampe digrepe-grepe, ntar gue aduin ke Komnas Pelecehan Seksual Ter hadap Badut Sarap. Abis keluar dari Carrefour, gue horus naek eskalator yang notabene sangat susah diinjek karena kaki gue gede banget. Tapi itu belum se berapa. Masalah paling besar timbul pas gue ke temu anak-anak kecil. Begitu ngeliat gue, mereka langsung bilang sama emaknya, 'Ma, mau salaman sama Om Badut! Yah, mau gak mau gue tanggepin lah. Kampret. Malah, ada beberapa ibu yang maksain anak- anaknya yang masih balita untuk sal am an oma gue. 'Ayo, salamon ama Om Badut, salamon sana samo Om Badut,'kata mereka. Si anak, yang baru belajar ngomong, cuman ngerespon, 'Ba..ba.. but Sa... lam... BAB U T' 'Iya, sama Om Badut sana,' kata ibunya lagi. 'BABUT LAM BABUT' si anak celingukan menghampiri gue. Karena colongan mata yang kecil dan terlalu ke atas itu, gue gak nemuin di mana si anak berada. Gue berusaha nyari-nyari, letapi gak dapet-dapet. Gue telingukan ke bawah, kiri, dan kanon. Ibunya udah sewoi, 'Om Badut* Anak saya ngajak salaman! Salamin dongl' 'BABUT' si anak manggilin gue terus, Stres, gue jadi pengen leriak, 'BADUT, BUKAN NYA BABUT! DASAR ANAK KECIL KEBANYAKAN NETEK LU!' Setelah salaman beberapa kali, gue cabut dari Carrefour. Keluar dari kawasan Carrefour dan Ratu Plaza, giliran naik jembatan penyeberangan untuk naik Busway. Sampai di sana, gue sempet-sempetin foto kayang. Badut mabok kayang di atas jembatan Busway Beberapa orang yang lewat sempet bertanya pada Mister, temen gue yang ikutan. 'Ini badut bual apaan. Mas Kok kayang gini' Si Mister cuman bisa jawab, 'Ini di dalemnya ada Radityo Dika, buat penelitian gitu ' Si pemakai jembatan tentu ga ktau Raditya Dika siapa. Kalaupun tahu, paling mentok cuman bilang, 'Oh Raditya Dika, yang suka mencabuli hewan ternak itu ya Begitu sampoi di halte Busway, sekali lagi gue disambut dengan gegap gempita sama anak-anak kecil. Karena kepala gua warnanya oranye, gue jadi dikira badut Busway. Ibu-ibu mereka langsung teriak, 'Ayol Foto ama badut Busway! Foto ama- badut Buswoyl' Setelah dituduh sebagai badut Busway (dan beberapa kali foto kemudian), akhirnya busnya dateng juga. Gue langsung buru-buru naek. Pas gue lagi naek, terdengar suara Mister samar-samar di belakang, 'Eh Eh! Tunggu in kita! Jangan naek dulu!' Gue nengok ke belakang, Saat itulah gue menyadari. Mister dan teman- teman lainnya gak ikutan naek. Mampus. Di sinilah gue berada. Di dalem Busway. Sen dirian. Seekor badut Ultrager mabok tanpa hape, tanpa dompet, tanpa teman, sendirian berdiri di dalem Busway. Menerawang. Mampus. Beberapa penumpang yang ngeliatin gue celi ngukan dari tadi hanya memasang tampang heran. Gue sempet ngeliat beberapa dari mereka ngelirik pake ujung mata. Pura-pura gak ngeliat, tapi sebe narnya penasaran juga. Ada dua orang ABG yang ketawa-tawa kecil ngeliatin gua celingukan. Untung otak gue berpikir cepat. 'Gue harus turun di stasiun berikutnya.' Sesampainya di halte Senayan, gue keluar dari Busway sambil lari-lari. Ada seorang ibu-ibu yang lagi nunggu Busway dari tadi terlihat shock. Dia sempat ngomong, APAAN TUH! APAAN TUH!' Kaget juga kali ye, ngeliat ada harimau tiba-tiba lepas dari Busway sambil lari-lari, lalu bersandar ke arah kaca. Gue duduk. Gak berapa lama kemudian, di bus berikutnya, Mister dan teman-teman turun, 'Goblok lo!Malah naek duluan!' katanya sam bil terbahak. Gue kagak tau. Kampret.' Gue memaki. 'MAkanya, liat-liat dulu dong l' 'IYE. Anjrit, gue panik abis,' kata gue dari balik topeng. Belum lagi adrenalin turun, tiba-tiba ada anak cowok yang nyamperin gue. Dia ngeliatin gue celingukan. Sebentar kemudian dia pergi ke nyokapnya yang berdiri di ujung pintu ruang tung gu Busway. Dia lalu bergerak lagi ke arah gue. Ternyata dio... MINTA POTO. 'Boleh poto sama Om Badut' kata dia ke gua. Bagus. Sekarang gue gak cuman badut. Gue juga om-om. Emaknya yang ada di dekat dia malah senyum-senyum mendukung anaknya poto berdua Om Badut. Mungkin, dia kira karena kostum gue warnanya sama dengan Busway, gue ini adalah badut Busway yang dipersembahkan oleh Pemerin- tah Kota Jakarta. Gue cuman ngangguk pasrah Terlihat jelas di mukanya bahwa anak ini sedang dalam ketakutan yang amat sangat Gue naik bus yang dateng berikutnya. Kali ini, onak-anak ngerubutin gue di belakang, masih setia nemenin gue dengan aksi super goblok abad ini. Begitu sampai di dalem Busway, seperti biasa, reaksi orang-orang langsung aneh. Mereka ngeliatin gue dengan muka bingung. Seolah-olah mereka bertanya-tanya dalem hati: 'Ini gue lagi di Busway di Dufan ya' Di tengah-tengah perjalanan, gue dihadapkan pada kenyataan: Halte Monas tutup. Mister nanya ke gue, 'Gimana nih Halte Monas ditutup.' 'Hmmm gimana ya' kata gue dari balik to peng. Turun di Bank Indonesia aja.' 'Jauh gak' Gue nanya. 'Lumayan juga sih.' Gue ngebayangin aja g i tu jalan kaki dari Bank Indonesia ke Monas. Mampus. Kayaknya jauh ba nget nih. Gue gak mau pos lagi jalan ke Monas tiba-tiba ditembak ama polisi, disangka harimau lepas. Akhirnya, gue bilang ke Mister, 'Kita berhenti di halte berikutnya aja.' 'Kita balik ke Ratu Plaza, abis itu naek mobil ke Monas. Jauh men kalo ke Monas jalan dari BI. Bingung ke sananya gimana,' 'Oke, terserah lo aja,' Kita pun balik lagi ke Ratu Plaza da n mulai berangkat ke Monas. Penumpang yang kanan pura-pura gak ngeliat ada badut makan tangannya sendiri Di Monas, gue jadi pusat perhatian tukang parkir. Cuek, gue turun dari mobil dan bergegas masuk ke area Monas. Di tengah perjalanan, tiba- tiba ada pengamen maen harmonika, gua ikutan joget sama dia bareng-bareng. Setelah capek jo get dan menari dengan musik asi k, gue bergegas masuk Monas. Ngelial ada delman nganggur, gue langsung lari dan naek ke atas. Gue bilang, 'Ayok, kita ke depan Mo nas !' Di depan Monas, gue ngeliat ada satu keluar ga yang gelar tikar di depan Monas sambil tidur- tiduran. Gue lama n geliati n mereka. Topi anak bayi yang dibawa keluarga itu langsung nangis ngeliat gue. Si Ibu, dengan logat Batak, menyuruh anaknya Foto sama gue, Tuh sana. Nak! Poto sama badut !' 'Aduh, engga deh, Bu.' Si anak nolak. Nyadar kali poto sama gue adalah ide yang sangat buruk. 'Poto sana. Nak! Biar kita bawa potonya balik keKupang !' Oh, ternyata turis dari Kupang. 'Iya deh,' kata si anak, akhirnya. Gue melambai-lambaikan tangan mengajak tuh anak ngedeketin gue. Si bayi yang dari tadi nangis, malah nangis tambah kenceng. 'Badut, kau lepas dulu sana topengmu! Anak bayiku nangis lihat kau!' kata si Ibu tiba-tiba dari kejauhan. Gue menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju. Takut kali. Bu,' kata si anak, 'soalnya mukanya lebih jelek dari topengnya!' Satu keluarga ketawa ngedenger celetukon si orok. Kampret. Untung gue masih menjalani peran gue seba gai badut baik hati yang suka menolong. Kalo enggak, pasti udah gue seruduk pake kepala harimau ini. Setelah poto-poto sampe kenyang, gue akhir nya beranjak pulang ke Tempat parkir bareng anak- anak. Sepanjang perjalanan, anak-anak bisik, 'Jauh-jauh dari dia, ntar disangka kita temennya.' Begitu gue denger ada yang ngomong gitu, gue langsung rangkul pundaknya sambil Teriak-teriak. Biar malu sekalian! Mang enak. Capek, penuh keringet, dan sesek napas. Jadi badut ternyata gak seindah yang gue bayangkan Belum lagi dijamah anak-anak kecil setiap kali lewat. Terlebih lagi kalau ada anak kecil yang maksa- maksa mo sala man, tapi guenya gak b i sa ngeliat karena jarak pandang gue terbatas. pipis di pohon, memori sewaktu masih di alam liar Fiuh, akhirnya nyampe juga ke tempat parkir. Gue langsung buka pintu samping mobil, duduk dengon manis, dan buka topeng. Mister, yang hari ini jadi supir seharian, nanya, 'Ke mana nih' 'Udahan deh. Makan yuk,' jawab gue kecape- an. 'Gue laper.' LIMA hari setelah petualangan badut mabok berakhir, gue berjalan di sepanjang lantai dasar Pondok Indah Mall. Di sana rupanya lagi ada pertunjukan Sponge Bob dan Patrick. Acaranya sih kayaknya simpel-simpel aja, anak-anak ke atas panggung, poto-poto, lalu pulang. Gue merhatiin si Sponge Bab yang dari tadi menariTanpa henti. Enak ya jadi badut. Bisa nge- lakuin apa yong dia mau, tanpa harus merasa malu. Mukanya ditopengin, gimana mau malu Terus, gue jadi inget waktu gue ngelakuin aksi badut. Mister bilang. 'La gak malu ya kayak gini ' Temen gue yang lain langsung nyerocos, 'Gi- mana dia mau malu Kan mukanya ditopengin.' Kayaknya, gue harus make topeng kalau mau nembak cewek. Gak bakalan malu ini. Gue ngelewatin si badut Sponge Bob yang lagi dikerubungin anak-anak dan seketika ngerasain seolah-olah Sponge Bob yang lagi nari ngaco itu adalah saudara lama gue dari negeri Badut nun jauh di awan, tempat semua orang bisa memakai topeng dan ancur-ancuran, tanpa rasa malu. gue pun melengos pergi. Scan Buku Oleh : KANG ZUSI http:''kangzusi.com' converting teks oleh http:''seven.jw.lt Sudah lama Gue mengagumi orang-orang yang kepribadian ganda. Malah sejujurnya, gue agak sirik sama mereka. Soalnya, kalo ada apa-apa bisa nyalahin kepri badiannya yang lain kan, biar bisa terhindar dari banyak hal. Misalnya, nyokap nanya, 'Dik, kamu yah yang kemaren abis pup gak disiram' Engga kok.' Gue bisa ngeles. 'Jangan boong kamu! Pak Hansip bilang, itu kamu yang abis pup! (Ya ampun, ngapain juga kali ye ada hansip masuk ke rumah orang ngelialin orang boker. Yah, namanya juga berandai-andai !) 'Oh, iya yah Itu bukan aku, itu paling kepri badianku yang laini' 'Oh maaf. Nak,' kata nyokap, memandang gue dengan penuh sesal. 'Mama lupa.' Sama aja kalau gue abis selingkuh. Tinggal bilang aja, 'Maap, Sayang. Itu kepribadianku yang NGIK! lain yang selingkuh. Bukan aku! Suer! Yang make obat wasir nenek kamu Ya, itu dia juga!' pertengahan bulan November 2005, gue da- teng ke fakultas sebuah universitas terkemuka di Indonesia. Untuk melindungi pihak yang terlibat, kita sebut saja Folkutas Kedokteran Gigi Geraham Anjing Belang Tiga (FKGGABT). Saat itu, lagi ada acara orientasi mahasiswa baru. Pas lagi asik-asiknya ngeliat acara orientasi gue nemu orang berpakaian ala Timur Tengah di kejauhan. Orang itu make sorban garis-garis merah-putih di kepalanya sambil senyum mesem. Kacamatanya agak longgar dan di tangan ka nannya terdapat sebuah tongkat kayu panjang. Kadang, tongkatnya diayunkan ke depan. Kadang. ke belakang. Kadang, dia muter-muterin tongkat" nya. Ajaib, pikir gue. Dia jalan terus sampai akhirnya dia ngerasa ada yang ngeliatin dari belakang. Dia langsung balik arah. Gue langsung buang muka, takut dicolok pake tongkat. 'Dika ya' gue ngedenger ada menyebut nama gue. Gue balik badan. Si Arab itu ternyata adalah t e men gue sejak lama, si Toni (nama samaran). Kita temenan dari TK sampe SD sampai a kh i r nya berpisah selama enam tahun. Eh, sekarang malah ketemu lagi di Fakultas Kedokteran Gigi Geraham Anjing Belang Tiga ini. 'Lo, kuliah di sini' gue nanya. Jawabannya sih seharusnya jelas: iya. Tapi, ngeliat si Toni bawa- bawa tongkat gini. siapa tahu sebenarnya dia atlet kungfu dan sedang dalam misi menantang mahasiswa-mahasiswa kuat dari seluruh penjuru Indonesia. 'Iya, gue kuliah di sini.' Dia ketawa-ketawa kecil Terus, ehm, itu tongkat buat apa ya' Gue nun- juk tong katnya, 'Gue ini gembala.' 'Gembala' Gue celingukan ngeliat kiri dan kanan. Engga ada domba, enggo ada onta, yang ada hanya burung merpati yang terbang dari tadi. Gue pengen nanya, 'Gembala burung merpati' tapi masih takut dicolok pake Tongkat. Ini saat-saat gue harus merespon dengon cepat atau takutnya si Toni nanti ngerasa dianggep kayak orang gila. 'Asik dong jadi gembala' Gue berkata dengan goblok, malah gak nyambung. Dia bengong se bentar dan gue masih saja takjub dengan dandan nya ajaibnya. Kalau dianalisis, di antara sorban dengan kepalanya, kayaknya masihgedean sorban- nyao. Jong an-j angon dari tadi dia jalannya condong ke depan gara-gara keberatan di bagian kepala, 'Iya, Ini buat drama orientasi kampus.' Toni bilang. 'OHI' Gue baru nyambung. 'lya! Iya!' Ternyata, dandanan sarap itu karena dia mau jadi gembala di drama orientasi kampus. Pantes aja, everything makes sense now. 'Hahahaha. Lo kira gue gembala beneran ya Ketipu yah lo' 'Hahaha.' Gue ketawa garing. 'Ketipu gue! 'Ketipu kan' 'Iya! Gue ketipu! Toni diem sebentar, lalu nanya lagi, 'Ketipu kan lo' 'IYE!' Gue langsung nyari batu tumpu! buat jedotin kepalanya si Toni. Gagal nyari batu yang pas, gue sama dia bicara banyak. Ngebahas hal-hal basic aja, itung- itung membayar waktu yang hilang di antara kita. Kita jadi nostalgia, ngingat zaman-zaman SD dulu, ketika si Toni suka maen ke rumah gue dan kita bareng-bareng naek sepeda muterin kompleks rumah. Gue jadi ingat, waktu itu dia terkadang bawa anjingnya ikut serta. Kita berdua, bersepeda, dengan anjingnya di sebelah sepeda kita. Mirip film homo anak kecil. Keesokan harinya, gue bertandang kembali ke Falkutas Kedokteran Gigi Geraham Anjing Belang Tiga. Acara orientasi kampus udah selesai. Gak ada drama-dramaan lagi. Saat itu lagi jam makan siang dan gue sendirian nungguin temen gue yang lagi ada kuliah, Jadilah gue sendirian, di kantin, mencari tempat duduk sambil bawa-bawa pecel Saat jam makan siang kayak g ini emang susah buat nyari bangku kosong. Mahasiswa-mahasiswi seliweran gak karuan. Giliran nemu tempat duduk bagus, eh udah di duduki n ama mahasiswa lain. Baru aja gue mau nangis, tiba-tiba ado tangan menjulur ke atas. Laksana cahaya dari nirwana, lambaian tangan si Toni menggiring gue duduk semeja dengannya. Rasanya, ada secercah oase di tengah-tengah gurun pasir yang gersang. Seakan- akan hidupku cerah kembali. Oh, asmara. Oh, asmara. Gue senyum mesum dan duduk di sebelah Toni. 'Sendirian aja, Ton' 'Iya,' Berbeda dengan kemarin, kali ini Toni gak bawa tongkat dan sorbannya. Rambutnya ternyata belah tengah. Gue longsung ngajok dia ngobrol. 'Jadi, lo memutuskan untuk masuk Falkutas Ke dokteran Gigi Geraham Anjing Belang Tiga yah' tanya gue sambil melahap ayam pecel yang aduhai itu, 'Iya,' katanya. Sebentar kemudian, dia membe narkan kacamata yang sudah agak sedikit kotor 'Ini keputusan gue.' 'Hoo, emang gimana tuh prospeknya' Gue bertanya lagi, 'Prospek' 'Nanti mo kerjanya di mana dan sebagainya.' Gue masih makon dengan binal. Prospek kerja memang sangat penting sekali untuk mahasiswa- mahasiswa yang baru masuk universitas seperti gue dan Toni, Sekalinya salah jurusan... wah! Hidup bisa berubah seratus persen. 'Di kantor,' kota Toni lagi. 'Yo iyaloh, di,kantor.' 'Maksudnya, selain di kantor' 'Prospeknya di kantor.' kata Toni mengulangi. Dia memandang mata gue dengan tatapan ko song. Hening. Gue mulai curiga. Kenapa responsnya Toni kok agak-agak sedikit aneh, gak kayak ngobrol dengan orang kebanyakan. Apa yang salah ya Apa jangan-jangan gue ga sengaja kentut, terus sistem otak dia jadi break down Setelah diem-dieman bentar, gue ngelanjutin ngobrol sama Toni. Pecel ayam gue udah abis, tapi perut gue masih berasa sedikit laper. Tiba-tiba, sesosok cewek berkulit putih, tidak Terlalu tinggi, lewot di depan maTa. Begitu cewek itu lewat, gue mendengar suara-suara aneh di sebelah gue, 'Ihik. Ihik. ihik. Ihik. Ihik.' Ternyata si Toni tiba-tiba aja ketawa-ketowa kecil sendiri, walaupun sebenarnya lebih mirip orang bengek. Gue memerhatikan muka Toni yong sekarang senyum lebar melebihi lebar pantatnya. Kenapa nih anak Dia ketawa lagi, 'Ihik. Ihik, Ihik! Ternyata, nih anak punya bakat jadi kuntilanak. Biar diterima dalam pergaulan, gue ikutan ketawa kecil, 'Ihik. Ihik. Ihik. Ihik! 'Lo kok ikutan ketawa. Dik' 'Eh iya ya.' Gue mingkem. Gue berdeham sebentar, lalu berkata, 'Nah, elo sendiri kenapa keTawa-ketawa segala' 'Gue jatuh cinta sama dia.' 'Dia' 'Iya.' kata Toni sambil menunjuk ke arah cewek yang barusan lewat, 'Dia.' Si cewek yang ditunjuk lagi ngobrol sama temen-temennya. tidak menyadari mara bah a ya yang mungkin membahayakan keselamatan diri nya. Sementara, gue cuman bisa diem. Gue meng analisis opa yang baru saja terjadi, Temen deket gue saat SD dulu tiba-tiba curhat on the spot gini. 'Jadi, lo jatuh cinta ama dia' Gue nanya se- kenanya, gak tau mo ngerespons apa logi. Gue bisa aja bilang, 'Sepatu lo bagus. Ton!', tetapi kayaknya gak bakalan nyambung deh. 'Iyah, gue jatuh cinta, sama dia.' Muka Toni serius 'Waduh, sejak kapan' 'Sejak kemoren.' 'KEMAREN Lho sebelomnya kaga' 'Engga.' Pandangan mata si Toni kembali ko- song Situasi hening lagi. Dorongan untuk bilang 'se patu lo bogus, Ton!' semakin menjadi. Gue ngeliat ke kolong meja, ternyata dia make sendal. Waduh, kok jadi percakapan gue ama dio jadi gak beres gini sih Gue memutuskan untuk mencari topik lain. Ngomongin temen gue, si Rizal. Kebetulon pas kita ketemu kemarin, Rizal sempet nyamperin gue dan ternyata dia kenal sama Toni. Kebetulan mereka memang satu kampus, tapi beda 'Ehm, jadi gimana ceritanya kok lo bisa kenal amo Rizal' gue bertanya. 'Kan beda Jurusan' 'Rizal' Toni bertanya dengan tatapan kosong. 'Iyah. Temen gue kemaren, yang ketemu lo juga. Baru aja kemaren!' 'Rizal yang gendut' 'Yo oloh. Rizal kaya papan gilesan dimakan rayap gitu kok gendut BUKAN!' 'Ga inget,' kota Toni. 'Serius gak inget' gue nanya. 'Gue punya penyakit otak'. 'HAH' Gue spontan kaget. Kalau dipikir-pikir, melihat responnya si Toni dari tadi kayak gitu, kayaknya wajar aja kalo otak- nya terkena sipilis. 'Iya, gue punya penyakit otak,' katanya meng ulangi. Gue langsung berasumsi kalau dia punya penyakit gampang lupa. Koyak Alzheimer gitu. penyakit kehilangan sel-sel otak yang mengarah pada kehilangan ingatan secara pelan tapi makin cepat. Kadang, sering ngerasa gue kena Alzheimer Gue sering lupa ama berbagai macam hal, dan hal ini berefek pada kehidupan sehari-hari gue. Misalnya, waktu S MA dulu gue sempet masuk kamar mandi, sabunan, lalu jerit kaget gara-gara, ternyata gue sabunan pake odol Pepsodenl! Waktu gue bilang sama nyokap, dio bilang, 'itu mah bukan Alzheimer, Dik. Itu namanya.,. BEGO.' Gue ngeliatin muka Toni dan berkata sotoy. Penyakit otak Kehilangan ingatan gitu ya Kayak Alzheimer gitu' 'Bukan,' kata Toni dengan pandangan kosong. Mukanya serem, 'Gue bukan Alzheimer.' 'Ah. terus apaan' 'Gue Schizophrenia.' Mampus gue. Penderita schizophrenia sering mengalami de lusi tentang identitas personal, keadaan sekitar atau masyarakat, dan punya penyakit mental. Kalau di masyarakat awam, secara salah kaprah, penderita schizophrenia dikatakan sebagai orang yang punya lebih dari satu kepribadian dalam dirinya. 'Gitu deh. Dik.' Toni berkata lagi. Tatapannya masih kosong. 'Jadi ini, ehm, ini sekarang siapa' Gue ngo- mong sok cool. Padahal di celana udah boker dua kilo. 'Ini bener, ehm, Toni temen gue kan' 'Iyah, ini gue lagi normal.' Lagi normal aja begini, gimana pas lagi abnormal 'Emm, kok lo bisa jadi kayak gini sih, Ton' 'Wah, gak tau juga deh gue. Yang jelas, gue tuh pas kelas dua SMA lagi parah-parahnya deh. Sekarang mendingan. Dulu sering ketawa sendiri, nangis sendiri, kadang-kadang seneng, kadang- kadang sedih. Gak tentu.' Gue manggut-manggut. Wah, ternyata gejala schizophrenia sama menstruasi tuh sama. 'Banyak suara-suara di kepala gue,' lanjut Toni. 'Suka nangis tanpa sebab. Suka ketawa ga jelas.' 'Oh, gitu ya.' Gue sok ngerti. 'Mungkin yang ketemu lo kemaren, pas kita ketemu Rizal...,' kato Toni. Dia lalu berhenti se bentar untuk efek dramatis, dan melanjutkan, 'itu bukan gue. Makanya, gue gak nginget.' 'Jadi, itu siapa yang ketemu Rizal' 'Entah gue yang mana, Dik. Gue gak tau. Gue punya "gue" yang lain dalam diri gue. Kepribadian lain Pas ketemu Rizal itu bukan dia Pertanyaan yang harus dijawab adalah: jadi itu siapa Ke pribadiannya si Toni-sang-gembala-burung-mer- pati kah Pas ketemu kemaren sih dia baik-baik aja ama gue, apakah itu berarti Toni-yang-bersahabat Mampus banget deh gue. Kalo ini film horornya Alfred Hitchcock, pasti udah ada bunyi-bunyi biola serem yang menandakan sang pembunuh datang dan siap menerjang mangsanya. Ngik! Ngik! Ngik! Sekarang, gue terjebak dalam situasi yang menyeramkan. Gimana kalau dia punya kepribadian yang suka menyantap cowok ganteng Lalu gue diculik dibawa ke Gunung Bromo dan dikulitin [by the way, kenapa juga harus Gunung Bromo] 'He... hehheh... he...,' gak tau mo ngerespon apa, gue mencoba untuk ketawa tapi yang keluar malah kayak orang epilepsi tanpa busa. 'Ini semua beneran' 'Schzophrenia ya Terus... berarti,., kalo gitu... lo punya kepribadian ganda dunk Dua gitu dalam satu orang' 'Engga. Gue ga punya kepribadian ganda.' 'OOOH! Thank God!' Gue udah bersiap sujud Toni mendekatkan badannya, 'GUE PUNYA TIGA.' Ngik! Ngik! Ngik! Mampus banget banget deh gue. Mata gue memandong kiri-kanan. Nggak ada benda apa pun buat dijadiin senjata. Gue cuman ngeliat sedotan. Yes. paling enggo kalo si Tani ngamuk, gue bisa cekik dia pake sedotan. Toni masih ngelialin gue. Tatapannya tajam ke mata gue. Kayak ada perasaan puas sehabis men ceritakan rahasianya ini kepada gue. Sementara gue, senyum-senyum penuh rasa cemas. Senyumnya Toni semakin lebar, ngerespon terhadap keheningan yang tidak mengenakkan ini. Pokoknya, kalau dia ngedeketin gue, gue udah siap-siap teriak. 'Mundur lo, Toni AWAS! GUE PUNYA SEDOTAN! MUNDUR LO!' Otak gue memberikan sinyal: lu gak bisa diam di sini terus, goblok. Ya, gue masih punya masa depan untuk digapai. Masih punya cita-cita besar: pengen berenang di Ancol (cetek banget cita- citanya. ya). Gue harus menyel amatkan diri dari sini. Begitu pandangan gue sampai kepada teh botol yang berdiri di depan mata, gue melihat adanya kesempatan dan bilang, 'OH! Ya ampuuuuunl Gue lupa bayar teh botol!' 'Ini kan teh botol gue' kata si Toni. 'OH! YA AMPUN! Maksud gue, tadi gue pesen teh botol, tapi kayaknya Mbak-mbaknya lupa deh. Makanya gakdianterin. Ya, ampuuuun!' Gue ngibul. Habis itu gue langsung berdiri dari tempat duduk, berjolan ke arah arang jualan dan ngibrit dengan sepenuh jiwa. Orang-orang poda merhatiin, tapi gue gak peduli. Lari sekenceng-kenceng n ya. DUA tahun kemudian, gue udah bisa ngelupairn pertemuan gue dengan si Toni. Ternyata, Rizal sen diri cerita sama. gue bahwa si Toni ini di kampus JUga dianggap orang aneh. Dia suka bicara sama Tangannya sendiri. Tangan kanan dan tangan kiri masing-masing diberi nama dan sering dia ajak ngobrol. Kabarnya juga, menurut Rizal. dia udah gak kuliah lagi di Fakultas Kedokteran Gigi Geraham Anjing Belang Tiga. Gak tau alesannya kenapa, atau jelas si Toni entah pindah ke universitas lain atau malah emang gak kuliah sama sekali. Saat pertengahan tahun 2006, gue baru aja turun dari lantai dua rumah gue, dan adek gue ngomong dengon hebohnya. 'Bang! Ada orang Siapa' 'Tau tuh, dari kemarin dia dateng Terus ke sini nyariin Abang, Tapi, Abang lagi pergi terus! 'Kayak gimana orangnya' 'Agak sopan gitu sih. Baik. Tapi koyak ada yang aneh deh. Mukanya kosong gitu. Serem banget! 'Siapa namanya' Gue nanya. Toni.' Ngik! Ngik!Ngik! Ngik! dimuat di HAI edisi tahun XXX'no. 51 18-24 Desember 2006. Ketika Kau Menebeng Kendaraan favorit gue semasa SMA adalah bajaj. Jujur, gue kadang heran kenapa gak banyak orang yang suka naik bajaj. Padahal, naik bajaj itu kan ke mana-mana gampang, tinggal cegat (karena rajin lewat di depan rumah). Terus, kalau mau nyanyi-nyanyi di dalem bajaj dijamin gak bakal ketauan jelek. Bajaj itu bagian dari warna masa-masa SMA gue. Berangkat sekolah, naik bajaj. Pulang sekolah, naik bajaj. Kabur dari tawuran juga naik bajaj emang gak elit banget sih. Tapi, gue gak pernah pacaran naik bajaj. Agak- agak gak asik juga kalau janji an ma lem mingguan terus gue bilang, 'Oke, Sayang, aku dan bajajku bakal jemput kamu pukul delapan. Pake orange ya biar matching! Kesetiaan gue terhadap bajaj berubah pas tahu Aryo, temen sekolah gue, bawa mobil sendiri dan pulangnya selalu ngelewatin rumah gue Nah, daripada gue kena bajaj syndrome, penyakit yang kalo penderitanya lagi bengong suka geter-geter sendiri, setiap pulang sekoloh gue selalu nebengin si Aryo. Di hari pertama nebeng sama Aryo, gue baru sadar satu hal: gue gak sendiri. Ternyata mereka juga sama kayak gue (manfaatin niat baik Aryo dan memaksanya nganterin kita pulang}. Dua parasit pengisap itu adalah Hugo dan Christie. Ditambah gue, lengkaplah kita bertiga para nebengers istiloh keren untuk orang yang suka nebeng sama orang lain. Selengkapnya, inilah daftar orang-orang yang setiap jam pulang sekolah selalu nyempil-nyempilan di dalam mobil Aryo: 1. Hugo Dua kata yang tepat menggambarkan Hugo adalah, patung Asmat Tau kan Patung yang versi ceweknya punya t e t e kayak pepaya gepeng itu Engga, t e t e Hugo gak gepeng, -tapi kayaknya sih ada enam(B uset. orang apa anjing). Kemiripan dia dengan patung Asmat terletak di kulitnya yang, keling'hitam. Gue sempet curiga, kali aja kan item kulitnya Hugo itu cuman daki yana mengerak Kalau aja -Hugo mau niatin mandi, jangan-jangan ternyata dia sebenernya albino Pas Gue Bilang ini ke dia, eh malah ditabok. -Hugo juga vokaIis sebuah Band Pernah ketika manggung, dia lupa lirik lagunya lalu Berrimprovisasi karena panik Penyanyi lain Biasanya Berimprovisasi dengan membuat nada atau lirik lagu secara spontan Tapi .Hugo malah Berimprovisasi dengan, ehm, Berjoget Mending kalo jogetnya bagus, dia lebih mirip kesetanan daripada berjoget. Lalu, pas lagi hot-hot-nya ngeband, tiba-tiBa samBil Berjoget [Baca. kesurupan) dia turun dari panggung dan mengajak penonton melambaikan tangan Teranag aja penonton yang sejak tadi udah acak-acak serem ngeliat si patung Asmat melakukan tarian ritual tradisional, cuman diem aja Beberapa Baca ayat kursi. 2. Christie Cewek ini emang polos, tapi kadang kepolosannya itu membuat kita menghela napas Pernah suatu waktu gue lagi curhat heboh soal cewek cue, eh si Christie malah diem aja. Gue mencoba mencerna arti diemnya si Christie (kirain trenyuh saking terharunya denger curhatan gue)tiBa- tiba Christie nengok ke Gue dan Bilang, Gue pengen ngemut Biji sirsak.' Sangat tidak nyamburng sekali, Kawan. 3. Gue Gue orang terganteng yang ada di mOBil i-tukalau muka -Hugo dan Aryo diserut pake parutan kelapa Aryo suka protes, dia B ilang gue membahayakan keselamatan dia dan penumpang lainnya Soalnya, kalo lagi maBOk kebanyakan makan Choki- Choki, gue suka ngegrepe-grepe si Aryo yang lagi Bawa mobil dan Bikin jalannya jadi oleng Ujung-ujungnya. Bisa aja kan gue malah Bikin penumpang lain -terancam marasabaya Gak lucu aja, ntar kalo kita Beneran taBrakan, di Pos Kota ada headline gede-gede; "Empat Remaja SMA Tewas Dalam MoBil AkiBat digrepe Temen Sendiri !" Selain ngegrepe-grepe Aryo, gue juga suka permainan 'tarik-rem-tangan-pas- Aryo-lagi-gak-liat'. Jadi, pas mobil lagi kenceng-kencengnya, eh tiba-tiBa gue tarik rem tangan dan Bikin mobil ngerem mendadak Oke, Brutal, I know . 4.ARYO Cowok ini emang Beda Di antara kita Berempat, pak. supir yang setia ini yang terlihat paling nonmal Ganteng dan tinggi; sering dikategorikan seBagai sosok yang cool, calm, dan kuli. Setiap tindakan didasari oleh logika Pantes Banget jadi Bapak kita semua. bapak tiri. Walaupun Aryo baik hati, dia gak terima kalau disiram pake air keras (ya iyalah, sapa juga yang terima"). SIANG itu, gue duduk di belakang, berdua sama Christie. Di depan ada Hugo, nemenin Aryo yang nyupir. Kiia berempat masih menunggu keluar dari parkiran Gelanggang Olahraga Bulungan yang ter letak tepat di samping sekolah. Christie berkata. 'Dik. gue baru beli hape.' Terus" 'Tadi nama gue udah gue save ko hape lo ya,' kata Christie sambil ngembaliin hape gue. 'Oh ya Lo ngasih nama lo apa di hape gue' 'Nama gue disitu Christie Martin,' kata Christie, kalem. Zamon-zaman itu emang Coldplay lagi ter kenal banget. 'Najis, Coldplay gak jadi lo!' gue sewot. 'Kalo nama gue... udah ada belom di hape lo' 'Ada,' kata Christie. 'Nama lo Cikalomas Gila.' 'Anjrit.' Hugo don Aryo yang ikut denger apa yang Christie bilang langsung ngakak sambil kejang- kejang. "Cikalomas" adalah nama jalanan tempat gue tinggal. Dan "gila" adalah sifat yang ehm, semua orang udah tahu. 'Kalau nama gue apa Kalau gue apa' tanya Aryo, nengok dari spion belakang. Kayak anak kecil yang gak sabaron. 'Kalau elo mah jelas banget, Baleno's Driver!' kata Christie kalem. Baleno adalah jenis mobilnya si Aryo, driver adalah pekerjaan Aryo setelah pulang sekolah. 'OH! Jadi gue dianggep supir nih!' Aryo se wot. 'Gimano kolo nama lo gue ganti jadi KETIKA KAU MENEBENG' Kita semua ngakak. 'Kalau nama lo apa yo. Go Gue belom ngasih nih,' kata Christie. 'Awas lu ngoco-ngaco,' Hugo mengancam. Ji wa barbar mantan pemulungnya keluar. Sebenernya sebelum gue nebeng mereka ha ri ini, gue baru tahu arti nama gue. Beberapa hari yang lalu, pas gue lagi pulang sekolah, si Pita, sa lah satu temen sekelas, menghampiri sambil ngos-ngosan 'Gue tau arti nama lo!' katanya dengan penuh kemenangan. 'Arti nama gue' gue menaikkan alis. 'Iya. Gue tadi baru buka kamus Sansekerta. Terus, gue nemuin nama lo dan artinya..,'dia nye- roCOS, 'Apa artinya' 'Raditya dalam Bahasa Sansekerta berarti mata hari,'dia berkata. 'Nama lo artinya matahari,' 'Matahari,' gue menggumam pelan. Lalu, Pito bergegas ke pintu gerbang mem balikkan badannya. Sok cool, kayak adegan-ade gan di film agen rahasia. Bedanya, si Pita lebih mirip agen minyak tanah. Bahkan, saat Pita bener-bener ilang dari pan dangan, gue masih berdiri sambil bergumam, Matahari'. Wow, gue gak nyangka sama sekali kalau arti nama gue bisa begitu dalam. Raditya sama dengan matahari. Wow. Keren sekali. Mata hari, laksana menyinari dunia. Gue jadi inget, dalam drama Romeo andJuliet, Shakespeare pernah bilang: 'Apalah arti sebuah na ma Mawar, jika diganti dengan nama lain, pasti akan sama harumnya.' Gue gak terlalu setuju sama Shakespeare. Kalo mawar diganti namanya jadi eek, orang kan bisa jadi ilfil. Misalnya, gue baru beliin mawar buat cewek gue, terus gue bilang, 'Sayang, aku baru aja naruh eek di bawah jendela rumah kamu,' Bisa-bisa dia langsung ilfil. Apalah arti sebuah nama Sangat berarti, Shakespeare Idiot. Sangat berarti sekali. Arti na ma jadi semakin berarti bagi gue, karena gue baru menemukan bahwa Raditya.. sama dengan matahari. Hmmm. APA ya, nama buat elo, Go' Christie masih nyari-nyari namo buat Hugo. Gue, setelah inget kata-kata Pita, langsung menjulurkan kepala ke jok depan dan teriak de ngan antusiasme tinggi. 'Eh. lo tau gak apa arti nama gue!!' Aryo terlihat bingung dan memandang muka gue, 'Apaan' Hugo telihat penasaran. Christie menyimak. 'Matahari!' kala gue bangga. 'Arti nama gue matahari! Gila, keren ya' Gue menunggu kata "matahari" meresap ke dalam hati Hugo, Christie, dan Aryo. Menunggu me reka menyadari bahwa ternyata temennya punya nama yang artinya sangat dalam sekali. Menunggu mereka meneteskan air mata saat menyadari bahwa temannya ibarat matahari, sang penyinar dunia. 'HahMatahari! Kala elu mah MATA ANJINGI Bukan Matahari!' Hugo menanggapi dengan eks- trim. 'HAHAHAHAH ' Semuanya ketawa. 'Bukan, elu mah MATA BUSUK! Hahahahah,' kata si Aryo dengan brutal, padahal gue belom sempet recover dari cercaan Hugo. Mereka bertiga ketawa. 'Sirik lo!' Aryo. Christie, don Hugo tetep ketawa dengan jumawa Gue narik rem tangan. Selang beberapa menit, mobil Aryo melintasi perempatan CSW, deket sekolahan kita. Kita udah beberapa menit diem-dieman, nyari topik buat di- abrolin tapi gak nemu-nemu. 'Eh,'kata Hugo seperti mau berbicara. 'Gak jadi deh.' 'Kenapa lu, Go' gue nanya. 'Kalo nama orang "Mbip"... me-menurut lo gimana' kota Hugo. Aryo langsung ketawa pas ngedenger "Mbip", si Hugo ngikik-ngikik sendiri. Gue ama Christie gak tau apa yang mereka maksud. Aryo sama Hugo sekelas, pasti ini becandaan internal kelas mereka yang gue engga ngerti. 'Mbip itu apa sih, Go' kata Christie. 'Jadi, Mbip itu nama anak cewek pindahan di kelas gue ama Aryo. Baru masuk minggu lalu. Tau gak' 'Gak tau, siapa' Gue bingung. 'Ada gitu orang namanya Mbip' 'Bukan bego, nama aslinya bukan Mbip! Kita berdua yang ngasih nama dia Mbip! Kaco banget anaknya!' 'Kenapa lo ngasih nama Mbip' kota Christie. 'Yaoh, soalnya... panjang deh ceritanya. Biar gak keiauan pas lagi ngomongin dia!' kata Hugo. 'Gila lo, Go. Ngegosipin orang.' 'Bukan, kita juga niatnya gak mau ngomongin dia,' kata Hugo. 'Tapi mau gimana lagi, orangnya aneh banget soalnya!' 'Emang gimana' gue penasaran. Hugo sama Aryo langsung ketawa-ketawa. Mereka lalu dengan brutal ngomongin Mbip. Mereka cerita, Mbip adalah siswa pindahan dari NTB, dan dia baru pertama kali dateng ke Jakarta. Sebenernya sampai sini sih biasa-biasa aja, kayak siswa-siswa pindahan pada umunya. Tapi, si Mbip ini orangnya polos banget dan gak pernah ke Jakarta sebelumnya. Kepolosan dia inilah yang mengundang tawa bagi Aryo dan Hugo. 'Lo harus tau dia ngapain,' kata Aryo. Mereka berdua lalu cerita tentang kepolosan si Mbip sehagai pendatang dari daerah. Di hari pertama Mbip masuk kelas, Mbip masih ngomong dengan logat kedaerahannya yang khas. Dia mem perkenalkan diri di depan kelas, ngomong layaknya pejuang kemerdekaan, dengan tangan dikepalkan ke atas. 'BETA BERNAMA " " ! BETA DATENG DARI NTB!' Satu kelas tertawa bingung, mau perkenalan atau mau membantai Belanda Maka, selama beberapa hari ke depan, topik yang dibahas dalam mobil si Aryo pun berkisar seputar Mbip. Hugo dan Aryo tetep hot dan update cerita keanehan-keanehan si Mbip dan kepolosannya yang mengundang tawa. Misalnya, cerita si Mbip yang ternyata make Rexona for Men dan dia bawa- bawa di tempat pensilnya. 'Pasti bulu keteknya keriting, sampe harus pake Rexona buat cowok!' kata Aryo. 'Engga lagi, dia gak mungkin pake Rexona,' timpal Hugo. 'Soalnya Rexona-nya meledak pas dipake sama dia! Hahahahaha,' Aryo dan Hugo juga cerita kalau anak-anak kelasnya berusaha keras mengajari si Mbip agar menjadi lebih "Jakarta". Maklum, dia kan dari da erah. Anak-anak kelas mereka bilang, 'Mbip, kalo ngomong ama anak-anak di Jakarta, ngomong nyo pake gue ama elo ojo. Inget yah, gua ama elo. Jangan pake beta-betaan atau aku-kamu lagi.' 'Oke, gua mengerti,' jawab Mbip pasrah. Eh, suatu hari, waktu lagi pelajaran olahraga, si Mbip bertanya pada guru olahraganya dengan gaya yang supermetal, 'Pak, Pak, mau nanya nih, NILAI GUA BERAPA' Gue yang diceritain sama Aryo sama Hugo cuman bisa ikut-ikutan ketawa. Jahat juga sih, menertawakan orang seperti ini. Bahkan Christie, yang dari berpikiran paling waras dan menganjur kan kita berhenti ngomongin orang, aja ikutan ketawa. 'Ih. lo sadar gak sih kalau beberapa hari Ini kita ngomongin orang itu terus' kata Christie pada akhirnya tetap mengingatkan. 'Iya sih, abis gimana. Kelucuan itu dio yang mengundang,' kata Hugo, si titisan Lucifer. Sejujurnya, selama obrolan ini, baik gue maupun Christie, gak pernah tahu sosok si Mbip sebenernya; mukanya kayak apa atau badannya gimana. Hugo koyoknya membesar-besarkan dengan mengatakan bahwa wujud fisik si Mbip itu seperti 'botol kecap dikasih wig' atau seperti 'bulu ketek yang tumbuh di atas ban kempes'. Sampai akhirnya, waktu jam olahraga, gue ngeliat dia sekelas, meskipun sekilas. kelihatannya dia cewek normal. Rambutnya emang keriting, tapi gak jelek-jelek banget seperti yang diklaim Hugo dan Aryo. Mbip terlihat seperti orang-orang pada umumnya. Namun, bagi Hugo dan Aryo, Mbip tetep aja kelihatan aneh. Salah satu cerita yang paling ekstrem terjadi pas pelajaran Sosiologi. Waktu itu, suasana lagi adem-ayem. Gak ada tanda-tanda akan datang- nyo hal yang mengerikan. Guru Sosiologi baru aja menerangkan materi untuk Ulangan Umum. Sang bapak guru melihot seisi kelas, dan berkata, 'Ada yang mau bertanya' Si Mbip tiba-tiba berkata dengan lantang, 'Gua mau tanya, Pak.' 'Ya, Mbip, silakan.' 'ARTINYA NGEN*** ITU APA SIH PAK' Guru Sosiologi bengong. Rupanya, Mbip mendengar kata tak senonoh itu dari seseorang dan gak tau artinya sampai akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada orang yang salah; guru Sosiologi. Untungnya, tuh guru bisa menjawab dengan diplomatis dengan 'Itu kata yong tidak baik, Nak," bukannya malah balik nanya, 'Mau saya jelasin di papan tulis atau saya contohi sama Rexona kamu' Waktu gue dan Christie diceritain sama Aryo dan Hugo soal tragedi Sosiologi itu, kita cuman bisa ketawa sampai air mata keluar dari idung. Bahan cerita Hugo tentang keanehan Mbip juga seakan gak ado abis-abisnya. Pas diajak jalan ke PIM, Mbip dateng pake sepeda dengan daster lah, atau pas diajakin anak-anak nongkrong di Gelanggang Olahraga (GOR] som pin g sekolah, eh Mbip malah bilang, 'Oke. Beta ajak tante dan adik- adik Beta dulu.' Ternyata, Mbip menyangka GOR ilu semacam Dufan. Pulang sekolah, Aryo berkata, 'Lo tau gak... hari ini kacau banget.' 'Kenapa' tanya gue. 'Iya, jadi si Mbip disuruh maju ke depan kelas. Dia disuruh bacain karangan singkat gitu ama guru Bahasa Indonesia.' Aryo melanjutkan. 'Eh, isinya kacau banget.' 'iya, iya tuh,' Hugo langsung nyamber. 'Dia bilang, waktu di NTB dulu temen-temennya baik- boik, gak pernah ada yang ngomongin dia. Kalau di Jakarta tuh anaknya jahat-jahat suka ngomongin dia semua.' 'Anjrit. Gila la.... Lo sih! Ngomongin orang sampe ketauan orangnya gitu!' Gue bilang ke Hugo. 'Iya, dia nyadar kalau dia diketawain kita,' kata Hugo. 'Eh! Dia nih, si Aryo! Dia sampe bikin MFC segala !' 'Apaan tuh MFC' 'Mbip Fans Club,' Aryo berkata pelan. Gue memajukan badan mendekat ke arah jok supir,'MBIP FANS CLUB Lu kira dia artis dangdut Ngaco banget lo!' 'Eh, si Hugo nih ketuanya!' Aryo sewot. 'Dik, jangan sambil grepe gue!' 'Sorry.' Gue refleks. 'Elu kali ketua MFC. bukan gue!' Hugo gak kalah sewot. Christie menetralkan suasana. 'Terus, pas dia bacain karangannyo gimana' 'Iya, kosian banget. Anak-anak satu kelos se mua pada diem pas Mbip bacain karangannya. Terutama kita sih, kan kita yang sering ngotain,' kata Aryo. 'Mampus lo.' Keesokan harinya, dateng kabar lebih parah I lagi. Si Mbip kabur dari rumah. Menurut kabar burung yang beredar (gak tau burungnya siapa), Mbip stres karena mendapat tekanan dari teman- teman di sekolah, sekaligus dari tantenya di rumah. Ternyata, di rumah dia juga d i perlakukan kurang baik sama tantenya. Si Mbip disuruh cuci piring la h, dimarahin terus lah. Guru Bimbingan Konseling sempet dateng ke kelas dan bertanya apakah ada yang tahu di mana keberadaan si Mbip, soalnya ibunya di NTB nyariin terus. Tapi, engga ada yong tahu. Teori-teori lain yang beredar, misalnya: jangan- jangan si Mbip salah ngambil bus terus nyasar ke Myanmor. Atau, jangan-jangan Mbip diculik alien kembali ke planet asalnya. Hugo malah men cetuskan teori yang paling ekstrem, dio bilang jangan-jangan Mbip sebenernya hanya khayalan kita doang, padahal kita semua tahu kalau Hugo ngomong gitu karena kebanyakan ngirup lem aibon. Kabar yang paling valid sih katanya si Mbip terdorong oleh stres dan mencari cara untuk pulang ke kampungnya, kembali ke emak dan bapaknya. 'Kita bakal kena karma,' kata Aryo, setelah toh u Mbip hilang. 'Ya, Kila bakal kena korma,'Hugo menanggapi. Ini gara-gara kita juga. Kita kan juga sering ngo mongin dia. Nertawain dia, Dia sampe kabur gini. KITA BAKAL KENA KARMA!' 'Iya ya Jahat sih lo,' Christie menanggapi. 'Hayo lhoo, Aryo,'kata Hugo, 'Enak aja,'Aryo ngebela diri. 'Elu tau, Ga, yang paling sering ngomongin dia!' Christie mengangkat tangannya, 'Lo berdua baka la n kena karma!' 'Lo juga bakalan kena karma tauk!' kata Aryo ke Christie. 'Eh enak aja lo! Kenapa gue juga kena' 'Kan elo dengerin cerita kito. Ketawa pula! 'Kalau Christie juga bisa kena karma.. BERARTI GUE JUGA KENA DONG' Gue yang dari tadi diem-diem aja mulai panik. 'Kita semua bakalan kena karma, bego! We ore so fucked vp.' KARMA Mbip akhirnya memakan korban. Spion Aryo hilang digondol maling ketika di parkir deket rumah gue. Gue jadi sering berantem ama cewek gue. Hugo tiba-tiba cacingan (waloupun kita curiga, kayaknya emang dari dulu dia cacingan). Hanya Christie yang kayaknya aman-aman aja, Tak ada kejadian aneh yang menimpa dirinya. Seminggu Mbip hilang, belum ada tanda- tanda dia akan ditemukan. Anak-anak mulai resah. Kutukan Mbip gak bakalan lekang kecuali dia di temukan. Makanya, Aryo dan Hugo ngusulin ikutan acara Tali Kasih, program TV yang mempersatukan keluarga yang lama menghilang. 'Iya Yo, loikutan Tali Kasih aja, terus lo nangis- nangis,'kata Aryo. 'Kalo Mbip mah, nama programnyaTALI BE HA! Ha ha ha,' kata Hugo. Gue ngebayangin di program Tali Beha itu, Aryo (dengan memakai beha) akan bilang ke pemirsa, 'Mbip pulang lah. Beha ini takkan kulepas sampai kau pulang. Sayang,' Gue berusaha ngembaliin Hugo ke jalan yang benar. 'Parah lu, Go. Udah ilang gini masih di- katain. Ntar kena karma lagi, Goblok! Hugo menelan ludah. Eh, bener aja. Begitu kita ngomongin Mbip dan ikutan program Tali Beha. mobil yang kita tumpangi kena tilang di perempatan deket sekolah. 'Kena karma lagi!' kata Aryo yong baru ngasih lima puluh ribuan ke polisi. Sejak saat itu, hampir semua kejadian sial yang kita alamin selalu dikaitkan dengan Mbip. Band gue gagal lulus audisi, gara-gara Mbip. Nilai sejarah gue jelek, gara-gara Mbip, Hugo mulutnya Bau bangkai orangutan, gara-gara Mbip Kita sampai ngebayangin, karma Mbip engga berhenti hanya sampai di sini. Kita takut banget Mbip jadi psikopat dan nasib kita tamat kayak di film I Know What You Did Last Summer atau Scream kita berempat harus lari-lari dari kejaran Mbip Dia akan membantai kita satu per satu, mungkin Hugo duluan (tanpa alasan yang jelas, gue seneng aja kalo dia dibantai duluan). Mbip juga bokalan punya senjata sendiri. Tau kan, senjata-senjata yang dipakai penjahat di film-tilm thriller itu pasti selalu khas. Mulai dari hook-nya I know What You Did Lost Summer sampai ke chainsaw-nya film Texas Chainsow Massacre. Gue ngebayangin Mbip bawa-bawa sepeda yang dia pakai ke PIM dengan dasternya itu, dan muka kita satu per satu dilindes ampe mati. Dan akhirnya, yang nyisa dari kita berempat cuma gue, yang saat dikejar-kejar oleh Mbip dan dasternya, gue sempat menatap dalam matanya dan bilang, 'Kamu dulu orang baik, Mbip. Orang baik.' 'Beta tidak peduli,' Mbip berkata sambil mem perlihatkan gumpalan daging di tangan kanannya. 'Apa itu, Mbip' 'Ini pantat kiri Aryo. Satu-satunya yang bersisa dari Aryo setelah Beta lindes dengan sepeda gaul Beta.' Gue nangis kejer dan berteriak dengan penuh amarah. 'Tidaaaaaaak! Terus, gue nanti pulang nebengnya sama siapa Sama siapaaaa!' Karma Mbip yang paling parah yang dialami oleh Hugo dan Aryo terjadi waktu kita bertiga janjian nonton film 5 Sehat4 Sempurna. Berhubung sebelom nonton gue pengen pacaran di rumah cewek gue dulu, jadi gue suruh Hugo dan Aryo untuk nunggu duluan di rumah gue. 'Gok pa-pa nih kita berdua dateng tapi gak ada elo-nya' kata Aryo di telepon. Mereka emang sering maen ke rumah gue, tapi gak pernah dateng berdua-duaan sendirian kucuk-kucuk kayak pasangan homo kurang makan sayur. 'Gak pa-pa. Lo tunggu aja, gue mo pacaran dulu,' Mereka pun dateng duluan. Pembantu gue yong bukain pintu bilang, 'Maaf, Dek. Tapi, kalau Abang Dika-nya lagi gak ada, gok boleh masuk ke dalam rumah.' Tapi,' kata Hugo sok keren. 'Si Dika nyuruh kita ke sini duluan.' 'Oh gitu ya' 'Iya, Mbak! Iya!' Aryo, dengan rasa setia ka wan yang tinggi, mendukung. Begitu mereka masuk kamar, Hugo nyalain PS 2 gue, sedangkan Aryo tidur-tiduran di tempat tidur. Kalou ada gue, mereka emang biasa seperti Semuanya baik-baik saja, sampai tiba-tiba bo- kap gue masuk kamar. Bokap gue, yang kayaknya lagi stres berat, masang tampang sangar. Gak tau deh kenapa, ada masalah dengan pekerjaan ata u jangan-j a ng an celana dalam favoritnya dicopet orang. Bokap gue kalau lagi asi k emang asik-asik aja, tapi kalau bate jadi sangar. Namanya juga batak; tinggi, gede, udah gitu kumisan lebat pula. Begitu bokap buka pintu, dia langsung ngeliat Hugo yang duduk di lantai sambil megang stick PS gue. Bokap emang baru pertama kali ngeliat Hugo, yang item-item gak jelas itu. Bokap shock sambil spontan teriak, 'OH!' Mungkin dia kaget ada gumpalan upil bisa main Playstation. Hugo ngeliatin bokap. Bokap ngeliatin Hugo. Bokap diem, lalu seolah-olah tidak ada apa- apa yong terjadi, dia beranjak menuju lemari baju gue (ada beberapa baju bokap yang disimpen di sana). Begitu bokap ngelewatin tempat tidur, dia ngeliat Aryo yang lagi tengkurep di atas tempat tidur, Bokop teriak lagi, 'OH!' Aryo, sebenernya masih hidup, tapi dia lagi pura-pura mati. Dia diem oja tengkurep, gak bergerak Tadinya dia mau kentut sekalian, biar disangkai bangkai tikus raksasa. Tapi gak keluar- keluar. Bokap diem sedikit lama. Aryo masih pura-pura mati. Hugo mulutnya masih mangap. Akhirnya bokap mengambil baju dan keluar dari kamar. Sela n g beberapa menit kemudian, pembantu gue dateng dan bilang ke Hugo dan Aryo, 'Dek! Kata Bopok, adek disuruh pulang, nanti saya yang kena marah! Aduh, mendingan pulang sekarang.' Tanpa banyak nasi basi, mereka langsung cabut TIGA tahun berlalu... Sampai saat itu, tiap tahun gue masih dapet SMS dari Hugo: FROM:HUGO Memperingati perayaan tahunan hilangnya Mbip. Semoga dia cepat d it emu kan pihak gang berwajib. Nyalakan hio sebagai tanda keprihatinan. Setelah tiga tahun itu, gue bertemu kembali dengan Aryo di Universitas Indonesia. Dia udah kuliah di Fakultas Ekonomi, dan soal itu lagi jalan bareng gue menuju mobilnya. Sesampainya di dalam mobil, pembicaraan tentang Mbip tidak terelakkan, 'Gimana, dia udah ketemu kan ya' gue na-nya 'lya, katanya sih di Semarang. Sekolah di sana,' 'Baguslah. Udah gak kena karma kan lo' 'Lo liat mobil gue' tanya Aryo. 'Kenapa' liat tuh radionya.' kata Aryo sambil menunjuk ke arah dashboard mobil. 'Radio' Gue berkata heran. 'Gak ada rodionyo tuh.' 'NAH, ITU DIA! Minggu lalu, di parkiran ini, kaca mobil gue dipecahin dan radio gue digondol orang.' 'Yo, dosa lama emang susah ilang.' Gue ngo mong dengon iba. Ketika gue menebeng kali ini, kita sama-sama diem. Itu Tadi Manusia, Bukan http:''seven.jw.lt berdiri di depan dua pintu, satu kebuka dan satu ketutup. Tanpa banyak basa-basi, gue masuk ke pintu yang lagi kebuka di sebelah kanan, Saat itu r gue berada di dalem salah satu WC di Sekolah Tingkat Tinggi Telkom Bandung, tempat gue akan sharing pada acara Latihan Penulisannya penerbit Gagas Media. Gue memerhatikan keadaan sekeliling. WC itu berlantai biru, bersih, dan terdiri dari banyak staff (kotak kecil yang ada jambannya). 'WC-nya bersih banget,' gue menggumam. Bukan gumaman yang wajar, memang. Karena kebelet boker, gue langsung masuk ke dalam salah sotu stall dan menutup pintunyo rapat-rapat. Selesai menuntaskan tugas suci itu, gue bersiap-siap untuk membuka keran air. Pikiran gue sih simpel aja: abis boker, buka pintu, keluar dari WC, lalu langsung sharing di depan kelompok mahasiswa STT Telkom yang sedang menunggu. Namun, Tuhan berkata lain, Di sinilah di mana segalanya bermula. Tiba - Tiba begitu gue mau keluar daristall, gue mendengar suara orang cekakak-cekikik masuk ke dalam WC. Cekikikan itu berlangsung beberapa saat. Ternyata, gue baru nyadar, itu adalah suara anak-anak cewek! Gue sempet menepis pikiran itu, tapi, salah seorang dari mereka mulai bergosip, 'Jadi yah, cowok yang gue temuin kemarin itu...', yang langsung disambut dengan antusiasme tingkat tinggi, khas cewek kalo lagi gosip, oleh teman- temannya. Wah, bener,.. cewek semua. Mereka cekikikan lagi. Gue, yang masih ada di dalem stall bengong. Sejurus kemudian, gue berpikirdan jerit da lam hath AN J RIT, INI TERNYATA WC CEWEK! Astaganagabonarjadidua. Mampus gue. pintu WC, harusnya gue ambil pintu yang kiri, mungkin itu WC cowoknya. Mampus, karena gue buru-buru masuk pintu WC yang kebuka, jadinya gue terperangkap di WC cewek begini. Harusnya gue tahu, WC cowok gak mungkin sebersih ini. WC cowok di mana-mana lebih pesing, lebih bau, dan lebih mirip danger zone dibandingin WC-WC cewek. Apalagi pas talkshow ke luar Jakarta, temen gue nakut-nakutin, bilangnya kalau mau make WC cowok di Tasikmalaya, kaki gue harus nangkring satu ke depan nahan pintu karena pintunya gak bisa dikunci. Mou boker apa yoga Oke. Gue nampar diri gue sendiri. Pikiran gue harus jernih, gue lagi terjebak dan gue harus nemuin solusinya. Semua pasti ada jalan 'Lu takut gak sih sama hantu salah satu cewek membuka percakapan. Gue ngedengerin sambil jongkok. 'Ih, hantu tuh gak ada lagi.' kato cewek yang diajak ngobrol, suaranya lebih berat. Temen-te- mennya langsung menimpali. Pembahasan mereka sekarang Tentang hantu. Salah satu orang, sambil bawa-bawa Tuhan, bilang hantu itu gak mungkin ada karena Tuhan gak menciptakan hantu. Gue, yang masih terjebak di dalem stall, gak peduli soal hantu. Yang gue peduliin cuma satu: gimana caranya bisa keluar dari sini... hidup-hidup. Kalau gue keluar saat ini juga, bisa-bisa mereka jejeritan. Gue bisa mati dicakar ramai-ramai. Sa lah-salah, gue bisa disiram bensin dan dibakar hidup-hidup. Gimanapun caranya, gue harus mikiri n rencana keluar dari WC ini. Pilihannya macem-macem: 1) Diem aja nungguin mereka sampai sepi, 2) Gue keluar, nyelipin gayung ke balik baju, dan bilang ke mereka, 'Hai! Jangan takut, gue cewek kok! Tete gue emang kotak sebelah!' 'Lu tuh semua pada salah,' kata salah salu cewek di luar. 'Masa yah....' Mereka mulai bergosip lagi. Gue gak ahli dalam menghilang jumlah cewek hanya dari mendengar suaranya, tetapi perkiraan gue mereka ada belasan orangkurang dari 15 mungkin. Suara yang gue denger hampir selalu beda-beda, tapi ada satu suara dominan yang agak berat yang mengatur jalannya percakapan. Mungkin dia ini pentolannya para cewek-cewek itu. Tipe yang jadi leader te- men-temennya dan mengatur jalannya bergosip. Sebentar-sebentar, mereka ngobrol tenlang hal-hal yang berbau mistis. Lalu, topik berganti menjadi film terakhir yang mereka tonton. Terowongan Cosablanca itu film yang terakhir gue tonton,' kata salah salu cewek. 'Bagus gak' tanya temennya. 'Hantunya serem banget.' Si cewek berkata dengan penuh nada seorang expert. 'Ih, gue suka takut tidur sendiri kalau abis nonton film kayak gilu.' 'Gue juga! Gue juga !' temennya menimpali. Gue, yang masih dalam posisi jongkok, cuma bisa berharap ada hantu buat ngusir mereka semua. Gue ngeliatin jam, udah sepuluh menit dan gue masih kejebak di sini. Gak nyangka, cewek kolau ngobrol di WC ternyata lama juga. Selama Ini gue suka heran kenapa cewek kalau ke WC selalu pengen bareng-bareng dan selalu ngabisin banyak waktu di WC, rupanya ini toh sebabnya. Kenapa mereka gak bisa kayak cowok aja sih, yang ritual WC-nya gampang-gampang aja: masuk, tuntaskan, keluar. Gue gak pernah ngajak temen cowok gue untuk 'pergi ke WC bareng yuk' lalu ngobrolin masalah rambut kayak 'Ih, rambut gue bagus gak kalau dibotakin tengahnya doang gini' atau gosip-gosipin cewek yang emang gak penting- penting amat. Setelah membahas soal hantu, Tiba-tiba he ning. Gak kedengeran suara lagi. Kenapa diem, gue juga gak tau. Tapi gue berharap banget, itu artinya mereka udah puas bergosip dan keluar dari WC. Gue pun bersiap-siap keluar dari WC, nyalain air keran buat cuci Tangan. Airnya keluar deras, bunyinya CRUUUSSSSSSS... Nggak nyangka, tuh anak-anak cewek masih di dalem WC. Mereka semua langsung teriak histeris berbarengan 'AAAAAAHHHHHHHHHHH! SETAAAAN!!! ADA SFTAAAAAN!!' lalu berbon dong-bondong keluar.' ASTAGFIRU LLO H!!!' sa la h sa tu orang masih menjerit kayak orang gila. Gubrak- gubrak-gubrak, mereka lari ke luar ramai-ramai. Salah salu cewek, saking ketakutannya, sampe kedengeran bunyi napasnya. 'APAAN TUHI ITU APAAAA!' satu orang yang udah di luar WC histeris. Sisanya masih pada Jerit- jerit. 'KYAA! KYAA!' Gue shock, dengan refleks mematikan air. Gue yang lagi jongkok juga ikutan kaget hampir-hampir kepeleset jatoh ke depan nyundul pintu. Hening. Mampus gue. Sebenernya, emang wajar aja kalau mereka kaget banget. Bayangin aja, di dalem WC cewek, lagi ngomongin hantu, tiba-tiba ada air nyala sendiri dari salah satu stall. Pantesan aja mereka ngira ada setan. Mereka semua ribut di luar, beberapa dari mereka ada yang bertanya, 'Itu suara apa Kok bisa bunyi sendiri Jangan-jangan... ' Mereka bikin asumsi-asumsi yang nggak perlu. Karena masih terbawa-bawa pembicaraan tentang hantu, satu orang berkata, 'Tau nggak, itu artinya hantunya marah karena kita bicarain dia!' Temen-temen lainnya, mendengar itu, langsung merasa menyesal. 'Gimana dong Kalau hantunya udah marah gimana' 'Minta maap! Biasanya di Film-film itu minta 'Iya, ilu tandanya dia mau diajak komunikasi,' kata salah satu cewek sotoy. 'KITA HARUS MINTA MAAF SAMA HANTUNYA!' Gue, yang dengar pembicaraan mereka dari dalem sfaff, makin gak bisa ngomong. Iyalah! Kalau gue buka pintu WC ini dan bilang, 'Gue bukan hantu', kemungkinan gue bakalan disiram bensin karena dianggap oknum lelaki-hidung-belang- yang-sembunyi-di-WC-cewek. Gue harus milih: 1) Diem aja terus, atau 2) Ngaku kalau gue bukan hantu tapi ada risiko dianggap tukang intip. Gue milih diam aja. Beberapa saat kemudian, satu orang wakil dari cewek-cewek itu masuk kembali ke dalam WC Si cewek yang suaranya berat, pentolan semuanya itu, teriak keras-keras, 'HAI' SIAPA ITU MANUSIA, BUKAN!' Gua diem. ' ITU TADI MANUSIA, BUKAN!' Si pentolan ber tanya lagi ke dalam WC. Temen-temannya ramai berbicara di luar, mungkin memberikan se mangat moral kepada si pentolan. Beberapa dari mereka bilang, 'Awas kesambet!'. Gue masih diem. Mereka ternyata bener-bener nyangka in gue hantu. Gue pengen ngeluarin suara 'meong', pura- pura jadi kucing, tapi kucing mana yang bisa berak di WC manusia Gue pernah nonton sih film dokumenter tentang onta yang dilatih untuk memakai WC manusia, tapi gue gak gak bisa niruin suara ontq. Gue masih diem aja, menunggu sampai si cewek itu keluar. Untungnyq, si cewek ini gak pu nyq keberanian untuk datengin staff-nya satu per satu. Sementara keringet dingin gue udah keluar deras. Mampus banget. Gue gak tau lagi harus bagaiman 'HAI, KAMU YANG DI DALAM,' kata cewek yang tadi sambil teriak-teriak sarap. 'KAMI MINTA MAAF!' 'Iya, minta maaf aja,' timpal cewek yang lain 'Kalau enggak, salah satu dari kita bisa ditempel tuh! Minta maaf lagi!' Gue makin dilema. Gue pengen teriak, 'Oke! Dimaafin! Sekarang pergi jauh-jauh! Oh ya, taro lima puluh ribuan di depan pintu, nanti gue mo makan masakan Padang.' Tapi, masih takut dikeroyok. Beberapa menit berlalu, udah gak kedengeran suara lagi. hening. Sekali lagi, gue nyalain keran buat cuci tangan, tapi begitu gue air kerannya ngocor, terdengar su ada teriakan lagi 'AAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!! PERGI! PERGI, TERKUTUK!!' Rupanya, mereka masih bergerombol di pintu WC. Sekali ini mereka terdengar berbondong-bondong lari menjauh seja uh-jauhnya dari WC. Gue yakin mereka udah kabur dan ketakutan banget sekarang. Gue keluar dengan hati - hati. Gue berjalan ke luar WC seolah gak terjadi apa-apa. Gue ngamatin daerah sekitar, sambil nyari gerombolan mana yang tadi ngumpul di WC itu.Kira-kira salu meter di depan gue, di depan sebuah kelas, ada gerombolan cewek-cewek berjilbab putih yang sibuk kasak-kusuk. Jangan- jangan ini, pikir gue. Begitu gue mendekat, suara cewek yang gue kenalin, yang terdengar berat ilu berkata pelan namun kedengaron di kuping gue, 'Lho Kok ada orangnya' Gue memandang mukanya dengan malu, MAU muter balik lapi takut nanti malunya lebih kentara. Dia melihat ke mata gue, dan memberikan pandangan seolah memahami sesuatu, 'Oh, begini doang hantunya' Sementara gue berharap, gak ada yang bawa bensin di antara mereka. Pertanyaan untuk Tabib Di bawah ini adalah beberapa tulisan gue di rubrik Tabib Bukune yang dimuat di majalah Buku- ne majalah perbukuan anak muda. Intinya sih, gue pura-puranya jadi Tabib dan menjawab per tanyaan - pertanyaan yang membuat orang-orang gundah gulana. Beberapa orang ngirimin e-mail be rupa pertanyaaan ke gue r dan gue (sebagai Tabib) jawab dengan goblok. Enjoy! Ada Cabe di Gigimu Tabib-tabib, kenapa ya orang kalo makan cabe suka nyelip di gigi gitu ya Heran ikh- Hoho. Kenapa ya Tabib Jawab ya! Chelly From Hell, Jakarta Tamanku Chelly, Fenomena cabe nyelip di gigi itu tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah penyakit. Ya, penyakit ini dinamakan oleh dunia kedokteran sebagai Cabetitis Nyelipis. Biasanya orang yang mengidap penyakit ini tidak tahu gejala- gejala awalnya hingga udah masuk stadium akhir. Kalo sampe ada cabe yang nyelip di gigi, biasanya dia udah masuk stadium IV dari penyakit Cabetitis Nyelipis ini. Kalo udah masuk stadium IV, wah susah sembuh tuh! Tapi tenang aja, jika masih dalam stadium I (masih biji cabe yang nyelip), pasien bisa diobati dengan cara meminum aspal (cabenya ilang, giginya juga ilang!). Oh ya, penyakit ini, konon jika tidak segera diobati, bisa semakin parah. Contoh kasus di Siberia, ada orang yang bahkan penyakitnya berkembang menjadi Bangkutitis Nyelipis. Penyakit seperti apa itu Ciri-Ciri gejalanya: kamu setelah makan cabe, tiba-tiba bisa ada bangku nyelip di gigi kamu. Makanya, kamu harus berhati-hati, Chelly. Semoga ini membantu kamu. Ngangkang Mulu sih Gue paling benci duduk di samping cowok. Sempit. Kenapa, sih, mereka kalau duduk selalu ngangkang Nggak bisa rapat dikit Goshinta, Depot Kamu sangat tidok sensitif. Anak Muda! Bogaimana kalau ternyata dia yang kamu sebelin itu, emang gak bisa duduk rapet karena dia punya kelainan pada struktur tulangnya yang menyebabkan dia selalu ngangkang setiap saat setiap waktu Jadi, kebayang kan gimana dia berjalan Setiap hari harus berjalan dengan gaya kepi ting, diliatin ama orang-orang! Apalagi kalau dia lagi jalan-jalan ke daerah pertambakan terus ditombak gara-gara disangka siluman kepiting Bayangkan perasaan dia. Anak Mu da! Bayangkan! Nah, kalau lain kali kamu sebel sama orang gara-gara dia suka duduk ngangkang, coba kamu tanyakan pada diri kamu sendiri, apa yang membuat mereka ngangkang. Hargai perasaan dia. Hidup ngangkang! (Tabib emosi, soalnya Tabib paling demen duduk ngangkang.) Pantat Monyet Tabib, gue bingung, deh. Segitu bebulunya monyet, kenapa pantatnya nggak Tahu. nggak Dissa, Jakarta Kamu pasti jarang ikut pelajaran IPA di sekolah, ya kan Masa kamu gak tahu alesannya Nih, coba kamu pikir-pikir, para profesor itu suka berpikir dengan keras, makanya palanya botak. Nah, monyet itu berpikir dengan pantatnya, makanya pantatnya botak. Struktur tubuh monyet itu memang berbalik dengan manusia, di mana otak besar mereka ada di pantat, jantung ada di udel. dan saluran pembuangan lewat ketiak. Mungkin tidak semua percaya, tapi Tabib telah membuktikannya dengan mata kepala sendiri, Ya, Tabib pernah menyaksikan proses kelahiran bayi monyet dori hidung (oh iya, monyet melahirkan melewati hidungnya!. Sung guh, itu adalah proses alam terindah yang per- nah Tabib lihat. Menyaksikan dengan napas tercekat bagaimana kaki-kaki bayi monyet yang kecil itu keluar dari idung kiri sang ibu. lalu bulu-bulu idung yong masih nempel pada bayi monyet, wow, sungguh pengalaman yang membuat kita bersyukur kita menjadi makhluk hidup. Begitu mengharukan, Keep on learning, Dissa. Buku vs Gorengan beberapa Minggu ini, kan, lagi banyak diskon buku. Nah, itu gue jadiin ajang menghabiskan tabungan gue. Tapi, setiap pulang ke rumah, nyokap gue pasti marah-marah. Ribut, 'Buku melulu, buku melulu!-' Padahal, buku kan gudang ilmu. Dok'. Seinget gue, akhir tahun ini bakalan ada ajang diskon buku gede-gedean lagi. Kalau diem-diem gue selundupin, juga nggak enak, deh, kayaknya. Gimana, ya, menyiasatinya Bidin, Depok Bidin yang doyan buku, Emang susah banget kalo kamu udah niat setengah idup bual beli buku, eh malah d i mara i n ama nyokap. Sungguh membuat hati merana dan nestapa. Tapi, kamu jangan takut dan jangan kentut! Tabib Bukune siap membantu kamu! Untuk masa lah kamu, solusi nya gampang ba nget: habiskan duit kamu untuk gorengan. Ya, tiap ada tukang gorengan lewat, kamu beli deh berilusi n -lusin. Kala perlu beli tukangnya sekalian! Nah, kalo udah beli gorengan yang banyak, pasti nyokap bakalan bilang 'Beli gorengan melulu-gorengan melulu'. Waktu nyo kap ngomong begitu, kamu langsung bales aja ngomong, Ya udah, Ma, Walapun gak rela..., kalo gitu aku balik beli buku aja deh'. Baru deh kamu abisin duit kamu buat buku! Welcome to the jungle. Daun Muda Beberapa bulan lalu gue kenalan ama cowok. Umur dia jauh di bawah gue, ya kira- kira beda enam tahunan gitu deh. Gue akuin, pas pertama ngeliat dia, gue suka. Abis tuh anak cute banget sih. Tapi sukanya gue bukan naksir lho. Akhirnya, gue jadi deket ama dia dan kayaknya dia suka ama gue. Itu terlihat dari cara dia memperlakukan gue, padahal gue cuma anggap dia sebagai ade Gue udah kasih pengertian ke dia, tapi dia tetep kekeuh. Gue mesti gimana iagi dong nih Avie, Jakarta Avie, teman pedofilku, Kamu lupa ngasih tahu umur kamu. Tabib menyimpulkan, dari ciri tulisanmu, sepertinya kamu itu berumur 55 tahun. Ya, untuk nenek- nenek kayak kamu, ta bib merasa kamu sah-sah saja untuk berpacaran dengan om-om berusia 49 tahun (katamu, bedanya enam tahun kan ya). Kamu juga sah-sah aja menganggep dia (om- om itu) sebagai adek, dan mungkin saja om- om tersebut juga menganggap kamu sebagai kakak. Jangan kayak orang siapa tuh, yang pedekate terus gak taunya malah dianggap seperti tukang kebon sendiri! GAK ADA YANG MAU PAS PEDEKATE MALAH DIANGGAP SEBAGAI TUKANG KEBON! Ups,sori. Tabib sedikit emosi. Pengalaman pribadi. semoga berhasil. Kucing Gua Kenape Tabib, gue punya kucing jantan, nomanya Noodle. Dia lucu sekali, warnanya putih abu. Tapi dia mukanya tiis banget, gak ado ekspresi lah... kenapa ya Mia Utami, Jakarto Ini jelas kamu yang salah! Kucing malah dikasih nama makanan, ya stres lah! Coba, kalo emak kamu ngasih nama kamu Combro ato Pete Ijo, pasti kamu bete kan Bayangkan kamu tiap lagi absen di sekolah terus guru nanya, 'Ada Pete Ijo Pete Ijo ada gak Peteee' Pete ijo mah di pasar, bukan di sekolah. Nah, untuk kucing kamu, janganlah kamu kasih noma Noodle. Kasian banget. Pasti kamu kasih nama dia Noodle gara-gara Noodle komu bodong ya (eh itu mah udel ya!) Eniwei, coba kamu kasih nama kucing kamu yang agak ganteng dikit gitu, Kayak Alexander atau Gregorian. Cepet-cepet ganti nama kucing kamu sebelom dia memutuskan bunuh diri dengan kebanyakan makan ikan asin. Oke Salam cilukba muach. TTM vs HTS Hallow. Tabib yang Jenius (bener nggak yaw!!). Masalahnya aku ada banyak ba nget hal yong susah dimengerti. Salah satunya TTM dan HTS. Tabib setuju nggak sech dengan TTM don HTS-an Kok orang-orang pado mau, ya dijadikan status nggak jelas ilya ChiE-QeeL, Jakarta Halo temanku yang cihui, Emang, Jujur, Tabib harus akui, sekarang banyak sekali orang yang TTM dan HTS. Tabib paling gak suka sama TTM, yang jelas artinya tuh Teman Tapi Morotin. kan Itu sangat berbahaya sekali. Terutama kalau kamu berteman dengan dukun sunat. Mereka hobi banget morotin celana (jelas, tuntutan profesi). Tabib juga pernah TTM, temenan soma dukun sunat. Susah banget. Pusing tujuh keliling. Dikit- dikil morotin. Tabib lebih senang HTS, Hubungan Tanpa Senter. Menurut Tabib, HTS itu sangatlah normal. Dua orang yang saling mencintai memang sama sekali tidak memerlukan senter untuk menjaga cinta mereka. Kalau ada senter ya bagus, gak gelap kalo mati lampu. Kalau gak ada senter, so what Temanku, mungkin kamu masih terlalu muda untuk tahu ini, tapi ketahuilah, cinta kamu akan abadi dengan atau tanpa senter. So, mulailah HTS dari sekarang. Piss, love, and kayang! Gempa! Gempal Tabib Bukune, semenjak Indonesia dinya takan sebagai negara yang rawan bencana terutama gempa, gue tadi takut masuk ke dalam gedung-gedung bertingkat. Fobia ini dimulai sejak bulan Juli, setelah gempa Jogja. So far, sih. fine-tine aja. Soalnya lagi libur kuliah. Masalahnya, sebentar lagi kan dah mulai semester baru,- kampus gue tingkat delapan. Dan, fakultas gue ada di lantai enam. Gimano dong NN, Jakarta Berhenti kuliah! Jangan ragu-ragu lagi. Segeralah kamu berhenti kuliah. Mendingan kamu kumpul in duit dari temen-temen kamu, cari investor, dan buka usaha laundry. Inget, dengan membuka usaha laundry, kamu bisa mendapatkan tempat yang tidak harus di gedung bertingkat. Hidup cuci-mencuci! Ngupil Gaya Baru Seumur rdup. gue selalu liat orang ngupil pake telunjuk, kenapa ga ada yang pake kelingking padahal kan kelingking dari bentuknya lebih imut jadi lebih leluasa dong. Kenapa ya Nanien Yuniar r Jakarta Hmmm, Tabib sebenernya juga heran ba nget kenapa orang ngupil gak ada yang pake kelingking. Tapi, Tabib lebih heran lagi kenapa gak ada orang yong ngupil pake jempol! Padahal, sejak Tabib ngupil pake jempol (kiro-kira 46 tahun yang lalu), Tabib merasakan efek yang sangat dasyat. Lubang idung lama-kelamaan akan membesar. Kalo lobang idung membesar, arti nya apa Ya, betul sekali, Nanien. Artinya kamu gak harus ngupil untuk mengeluarkan upil! Begitu lubang hidung kamu sudah permanen membesar, setiap ada upil, dia akan keluar dengan sendirinya., blooooooooos... jatoh dari idung kelante. Dan, kamu tidak akan perlu ngupil lagi seumur idup kamu! Maka, mulailah ngupil dengan jempol sekarang juga. Oh yo, kalo mo seru, coba deh ngupil pake jempol kaki. Menantang sekali! Adiknya Tabib pernah nyoba, dan sekarang dia jadi pemain sirkus! Wow! Ternyata mengupil bisa mengubah jalan hidup kita! Hidup ngupil! Dua Pertanyaan Untuk Tabib Alow, Tabib. Mau nya nih. Bib. Katanya tambah bingung. Gue jadi penasaran nih jawaban bingung dari tabib. Pertanyaannya: 1. Sebenarnya, tujuan kita hidup itu apa sich Perasaan dari dulu gue ngetakuin hal itu- itu aja, tanpa ada tujuan yarrg pasti. Pasti tujuannya semu dan nggak abadi gitu, deh! 2. Terus, ada pepatah 'Orang besar = orang gendut', Bener ga Soalnya, gue mau jadi orang besar dan ngambil filosofi ini. Thanks ya u' jawabnya.' Sehva Al-Farouk, Cirebon Oke deh. Langsung dijawab aja ya, 1. Tujuan hidup kita tentu saja ketemu Slank. Gak percaya Tabib melihat dengan mata kepala sendiri sewaktu ada seorang fans yang ketemu Slank, dia langsung teriak, "Ini tujuan hidup sayaaa... TUJUAN HIDUP SAYA!" Dia lalu pingsan. Tadi itu adalah salah satu teori. Tapi, karena Tobib penasaran sama pertanyaan kamu, Tabib akhirnya memutuskan untuk melakukan riset Ilmiah (cailah). Tabib pun melakukan survei, bertanya kepada orang-orang dengan pertanyaan: Apakah tujuan hidup ini r Survey ini Tabib lakukan di kawasan ku muh di timur Jakarta, di mana semua orang compang-camping dan harus makan sendal goreng untuk bertahan hidup. Dari 100 orang yang Tabib tanyakan apakah tujuan hidup ini! Tabib mendapatkan hasil, 80% orang menjawab, "Pak. Uang Pak, sudah lama tidak makan. Pak." Nah, itulah jawaban kamu! Survei mem- buktikan. tujuan hidup ini adalah "Pak, uang Pak, sudah lama tidak makan. Pak." 2. Wah betul sekali, orang besar memang orang gendut. Tapi kamu jangan sampai takabur! Temennya Tabib, saking pengen- nya jadi gendut, dia sampe nahan pup tiga tahun. Hosilnya Dia emang beneran jadi gendut (gendut karena pup. bukan karena lemak). Topi, beberapa hari setelah itu dia meninggal. Bukan karena gendut tadi, tapi karena ditabrak bajaj waktu lagi nyebrang. Cucian deh. Gimbot Bikin Pusing Sejak berhenti bekerja, nyokap gue jadi keranjingan maen game di HP. Awalnya, sih, buat iseng-iseng, lama-lama dia Terobsesi untuk mencapai level yang lebih tinggi. Setelah berhasil, dia mencari game lain. Sekarang, sasarannya Game Boy adik gue. Gue nggak ada masalah dio mau main game atau nggak. Tapi, saat main, perhatian nyokap cuma ke gome. Sering nggak mau diajak bicara. Kalaupun mau, nggak menyimak apa yang kita omongin. Menurut gue, dia juga harus tahu waktu. Nggak sehat, gitu loh, main sepanjang hari. Gue sama adik gue aja nggak gitu-gitu amat. Gimana, ya, sebaiknya ngomong ke nyokap Tegar, Jakarta Mungkin Ibu kamu kebanyakan nonton iklan. Inget gok kata-kata "Main gimbot bikin pusing Dulu gembrot sekarang bunting." Nah itu dial Menurut Tabib, kayaknya nyokap komu itu terobsesi untuk bunting dengan cara bermain gimbot. Mengenai kecanduan ibu kamu. solusinya mudah sekali, yaitu: Tegar! Seperti nama kamu. Tegar, jadi kamu pun harus tegar! Bogor aja bisa Tegar Beriman, masa kamu gak bisa tegar, Tegar Bisa tegar gak, Tegar (harus diakui, pada tahap ini, Tabib pusing ngebaca nama kamu). Gundul Kok Nyebelin Dear Tabib, Gue punya temen sekelas nih. Dia cowok gundul, pinter, ganteng, tajir, dan nyebelin. Sebelum-sebelumnya, gue juga punya temen gundul dan mayoritas nyebelin. Kenapo ya Tabib nggak gundul kan Soalnya, tabib kan baik bati geetttooo. NinoSapikura, Jakaita Halo temanku yang lugu. Orang gundul memang tergolong orang yang nyebelin. Jelas aja, mereka nyebelin karena mereka merasa untouchable. Mereka merasa untouchable soalnya mereka punya senjata ampuh kalo ada orang yong macem- macem ama mereka: kegundulannya. Adalah bukti medis bahwa orang gundul itu kalo nyundul lebih sakit daripada sundulan arang non-gundul, Nyebelin dikit, pasti disundul. Saran Tabib, kamu sebaiknya mengalah dan menuruti apa yong temen gundul kamu mau. Koreno, kalau kamu gak hati-hati, kamu bisa dimusuhin oma dia. Nah, kalo udah dimusuhin, bisa-bisa sewaktu kamu lagi beli batagor di kantin, kamu bakalan disundul dari belakang ama dia. Jangan-jangan kalau nanti kamu naik bajaj, bisa-bisa pintu bajaj itu disundul sampe penyok sama si temen gundul kamu. Menyeramkan! Dalam dunia perbukuan, buku-buku psiko logi modern seperti Menyiasati Orang Gun dul, sangat menyarankan kamu agar tidak bersitegang dengan orang gundul. Kabarnya, penulis buku tersebut pada akhirnya diprotes oleh POGSI (Persatuan Orang Gundul Seluruh Indonesia) dan mati karena ramai-ramai di sundul oleh sekitar 20 orang gundul di Jakarta. Seperti dikutip berita, di mayatnya ditemukan bekas-bekas 'hantamon kepala tumpul'. Ih, pasti sakit Pikirkan masa depan kamu. Salam gaul. Aku m o u nonya nih soma kamu, mengapa bonyok manusia yang hampir serupa de ngan monusra lainnya bahkan mirip sekali entah wajah, perihku, atau kehidupannya, too gak kenapa Kira-kira Tabib mirip sapa yo Hmmm... Arie Afriial, Jokorta HaloArie, Tabib juga saring kok dimirip-miripin oma orang. Waktu ilu pernah orang sekampung (Tobib memang tinggal di kampung) pernah mirip-miripin Tabib sama Aniasmaro. Tabib fenTu seneng ban gel, An jas mara gitu lho... cowok gonleng tapi d i I o I e r i n itu. Tabib merasa bangga hingga tibo-liba kepala desa Tabib memberitahu bahwa Anjasmara yang dimaksud adofah nama pedagang monyet di kampung sebelah. Yah, itulah sekelumit cerita nostalgia Tabib. Semoga hdok membantu. Solam perdamaian. Arti Hidup Seuoktu. kelas 3 5MA r gue hidup bagaikan gembel. Kerjaannya Uap hari main dan pacaran melulu. Giliran lagi ikul kelas, bawaannya molah pengen bolos, loncal pager dari samping mushollo. Ke sekolah juga gak pernah siap: pensil gak bawa, buku juga pasti ketinggalan. Kalaupun ada yang dibawa, paling cuman buku komik yang akan gue haca di kolong pos gurunya cuap-cuop di depan kelas. Intinya, kehidupan gue sewaktu SMA benar- benar seperti kohidupon gelandangan, lengkap dengan boju lusuh dan celana panjang melorot- melorot. Ibu Irfah Riiai, wali kelos gue sewaktu kelas liga, udah sangol-songat bersabar dalam menghadapi sifat gue yang bagaikan binatang fiar ini. Dengan selia dia ngingetin unluk ngumpulin Lembar Kerja Siswa gue, ngumpulin tugas, atau bahkon nyariin gue waktu cabul kelas. Begitu nyokap gue doteng pos pengambilon rapor, Bu Infah dengan setia melaporkan kelakuan binal gue ini kepadanya, 'Bu, si Dika tuh gak pernah masuk kelas, cabul mulul' Atau, kadang yang paling bikin gue gondok, 'Bu, si Dika tuh! Kerjaannya pacaran melulu di bawah jendela ruang guru! Dikiranya kita-kita gak fqu kaliyal Hahahal' Kalau udah begitu, sampai di rumah nyokap pasti mencak-mencak morahin gue. Dan karena Bu Irfah |uga ternyata temen dia ngajar dulu, dia akan bilang, 'Kamu jangan bikin malu Bu Irfah dong, dia temen Mama. Kan Mamo juga yang mafu.' Guecumon jawab,'Iya' 'Terus lain kali, kalau pacaran jangan di bawah jendela ruang guru yo. Malu tauk digosipin ama 'Iya, Mo.' Tapi, nasihat nyokap masuk kuping kiri keluar lobang hidung kanon. Gak ada yong gue bener-be- ner inget don terapkan. Malah, pada kenyataannya, gue emang tambah bikin malu nyokap. 7*C*S liburan taun baru di Hotel Horiion Ancol bareng temen-temen maen, tiba-tiba ada temen yang manggil, 'Tun, ada yang nelpon lo nih,' 'Hon Siapa' kata gue sambil mendekati dia. Telpon yang ada di tangan kanannya gue ambil don gue taruh di kuping. 'Halo' 'Ya, halo,' kata suara di seberang sona. Ka yaknya gue kenal. 'Yo, siapa' 'Dika. Ini soya. Ibu Irfah' 'Ibu Irfah Ini Ibu IrfahI' gue setengah berte riak. Heran, ngapain juga woli kelos gue nelpon- nelpon pas tanggal satu Januari gini Kayaknya sih gok mungkin mau ngasih selamet tahun baru. 'Ya, oda apa Bu' 'Komu bisa ke rumah saya' 'Rumah Ibu Kenapa' kata gue berkala heran. Jangan-jangan ada jemuran yang belum diangkat, 'Kamu tahu, kalau habis liburan itu odo pem bagian rapor' 'Tou, Bu.' 'Kamu tahu, kolau ngumpulin LK5 Biologi itu lermosuk nilai Biologi kamu' 'To-tau kol i. Bu' 'Kamu tahu, kalau kamu belom ngumpulin LKS 'Eh, iya.' Gue baru inget. 'Tahu tapi lupa, Bu[' 'Cepat kamu datang ke sini dan selesaikan tugas kamu di depan mata sayo' 'Iya, Bu.' Gue berkata lemas. Sejam kemudion, gue duduk di depan Ibu Irfah di ruang tamu rumahnya. Mata gue masih berpindah dori halaman demi halaman LKS ke sekitar ruang tamunya. Selama ini gue suka membayangkan yang serem-serem tentang rumah seorang guru. Tapi ternyata gak ada kebukti di rumah Ibu Irfah. Gak ada ruangan khusus menonton video cara menyiksa murid yang baik dan benar, atau ruangan latihan lempar lembing untuk menombak siswa nakal. Yang gue lihat adalah rumah sederhana dengan sofa warna hitam dan kipas angin yang gak bisa dinyalain. Suasananya sepi. Sementara Ibu Irfah sendiri masih memakai baju rumah (daster) dan jilbab yang selalu menempel di kepalanya. 'Udah belom' kota Ibu Irfah 'Bentar, Bu,' gue buru-buru menulis jawaban- jawaban LKS. Agak malu juga tiba-tiba tanggal 1 Januari, di saat orang-orang normal lainnya pada libur menikmati tahun baru, eh gue malah duduk di depan guru Biologi ngerjain LKS. 'Dika,' kalo Bu Irfah. 'Ya, Bu' gue masih asik menggambar lapisan epidermis tumbuhan. 'Kamu tuh bentar lagi ujian SPMB, lho.' 'Iya, Bu.' 'Harus belajar keras biar masuk Universitas Indonesia.' 'Kamu jangon iya-bu iya-bu doang l' '!ya. Bu.' 'Kamu tuh ya, kalau dikasih tahu seperti itu. Bandel sekali.' 'Iya Bu.' Gue masih mengerjakan soal demi soal di buku LKS, tapi gak ada yang beres. Di soal yang berisi pertanyaan Jelaskan pengertian Anda tentang lapisan epidermis. Gue jawab, lapisan epidermis adalah sebuah lapisan epidermis yaitu lapisan epidermis. Kualitas menghapal gue memang se tingkat ikan mas koki, ditambah lagi gue emang sama sekali gak niat belajar Biologi. Sejujurnya, gue gak pernah tertarik belajar biologi. Pelajaran biologi, buat gue, adalah pe lajaran yong sadis, Dikit-dikit lihat organ dalem manusia. Dikit-dikit belek binatang yang tak ber dosa. Biologi pernah membuat gue trauma sama burung merpati. Ketika kelas 2 SMP, pas pelajaran Biologi, kelompok gue pernah disuruh membelek burung merpati. Katanya sih biar bisa lihat organ dalemnya isinya apa aja (kurang kerjaon banget gak tuh). Karena gue orangnya gak tegaan, gue gak bisa ngegorok leher si burung merpati itu. Guru Biologi gue pun menawarkan untuk membius si burung merpati dengan sapu tangan dikasih kloroform, kayak di film-film James Bond gitu. Guru gue itu pun ngasih toples berisi kloroform. Karena males naro ke sapu tangan, begitu dikasih, gue langsung ngangkat burung merpati itu dan menyelupka nnya ke dalam toples berisi kloroform. Blubup, blubup, blubup, begitulah bunyinya. Eh, pas gue angkat, si burung merpati malah mati. Begitu Guru Biologi tahu, eh dia malah ngamuk, 'Dika! Gimana sih kamu! Maksud Ibu, kamu bawa sapu tangan, kamu kasih beberapa tetes kloroform, terus kamu tempel ke idungnya. Jangan diminumin gitu! YA, JELAS AJA MATI' Semenjak saat itu, gue merasa berdosa sama kaum merpati Setiap kali ketemu burung merpati di jalan, gue ngerasa mereka diam-diam bergumam, 'Ini die nih. Anak manusie yong bikin si Kukur mati minum obat bius kaye di pilem-pilem Jems Bon ' Gue kira pas gue udah masuk SMA, Biologi akan lebih maju, gak cuman sekadar ngebelek he- wan doang. Eh, ternyata malah menurun, sekarang tumbuhan yang dibelek. Dilihat lapisan demi lo- pi san nya. Epidermis lah, kismis lah. kumis Iah, entah lah. Mana gue tertarik sama yang begituan "KAMU jawabnya asal-asalan ya' kata Bu Irfah. Dia ternyata masih memerhatikan gue dari tadi. Sesekali badannya dimajukan, lalu dimundurkan kembali. Sebentar-sebentar dia mengipas-ngipas kertas yang ada di atas meja. Cuacanya emang agak panas. 'Engga kok, Bu,' gue ngeles 'Jawabnya beneran.' Bu Irfah kelihatan cukup takjub campur curiga ngeliatin gue yang bisa ngerjain soal dengan cepat dan lincah. Padahol, emang isinya gak ada yang bener. Pas soal tentang golongan darah: apa saja kemungkinan golongan darah anak dari orang yang bergolongan darah A dan orang bergolongan darah AB Gue jawab dengan merangkai kata-kota BABA BOBO Mungkin kalau ada golongan darah N, K, dan U, gue udah nulis BABA BUKAN BABON, BU, Beberapa menit kemudian, gue selesai meram pungkan satu LKS. Gue menutup LKS gue, dan memberikannya kepada Bu Irfah. Dia lalu menerima sambil manggutmanggutdan mengeceknya lembar demi lembar dengan cepat. Kayaknya dia gak sadar kalau jawaban gue banyak yang ngaco. Dia lalu beranjak ke komor dna membawa tumpukan LKS. 'Nih lihat tuh tumpukan LKS temen-temen kamu,' katanya. 'Udah dari sebelum liburan ngumpulin.' 'Hehehehehe,' gue cengengesan. 'Kok cengengesan gitu' 'Hehehehehe,' gue cengengesan lagi. 'Iya, Bu. Begitulah. Namanya juga orang sibuk. Ngumpulin- nya pasti belakangan,' 'Kamu sibuk apanya' 'Sibuk main Barbie, Bu. Hehehehehe.' Lagi lagi cengengesan 'Dik, sini Ibu kasih tahu.' Ibu Irfoh kayaknya udah mulai gak sabaran. 'Kamu masih punya waktu untuk berubah. Kamu pasti mau kan lulus SPMB, masuk UI Kamu belajar yang bener dari sekarang. Jangan bandel kayak gini. Kasihan tahu, orang tua kamu. Mulai semester depan, perbaiki ya' Jleb! Kata-kata itu cukup dalem juga. Korena kata-kata Bu Irfah yang cukup menohok itu, saat semester baru dimulai, gue menjadi lebih rajin. Gue janji sama diri gue sendiri untuk berubah. Gak ada lagi serampangan dan gak minjem pulpen tiap pagi. Berakhir sudah masa-masa kegelapan. Gue juga ingin membuktikan kepada Ibu Irfah kalau gue udah berubah. Makanya, pas presentasi pelajaran Biologi, gue semangat banget ngasih lihat perubahan diri gue kepada Bu Irfah. Satu per satu orang dapat giliran untuk presentasi sesuai dengon bab dari buku Biologi, dan kali ini giliran gue untuk maju. Bab yang gue presentasikan berjudul Asal- usul Kehidupan. Lumayan menarik dan gue juga menguasai materinya. Gue pun dengan full bacot bercerita tentang bab tersebut. Dari mulai depan sampai belakang. Setelah puas ngebacot, sesi tanya jawab pun dibuka. 'Ada yang mau bertanya' Gue bertanya ke temen-temen. 'Saya ingin bertanya.' Pito, temen sekelas gue, tiba-tiba berdiri dengan muka tegar. Nampaknya dia benapsu sekali untuk bertanya. Pito termasuk murid yang pinter, jadi gue harus berhati-hati juga menghadapi pertanyaan dia. Gue manggut- manggut dengan penuh rasa sotoy, 'Ya silakan tanya.' 'Jadi begini, pada percobaan Stanley Miller didapatkan bahwa H2, CH4, NH3, dan H20 jika dimasukkan ke dalam bilik reaksi maka dapat menghasilkan substansi dasar kehidupan seperti asam amino, adenin, dan gula sederhana seperti ribosa bla bla bla.' Pertama-tama, gue masih nangkep apa yang dikatakan Pito. Tapi, begitu dia udah mulai bawa- bawa H2, CH4, BH item, dan semua singkatan- singkatan aneh itu, pikiran gue mulai mengawang- awang. Gue punya short attention span, tidak mu dah fokus pada sesuatu. Segala istilah asing yang dia katakan dengan penuh jiwa raga, terdengar seperti 'Tralala, trilili. Senangnya rasa hati.' Pito masih terus napsu ngomong, 'Lalu, peneliti lainnya menambahkan fosfat ke dalam perangkat eksperimen tersebut lalu dibentuklah ATP, yakni senyawa yang berkaitan dengon transfer energi dalam kehidupan bla bla bla' Pada tahap ini, gue mulai mengkhayal. Mem bayangkan seandainya Pito itu adalah seorang putri duyung, lagi mangap-mangap dengan indahnya. Kata-koto yang dia ucapkan jadi terdengar seperti, 'Beri aku ikan! Beri aku ikon!' Gue membalikkan fokus gue ke dunia nyata. Pito (tetep) napsu ngomong, 'Nah! Lalu dengan percobaan lainnya dapat dihasilkan nukleotida seperti ADN yaitu Asam Deoksiribose Nukleat dan ARN, Asam Ribose Nukleot bla bla bla.' Akhirnya, Pito insaf dan sampai juga ke per tanyaan sebenarnya, 'Pertanyaan saya adalah, bagaimanakah cara bahan-bahan dasar penyusun kehidupan ini dapat menghasilkan suatu makhluk hidup kompleks seperti kita ini' Dia lalu berhenti sebentar untuk efek dramatis. Dia berkata dengan penuh penekanan, 'Kok bisa ya' Kelas menjadi hening. Gue berdehem, 'Ehm, jadi gini.,..' Seluruh kelas menyimak. Gue dengon ngaco bilang, 'ITULAH RAHASIA TUHAN!.' Satu kelas ngakak. Pito yang dari tadi me nyemburkan C02 dari mulutnya cuman manyun gondok, dan Bu Irfah yang mendengarkan jawaban gue cuman bisa ngikik. Saat keadaan udah mulai mereda. Bu Irfah tiba-tiba mengeluarkan suara, 'Saya ingin bertanya, Dika. Apakah yang dimaksud dengan hidup' 'Hidup, Bu' gue tanya balik. 'Iya, apa yang dimaksud dengan hidup' 'Hidup itu.., bisa bernapas, berkembang biak, dapat beraktivitas, dapat bergerak,' 'Bukan, itu bukan jawaban pertanyaannya. Itu adalah ciri-ciri hidup.' 'Jadi' 'Apa yang dimaksud dengan hidup' kata Bu Irfah lagi. 'Uhhh,' gue gak bisa jawab. 'Ada yang tahu' Bu Irfah nanya ke kelas. Semuanya hening, 'Emang apaan, Bu' Gue nanya ke Bu Irfah. Dia tidak menjawab. Kelas Biologi terakhir itu cukup membuat gue berpikir banyak, Pertanyaan besar, 'Apa yang dimaksud dengan hidup'Semakin hari semakin membuat gue berpikir tentang purpose gue dan purpose kita sendiri. Apa tujuan kita, sebenarnya Yang gue tahu, tujuan gue yang utama adalah lulus SPMB dengan hasil paling maksimal dan bisa masuk UI. Seenggaknya, pertanyaan dari Bu Irfah itu bikin gue jadi inget kalau gue hidup di sini punya tujuan. Efeknya, gue jadi semangat banget belajar. Sampai-sampai, si Pito sampai nanya ke gue, 'Lo kenapa sih jadi se mangat banget belajar' 'To,' kata gue dengan bijak. 'Buat masuk UI butuh kemaluan yang kuat.' 'Kemauan kali, bukan kemaluan.' 'Yah, punya kemaluan yang juga kuat kan gak ada salahnya.' 'Bego lo.' Pada Suatu malam, gue mimpiin Ibu Irfah. Gak ada angin gak ada ujan, jemuran bahkan sudah diangkat, eh gue malah mimpi in Ibu Irfah. Di mimpi itu, gue mimpi didatengin Ibu Irfah perlahan- lahan dari belakang. Sementara gue duduk di kelas sendirian sambil menghadap ke papan tulis Ngerasa Ibu Irfah dateng, gue nengok ke belakang Di sana dia, lengkap dengan jilbab hitamnya, ter senyum pada gue. Mukanya polos, dan penuh arti Beda banget sama apa yang sehari-hari gue lihat pas dia lagi ngajar. Sewaktu gue mau membuka mulut, seketika itu juga gue bangun. Ternyata, gue terbangunkan oleh bunyi SMS dari Nokia 8250 yang gue taruh di samping bantal- Gue baca. From: Dira Innnalilahi wa inlalilahi rojiuun. Teman- teman, wali kelas kita tercinta, Bu Irfah Rifai, meninggal di Tanah Suci sewaktu menjalankan ibadah haji. Tidak percaya, gue menghela napas dan tidak berkata apa-apa. Gue engga ngerti Ini sebuah kebetulan yang menyeramkan atau memang saling berhubungan, tapi semuanya terasa surreal buat gue. Sejuta pertanyaan mendesak untuk dijawab berkelebat: Meninggal Gara-gara apa Kenapa pas di saat gue mimpiin Bu Irfah Apakah Dian Sastro seorang pria Gue duduk di pinggiran tempat tidur, sedikit gak percaya. Gue menghela napas kembali, kali ini berusaha untuk mengerti baik-baik isi dari SMS yang barusan gue terima. Gue nelpon temen-temen yang lain. Jawaban mereka semua sama: nggak tahu detailnya. Yang jelas, wali kelas kita meninggal. Titik. Ketika masuk sekolah, pembicaraan tentang Bu Irfah menjodi pembicaraan hangat. Tidak hanya dengan temen, tapi juga sama guru-guru lain. Kita' semua gak nyanka Bu Irfah bisa pergi secepet itu. Gue bener-bener ngerasa kehilangan, pasalnya sampai gue kelas 3 SMA ini. Bu Irfah cuman satu- satunya guru yang bener-bener care dan merhatiin gue Sebulan berlalu, wali kelas kita diganti oleh guru Bimbingan Konseling. Kegiatan belajor- mengajar berlangsung seperti biasa. Suatu malam, gue mimpi aneh lagi. Gue mimpi duduk di kelas sendirian. Di depan, ada Bu Irfah megang tongkat sedang menunjuk ke papan tulis. Seolah di film- film, dia mengajar dengan kecepalan slow motion. Di tengah-tengah mimpi itu, gue seperti tersadar bahwa ini semua hanya mimpi. Gue mengacungkan tangan dan bilang, 'Ibu, bukannya ibu udah...' Bu Irfah mendengar pertanyaan gue, dan tiba-tiba dia melayang ke atas dan melambaikan tangannya pada gue. Tiba-tiba gue terbangun. Kali ini, gue bangun oleh dering handphone. Suara di seberang adalah suara Dira. Dia ber kata, Tun, tau gak. Suami ama anaknya Bu Irfah meninggal hari ini karena kecelakaan motor!' Gue diem. Tun' 'Iya,' kata gue dengan suara serak sehabis bangun tidur, 'Gue denger apa yang lo bilang,' Gue bercerita soal mimpi gue tadi kepada Dira. Kayaknya dia gak percaya dengan apa yang gue ceritain. Gue yakinkan dia. semua itu beneran. Dia mengiyakan. Lalu, gue menutup telepon dan duduk kembali di pinggiran tempat tidur. Apa yang terjadi barusan Gue baru kali ini ngalamin hal seaneh. ini. Mimpi tentang Bu Irfah tepat di hari dia meninggal. Giliran gue mimpi dia lagi, kali ini seluruh sisa anggota keluarganya meninggal. Aneh banget- Ini semua kayak cerita- cerita yang hanya ada di Nova atau tobloid ibu-ibu lainnya Gue memandang ke arah handphone dan ber- pikir. Lalu ada rasa penyesalan di hati gue. Gue berharap pas mimpi tadi, gue bisa bertanya ke padanya. Karena, ada satu pertanyaan yang belum sempat Bu Irfah jawab ke gue. Pertanyaan yang mungkin, dengan kondisinya yang sekarang sudah bisa dia jawab- Pertanyaannya yang lebih susah daripada 'Apakah yang dimaksud dengan hidup' (pertanyaan yang dia lontarkan sewaktu sesi presentasi gue dulu). Pertanyaan itu adalah: 'Bu, apakah arti hidup' Gue berharap gue akan mimpi dia lagi di setiap gue tidur. Tapi percuma, kejadian itu hanya untuk sekali dan sekali itu saja. Gue gak pernah mimpi bertemu dengan Ibu Irfah lagi sampai saat ini. Apakah arti hidup Mungkin, pertanyaan itu memang tidak dimak sudkan untuk terjawab. Guruku Seperti Macan Gak ada angin, gak ada kentut, tiba tiba nyokap berbisnis bimbingan belajar. Maka, di sinilah gue, berdiri ama nyokap di depan rumah kosong bercat kuning, Ruangan- ruangan di dalamnya sudah diisi bangku-bangku dan papan Tulis, putih yang disusun rapi. Di depan rumah ini, ada plang di luar bertuliskan: Teknos Genius, Lembaga Bimbingan Belajar. Gue bengong ngeliatin bisnis baru nyokap ini. 'Iya, Dik. Mama beli Teknos ini biar adek-adek kamu bisa les!' kata nyokap sambil melebarkan tangannya kayap pesulap abis ngeluarin komodo dari topinya. Kata 'adek-adek' berarti empat biji adek gue yang masih SD dan SMP Itu, 'Terus, gara-gara itu bikin tempat les gini Gitu doang' 'Engga. Engga, Dik. Bukan gitu doang lho.' Nyokap menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Tapi, dengan pertimbangan matang.' 'Pertimbangan matang apaan ' 'Yah, kata Mama nyuruh dateng guru les dateng terus-terusan ke rumah kan enggak efektif juga, mahal.' 'Mahal' Gue memajukan muka lalu menghi tung dalam hati kira-kira berapa ya biaya untuk masuk ke bisnis bimbingan belajar gini. 'Seorang Ibu harus melakukan yang terbaik untuk anaknya. Ini demi cita-cita mereka,' kata nyo kap lagi. Gue mikir keras. Nyokap sampe buka bimbing an belajar karena pengen anaknya jadi pinter. Kalo udah gitu mah, gue mungkin bakal bilang ke nyokap, 'Ma, aku mau jadi germol' Besoknya, mungkin udah ada cewek-cewek cantik nunggu di kamar. 'Ini, Dik, buat latihan. Demi cita-cita kamu,' kata Nyokap. Manajer Teknos yang dipekerjakan oleh nyo kap adalah laki-laki campuran Ivan Gunawon, Pak Raden, dan ulor kobra: agak-agak kemayu, berkumis tebal, tapi joget kalo denger dangdut. Namanya Pok Rofik. Pak Rofik emang suka jadi bahan celaan nyo kap gue. Karena gaya-gayanya yang agak kemayu, dia suka dijulukin Tante Rofik, Mbak Rofik, sampe Rofikwati. Waktu si Pak Rofik selese belajar motor aja, nyokap langsung bilang: 'Tuh, Dik, ada ben cong naek motor! Hahahahaha.' Si Rofik, yang kayaknya pasrah sama jalan nasib, hanya bisa mesem-mesem. Pernah suatu waktu gue pengen ketemu anak- anak SMU yang les di Teknos, untuk menawarkan buku kedua gue, Cinta Brontosaurus. Eh, tapi yang ada adalah kejadian salah paham bego antara gue dengan Pak Rofik. Waktu itu gue SMS dia (dengan menyangka dia udah tau nomor hope gue): Pak Rofik, anak SMU yang les di Teknos kapan aja Berikutnya Pak Rofik heboh ng e bal es: From : Rofik Maaf ya. Bu. anaknya les kapan aja Emang anaknya kelas berapa!! Ya ampun, ini udah pulang semua anak- anaknya!!!! Gue cuman bisa bengong. Sungguh, contoh manajer bimbingan belajar yang baik. Suatu hari, gak ada kerjaan, gue main ke sana. Niatnya cuman mo ngeliat-liat, nyapa Pok Rofik atau nyokap yang kebetulan lagi ada di sana. Pas gue baru masuk pintu masuk, gue langsung ketemu Tante Rofik yang dari tadi lagi enak ngetik di depan komputer. Begitu Tante Rofik ngeliat muka gue, dia langsung histeris. 'Bang Dika! Aduh, Bang Dika!' Pak Rofik berkata sambil menepok tangannya. 'Bisa. Minta. Tolong. Gak' 'Apaan' Gue berkata tak acuh. Gue udah nyangka Pak Rofik akan bertanya di mana tempat suntik silikon yang bagus buat numbuhin tete. Tapi pikiran gue meleset 'Bisa jadi guru gak' kata Pak Rofik, 'Jadi guru apa an 'Bahasa Inggris aja. Bang Dika pasti bisa kan' 'Bisa-bisa aja sih,' Gue diem bentar sambil mikir: bisa benar gak y a h gue 'Ya udah. Selasa depan ya.' Rofikwati meng ambil kesimpulan sendiri, 'Eh tunggu dulu dong! Selasa depan ngajar Bahasa Inggris gitu' 'Sama Bahasa Indonesia.' 'Loh!! Kok tiba-tiba Bahasa Indonesia juga' 'Iya, gampang kan. Cuman Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Ngajar kelas 3 SMP sama kelas 1 SMP.' Gue mikir, kira-kira pelajaran gue pas SMP apa ya. Kayaknya sih gampang-gampang aja. Gue me ng iya kan saja. Beberapa saat kemudian, gue tersadar oleh satu fakta yang mengganjal: rambut gue saat ini lagi dicet pirang! Yak, namanya juga liburan sekolah, gue jadi ngecet asal-asalan aja rambut gue. 'Rambut ini gimana Kan dicet Emang gak pa-pa gitu' 'Udah, cuek aja.' Pak Rofik berkata .dengan muka meyakinkan. 'Guru gaul gitu.' Hah Guru gaul Buset.' Di kuping gue, 'Guru Gaul' terdengar seperti grup penyanyi dangdut semacam Trio Macan. Gue akhirnya mengalah. Yah, namanya juga bimbingan belajar baru, nyari guru yang kompeten juga susah. Padahal, milih gue untuk menjadi guru bener-bener pilihan yang... bego. Jujur aja. gue agak takut mo ngajar. Ngebayangin anak-anak SMP zaman sekarang, kayaknya mereka udah brutal banget. Gak ada yang tahu betapa ganas atau betapa bandelnya mereka Apalagi, film-film sekarang ini banyak yang menggambarkan anak-anak sekolah -ngomong makin kasar, makin suka ngerjain, makin binal. Bukan gak mungkin kalo nanti suatu saat di Indonesia, ada guru TK yang lagi ngajar nanya ke muridnya, 'Nak, kamu mau ngapain jalan-jalan bawa krayon gitu' Si anak TK (karena udah dijejelin film-film yang gak bener di tipi) bakalan bilang, 'GUE MO GAMBAR GUNUNG. DAN ITU BUKAN URUSAN LO,BITCH!' 'Lho, kok ngomongnyo kasar gitu. Nak' 'GUE COLOK MATA LU PAKE KRAYON BENTAR LAGI NEH KALO LU GAK DIEM, BlTCH!' Tapi beneran lho, gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri, gimana adek gue yang paling kecil mamerin tititnya ke mana-mana (walaupun lebih keliatan kayak jerawat), gara-gara ngikutin becandaannya Crayon S inch a n yang jorok itu. Nah, ini dia yang bikin gue takut. Gue paling gak pengen ketika gue lagi ngajar di Teknos nanti, gue bakal berhadapan dengan sekelompok anak-anak SMP kurang gizi yang udah gak sabar pengen ngasarin gurunya. Gue gak pengen juga isi kelas gue anak-anak yang kerjaannya ribut dan berisik terus. Guru Kewarganegaraan gue pas di SMA 70 dulu pernah melakukan sesuatu yang seharusnya semua guru lakukan. Ketika dia datang untuk mengajar pertama kalinya, dia akan bilang kepada semua murid, 'Gini, saya mau buat perjanjian. Saat Saya mengajar, saya ingin kalian semua diam. Jika ada yang berisik dan mengganggu pelajaran, maka saya akan minta dia keluar. Apakah bisa disetujui oleh kalian' Wow, menetapkan perjanjian sebelum pelajaran. Solusi yang brilian! Mungkin gue harus melakukan hal yang se rupa ketika masuk pertama kali di Teknos nanti. Gue seharusnya ngomong, 'Gini. Saya mau buat perjanjian. Saat saya mengajar, saya ingin kalian semua diam. Kalian lihat babon Afrika di luar kelas itu Nah, siapa pun yong berisik pas saya sedang mengajar, harus mencium babon itu. Oh ya, dia rabies lho.' Akhirnya hari itu datang juga, hari gue pertama kali ngajar Teknos. Sebelum berangkat, gue ngaca lama-lama, benar-benar meyakinkan diri sendiri kolau secara penampilan gue udah siap. Dalam hal ini, siap berarti berwibawa dan mempunyai karisma ting gi. Gue harus bisa menimbulkan rasa takut dan respect poda murid-murid gue supaya mereka mendengarkan apa yang gue katakan. Make me in charge. Sewaktu gue SMA, gue selalu merasa takut dan respect dengan guru-guru yang bersuara berat. Kebanyakan mereka adalah guru-guru Batak. Se perti Pak Nelson, Pak Sitompul, Pak Rajagukguk, Pak Raja Meong (emang ada gitu). Guru-guru bersuara Batak itu ketika bicara langsung bisa mendapat perhatian para muridnya. Suara mereka berat, lantang, keras. Cocok jodi hansip. Gue pengen seperti mereka. Seharusnya sih bisa aja, karena bokap gue sendiri orang Batak, yang otomatis bikin gue paling engga separuh orang Batak. Sayangnya, satu-satunya bentuk fisik yang bokap gue wariskan adalah muka mirip Pitecanthropus ini. Soal suara. gue tetep kayak anak cewek-tiga belas tahun- kejepit-pintu. Oke, kewibawaan lewat suara sudah jelas gagal. Gue harus ngedapetin poin kewibawaan dari hal lain: pakaian. Nggak bisa dipungkiri, pakaian sedikit- banyak mencerminkan wibawa pemakainya. Semakin keren pakaiannya, semakin dipandanglah orang itu. Gue mengobrak-obrik lemari pakaian. Baru setelah isinya keluar semua, gue baru sadar gak punya baju bagus. Baju gue kaus semuabuluk pula. Kalaupun ada yang bagus, cuma kaos merah- putih-biru bergambar Snoopy di tengahnya, Gak mungkin banget gue ngajar pake tulisan itu. Gue mencari target baru: kemeja biasa atau pola shirt. Dua-duanya juga gak ada. Paling banyak juga kaus kutang buat dipake di rumah. 'Pake kous kutang aja. Bang,' pembantu gue memberi solusi pas gue curhat. 'Gak mungkin banget lah,' gue sewot. 'Kalo gue emang terpaksa banget pake kaus kutang untuk ngajar, kenapa gak sekalian aja pakai topi caping, lalu masuk ke dalam ruangan kelas dan bilang, "Met sore, Anak-anak! Hari ini kita akan belajar mencangkul sawah.'" Gue ngacak-ngacak lagi lemari baju gue dan mengeluarkan baju batik ijo bermotif emas. Gue baru inget, ini adalah baju yang gue pake waktu pesta wisudaan sewaktu SMA 70 dulu. Nah ini dia, pikir gue. Baju batik. Ingatan gue samar-samar membawa gue ke salah salu guru di SMP yang pernah memakai baju batik buat ngajar. Oke, cocok-cocok aja tuh seorang guru ngajar pake batik. Berikutnya, gue ngambil celana bahan item. Sepatu pantofel. Gue siap berangkat ngajar dengan semua itu. Tapi, yang gue gak tau: baju batik ijo motif emas + rambut dicet = badut mabok ngajar Bahasa Indonesia. Di hari pertama itu gue sengaja bawa Fruit Tea sama beberapa batang Silver Queen. Ceritanya, tuh Fruit Tea dan Silver Queen bakal gue kasih ke anak-anak yang bisa ngejawab pertanyaan dengan bener. Gue dateng di Teknos lengkap dengan peralat an perang: rambut dicet pirang, baju batik motif emas, sepatu pantofel, celana bahan, ditambah satu kantong plastik berisi Silver Queen dan Fruit Tea. Sekarang, malah lebih mirip badut mabok jualan minuman Begitu sampai di Teknos, gue duduk di kursi deket administrasi sambil nungguin giliran ngajar. Selama gue duduk, gue ngeliat ada anak cowok gendut yang dari tadi teriak-teriak berantem ama temennya. Kelihatannya anak cowok ini ganas banget. Semoga dia bukan anak kelas gue, doa gue dalam hati. Di sebelah gue, ada emak-emak kribo lagi duduk dengan manisnya. Karena bosen dan gak ada kerjaan, gue ajak ngobrol aja. Gue dengon polos bilang, 'Ibu nung-guin anaknya 'lya, ini anak saya, dia menunjuk ke arah arah anaknya, tinggi tapi kurus, yang dari tadi duduk di sampingnya. Si anak, yang keliatannya abis nelen tiang listrik, cuman senyum-senyum aneh. 'Kelas berapa Bu, anaknya' 'Kelas tiga SMP' si emak jawab. 'Wah!' Gue langsung excited. 'Saya yang nga jar dong nanti!' 'LHO KAMU INI GURU!' si emak-emak kayaknya shock. Gue, panik, gak tau mo ngomong apa. Jangan-jangan si emak keburu ilfil duluan kalo gini caranya. Kalo di film kartun, mukanya si ibu-ibu itu udah merengut menunjukkan kejijayan level tinggi. 'Emangnya,' dia berkata sambil menelan ludah. 'Kamu udoh ngajar berapa lama' 'Uh, tiga taon Bu!' kata gue, bokis. Padahal lulus SMA aja baru setoun. 'Pengalaman ngajar kamu banyak' 'Banyak, Bu!'padahal, mentok-mentok nga jari n adek pake celana. 'Emang dasar kamu apa' 'Uh, sarjana edukasi, Bu!' 'Emang ada ya, sarjana edukasi" Si Ibu ini heran. Ada kok ,Bu! Adai' 'Oh gitu' Dia diem sebentar Lalu, setelah cengengesan, gue langsung kabur begitu menemukan celah. Agak-agak horor juga kalau ketauan ternyota gue cuman anak kuliahan semester dua yang lagi liburan. Beberapa menit kemudian, kelas dimulai. Susah juga ngajar anak-anak SMP. Ngajar kelas 1 SMP adalah living hell gue. Baru masuk kelas aja udah berisik banget. Bener-bener susah menemukan cara yang pas untuk mengajar mereka. 'Selamat siang. Saya Dika' gue bilang ke kelas 1 SMP yang gue ajar. 'Saya guru kamu untuk pelajaran ini. Setidaknya sampai ada guru lain yang menggantikan,' 'Siang, Pak!' kata anak cewek yang duduk di depan Jangan Pak. Kakak aja' kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu biar apal tampangnya. 'Sukro' gue manggil. 'Iya, Kak,' Sukro menyahut. 'Kamu kacang apa manusia' 'Hah Maksudnya' 'Engga, abis namanya Sukro, kayak jenis ka cang,' gue ngomong ngasal. 'Kacang apa manu sia' 'Ma-manusia, Kak.' 'KURANG KERAS!' gue menyemangatinya. 'MANUSIA, KAK!' Satu kelos hening. Beberapa anak mukanya tampak ketakutan. Setelah mengambil absen satu per satu, gue pun memulai mengajar. Namanya sih mengajar, padahal gue ngebacot setengah mati. Mereka gak lulus UAN Bodo amat. Muahahaha. Tiba-tiba ada cowok mosuk kelas, terlambat. 'Maaf, saya terlambat.' Dio buru-buru ber kata. 'Engga pa-pa,' kalo gue. Gue emong orangnya pemaaf. 'Nama kamu siapa' 'Agay.' 'Gay Kamu kenapa gay' 'AGAY, bukannya saya gay.' 'Oh,' gue lalu mencentang absensinya. Gue melanjutkan pelajaran lagi, Seperti tadi, ngebacot abis-abisan. Lalu sisa kelas kita habiskan untuk membahas soal satu per satu Ternyata gam pang juga jadi guru. 'Kak, saya mau tanya,' kala cowok gendut yang duduk di belakang kelas. 'Iya, kenapa' gue memerhatikan dengon sak-sama 'KOK KAKAK KAYAK MACAN SIH!' JHah Apanya kayak mocan' 'ttu,' kata si gendut monyet. 'Bajunya batik emas ama rombutnya kayak loreng macan.' Satu kelas ngakak. Gue gondok, di katai n abis-abisan ama onak SMP. Sisa kelas berjalan cukup loncar. Tapi mereka suka berisik kalau disuruh ngerjain soal. Susah banget ngaturnya. Soalnya, kalo mereka digalakin, eh, cemberut, Giliran dibaikin, eh, berisik. Giliran digebug pake bangku dari belakang, eh, pingsan (ya iyalah!). Keesokan harinyo, giliran gue ngajar anak kelas 3 SMP. Berbeda dengan kemarin, yang kelas 3 5MP muridnya lebih sedikit. Hanya delapan orang, tapi justru gue suka yang muridnya dikit kayak gini. Soalnya, jadi lebih gampang ngapalin nama murid-muridnya. Pas ngajar bahasa Inggris, gue bikin kuis kecil-kecilon berhadiah Toblerone dan Fruit Tea yang gue siapin dari rumah. Di antara anak kelos 3 SMP itu, gue ngeliat ada anak dari emak-emak yang kemarin gue ajak ngobrol Keesokan harinya lagi, setelah mengajar kelas 3 SMP, gue nongkrong di Teknos, siap-siap ngajar kelas lain. Tiba-tiba, telepon berdering. Karena Tante Rofik lagi berkelana mencari kitab suci, ak hirnya gue yang angkat. Terdengar suara ibu-ibu yang memperkenalkan diri sambil menyebut nama anaknya. Gue langsung keringet dingin, ternyala si penelepon adalah emak-emak kribo yang waktu itu ngajak ngobrol gue! 'Maaf, Mas, saya mau nanya, besok jadwal buat anak saya apa ya' 'Besok itu,' gue menengok ke papan jadwal, 'Matematika, Bu' 'Terima kasih ya. Pak. Oh ya, kemarin anak saya ikut kelas Bahasa Inggris.' 'Oh iya, Bu, terus' Gue deg-degan. Si emak gak tau dia lagi ngomong ama orang sarap yang kemaren dia temui. 5i emak juga gak tau kalo kelas Bahasa Inggris itu gue yang ngajar. Tapi gue diem- diem aja. 'Terus, anak saya bilang guru nya bagus nga- jarnya! Asik banget, Ma, katanya.' 'Wah, iya ya' 'Iya. Terima kasih ya.' ' Dia menutup telponnya. Gue senyum-senyum ge-er sendiri. Ternyata, walaupun full bacot, masih ada juga yang ketipu sama akting gue. 'Kak Macan!' gue ngedenger si Sukro manggil gue dari da lem kelas. 'Kita udah di kelas semua nih.' 'Iya.' Gue lalu beranjak masuk ke dalam kelos. Lakukan dengan Microwave Sebelum berangkat untuk tinggal sendiri di Australia, nyokap berulang kali nyuruh gue belajar masak. Akan tetapi, maksud hati memeluk gunung apa daya tonganku buntung: gue payah banget buat urusan masak-memasak. Payah banget. Ra- sanya. apapun resep yang dikasih ke gue hasil akhirnya selalu jadi 'batu bara goreng mentega'. Padahal, waktu kecil dulu gue selalu nganggep masak itu pekerjaan gampang. Kayak nonton Selera Nusantaro di tipi. Di acara itu, Rudy Choiruddin tinggal ambil daging, masukin panci, rebus. Terus, kayak sulap, si Rudy Choiruddin tiba-tiba ngambil makanan yang udah jadi di bawah meja. Dalam pikiran gue soal itu: ah, beginian do ang Ternyata yang 'Ah, beginian doang' berubah menjadi 'Monyet, susah abis' dalam kurun waktu beberapa belas tahun. Peraturan-peraturan dalam memasak ternyata susah. Misalnya, kalo masak nasi itu aernya harus pas. Kalo masak daging enak, bumbunya mesti enak juga Buat goreng ayam, ayamnya harus mati dulu (ya iyalah). Salah satu temen di Australia pernah dengan berbaik hati menawarkan diri, 'Udah, Dit, gue ajarin resep gampang, namanya sapi lada hitam.' Dia lalu ngasih gue bumbu dan daging, dia juga berbaik hati menuliskan resepnya satu per satu secara terperinci. Bahkan, di hari gue mencoba untuk memasak pun, gue sempet konsultasi by phone dengannya. Tapi hasilnya Tetep: batu bara goreng mentega. Karena stres gak bisa bikin sapi lada hitam, akhirnya gue merumuskan resep sendiri: sapi beha item. Caranya 5iapkon satu sapi sehat, pasangin beha item, terus suruh guling-guling di atas kompor Nikmati selagi hangat. e nonya dengon muka gak percaya. 'iya, Dik. Microwave. Masak nosi mah tinggal dimasukin ke microwave. Masak bacon, masukin aja ke sana. Masak mie juga bisa lewat situ. Kok lo gak tau sih' Sabrina, seorang temen di Australia, bilang ke gue. 'Iya ya' 'Bego lu, gitu aja gak tau.' Pembicaraan barusan ini terjadi di kampus, sewaktu jam makan siang. Beberapa saat sebelum nya, gue mengeluh ke Sabrina tentang bagaimana susahnya hidup gue di Ausralia karena gak bisa masak. Mau beli makanan, mahal. Mau masak, sama aja bunuh diri. Dilematik. 'Microwave' tanya gue sekali lagi ke Sabrina. 'lye.' Kalau benar microwave bisa melakukan semua pekerjaan masak-memasak dengan mudah, seperti yang Sabrina bilang tadi, gue bener-bener selamet! Hilang sudah masa-masa kelabu, kelaperan tengah malem karena (lagi-lagi} masakan gosong. Hilang sudah ke kamar mandi bolak-balik gara-gara kentang yang gue masak berubah jadi pete cina. Maka sorenya, sepulang dari kampus, gue bergegas ke supermarket, nyari panci plastik untuk masak di microwave. Sabrina menekankan, kalau mau masak di microwave, gue harus punya panci plastik. Masak di microwave emang gak bisa make sembarangan panci- Salah-salah bisa meledug. BogitU k a ta Sabrina. Karena takut atas ancaman tersebut. gue pun akhirnya membeli panci plastik. Microwave dan panci plastik itu pun saling melengkapi satu sama lain. Ibaratnya, mereka itu saulmate deh. Seperti Romeo dengan Juliet. Miki Mos dan Mini Mos. Irwansyah dan cewek- ABG-yang-kalau-lagi-akting-nangis-kayak-mau- beranak-itu. Ternyata, setelah memakainya, gue benar- benar menemukan kemudahan-kemudahan dalam memasak. Contohnya, kalau mau masak mie, ting gal masukin mie ke panci plastik terus masukin ke microwave selama sepuluh menit,... Voila! Jadi! Mo masak daging Masukin daging ke panci, kasih aer, trus panasin Mo masak nasi Masukin beras ke panci, kasi aer, trus panasin Mo masak tapi gak punya bahan Goreng aja dengan microwave! Intinya, mo masak apa pun jadi lah dengan microwave! Microwave langsung mengubah pandangan masak gue 180 derajat. Gue mengganti motto idup gue menjadi 'Lakukan dengan microwave.' Saat ini, gue ngerasa mampu membuat ma sakan super-keren-mega-dahsyat apa pun hanya dengan menggunakan microwave. Siapa tau Suatu saat nanti Rudy Choiruddin bakal ngeliat masakan gue dan nanya, 'Gila, gimana caranya lo bikin masakan ini' Gue bakal ngeliat matanya dalem-dalem dan bilang dengan logat anak gaul, 'Please deh, Rud. Lakukan dengan microwave, gitu lho.' Asoi. Merasa telah menemukan keajaiban memasak dengan microwave membuat gue jadi merasa penuh sebagai manusia. Hal-hal menjadi indah. Burung- burung yang berkicau terdengar seperti suara nyanyian malaikat yang terbang dari surga. Oh, microwave. Seperti ada rongga kosong dalam diri gue yang sekarang sudah terisi. Oh, microwave. Bebeapa hari te rjebak dalam euforia micro wave ini, gue ketemu Joseline. Harianto mengenalkan gue kepada Joseline di sekolah, waktu lagi pelajaran kosong. Ketika gue menjelaskan di mana gue tinggal, Joseline terkejut. Ternyata kita tinggal di apartemen yang sama. Lucunya lagi, gue di kamar 705 sedangkan Joseline di kamar 605. Kita hanya dipisahkan lantai. 'Jos, kita kan tetanggaan nih. Nah, ntar kalo gue malem-malem kelaperan pengen Indomie, gue minta ke kamar lo ya' Gue langsung nodong 'Beres,' Joseline menyanggupi. Dasar gak mau rugi, tepat malemnya, gue nongol di depan kamar Joseline, Dia keluar kamar dengan muka dipenuhi krim-krim di beberapa tem- pat 'Obat jerawat. katanya begitu ngeliat gue ke heranan. 'Ada apa, Dik' 'Gue mo minta indomie dong.' 'Oh, ada-ada. Bentar ya.' Joseline bergegas ke arah dapur, dan gue menutup pintu kamarnya. Begitu gue berjalan ke arah dapur, gue ngeliat di pintu kamar tidur Joseline terihat benda antik abad millenium: beha. Gue cuman bengong aja. Oke, ini pertama kalinya gue masuk ke kamar apartemen cewek. Mungkin bagi anak cewek, wajar aja oda beha nangkring di gagang pintu. Cowok-cowok aja sering naro kolor di kipas angin, lucu ngeliat kolornya muter-muter klepak-klepek gitu, hmmm aromanya tersebar ke segala penjuru,... YA ENGGAK LAH. Gue mikir dalem-dalem. Apakah ini kebiasaan anak cewek Naro beha di gagang pintu kamar tidur Tapi untuk apa Beberapa teori muncul dalam kepala gue: Mungkin supaya di kala susah tidur karena lampu dinyalain, beha bisa dijadiin kacamata. Mungkin juga, be hanya ditaro di situ, agar sewaktu-waktu terjadi kebakaran, Joseline bisa langsung lari menggenggam behanya dia itu, buka jendela kamar, dan terjun dengan beha sebagai parasut. 'Dik, ini indomienya ' Joseline berkata dari da- pur Gue mengambil keputusan sulit: berhenti me mandangi beha nganggur dan mengambil indomie dari tangan Joseline. 'Eh r sekalian deh. kata Joseline. 'Gue jadi pe ngen masak indomie juga. Kompor gue rusak. Gue ke kamar lo ya' Gue mengangguk. Sepuluh menit kemudian, kita berdua udah tiba di depan pintu kamar gue. Pas sampe kamar, gue engga langsung masuk, tapi ngecek komputer dulu yang ada di samping dapur. 'Lo gak mau masak' Joseline nanya. 'Ntar dulu deh,' bales gue. 'Lagi mo chatting bentar. Lo duluan aja!' 'Gue masuk duluan ya. Hmmm, lo ada panci gak buat masak' Dalam pikiran gue (yang bener-bener micro- wave minded), Joseline mau masak dengan cara gue: masukin mie instan ke panci plastik, terus dipanasin di microwave. Dengan jumawa gue beranjak ke arah dapur, membuka laci yang paling atas, dan mengeluarkan sang panci plastik bersahaja itu Gue pun menganugerahi Joseline panci plas tik kebanggaan gue itu. Proses pemindahtanganan panci plastik itu berjalan dengan anggun, seperti di film-film samurai Jepang saat sang guru besar memberikan muridnya pedang pusaka warisan perguruan. Saat ini joselin seperti murid gue, dan gue sebagai guru besar. 'Joselin-san, inilah panci pusaka perguruan kita.' 'Haik. Radith-sensei. Arigatou gozaimassu.' 'Gunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama. Dozo.'' 'HAIK!' 'Oh iya, 'titit orang Jepang kecil" itu hanya mitos belaka!' 'HAIK!' Setelah ngasih panci plastik tersebut, Joseline terlihat mulai sibuk siap-siapin makanan. Gue tetep cuek aja maenan komputer sambil cating sama temen-temen di Jakarta, nungguin Joselin masak. Suasana malam itu sepi, tenang, damai, tentram. Di tengah-tengah menikmati perdamaian dunia, tiba-tiba terdengar suara SHHHHHH. Gue sempet heran, seperti suara angin-angin gitu. Gue kira gue kelepasan kentut, tapi gue baru nyadar kentut gue kan bunyinya kayak alarm mobil, jadi gak mungkin. Seberapa detik kemudian, terdengar suara dari arah dapur. 'DIKAA!!! KYAAA!!! DIKAA!!!! ADUH, KEBA KARAN NIH N ANTI !! KEBAKARANN!!!!!' Laksana prajurit TNI yang sudah lama tidak bertemu istri, gue lari galang-guling dari kursi. Tidak lama kemudian, terlihat dapur gue berasep- asep item. Si Joselin tereak-tereak panik gitu. Menghadapi situasi hidup dan mati ini, kepala gue herpikir cepat. Mencari solusi dengan kepala dingin. Gagal. Gue tahu gue gak mungkin tereak, 'GYAAA... WAH, GIMANA NIHII GYAAAAAAAAAA....' Gue mencoba tetap stay cool ngeliatin asep yang ngebul-ngebul. Gue matiin alarm asep dan nyalain kipas. Dan segera menyadari... Sumber asep item itu ada di atas kompor gue. Dan ternyata.... PANCI PLASTIK KESAYANGAN GUE DITARO DI ATAS KOMPOR. DIBAKAR. MELELEH, 'Jas,' gue ngomong ke Joseline. Tanpa mele paskan pandangan mata gue ke arah panci plastik yong baru saja kehilangan nyawanya itu. 'Kenapa, Dik' 'Itu,- itu., panci gue lo taro di atas kompor' Gue mencoba meredam emosi. 'Iya! Kok meleleh gitu ya' 'YA JELAS AJA MELELEH! ITU KAN DARI PLAS TIK! ITU KAN PANCI BUAT MASAK DI MICRO- WAVE!!!!' Gue histeris. i 'Hoh Panteson!!! Ya ampun, gue gak pernah masak mie pake microwave! Gue biasanya masak pake panci di atas kompor. Tadi maksud gue minta panci itu minta panci buat masak pake kompor! Ya ampun!' 'YA, AMPUNI' Gue jerit. 'YA, AMPUNI' Joseline jerit Hening Gue angkat almarhum panci plastik dari atas kompordan berharappemadam kebakaran dateng. Gak lucu aja ntar kalo ada pemadam kebakaran ngedobrak pintu gue, lalu yang dia temuin panci plastik dengan indomie plus dua remaja Indonesia dengan mulut berbusa lagi kejang-kejang di lantai. Keadaan mereda. Krisis sudah berlalu. Udah gak deg-degan lagi. Joseline sama gue ketawa-ketawa aja ngebayangin yang barusan kejadian. Kesalahpahaman dodol. Joseline cengar-cengir. Gue lempar Joselin dari jendela. Lalu, tiba-tiba, ketika siluasi sudah mulai mem baik, tanpa suara tanpa sepatah kota, TERLIHAT ASEP NONGOL DARI MICROWAVE GUE. Gue ngeliat muka Joseline.' Lo m asa k some t h ing di microwave' Dia bilang, 'l-lya' Gue nanya, 'Masak apa' 'Masak kentang goreng. Gak pake panci, gue taro di dasar microwave aja.' 'I. itu.. Kok keluar asep gitu' Gue menunjuk ke arah 'KYAAAAA. Gosong!!!!! Masa sih gosong' 'Lin, lo masaknya kelamaan!' Microwave pun dibuka. Asep keluar semua. Pas kentangnya dikeluarin, gue ga bisa bedain lagi antara kentang goreng dengan arang. Sama itemnya. Ternyata di dunia ini ada yang keahlian masaknya lebih parah dari gue. Ini membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Satu jam kemudian, dan selama berhari-hari berikutnya, setiap malam gue ngumpulin koin-koin receh dan bergegas ke bawah dan membeli satu chicken wing dari Kentucky Fried Chicken. Dizalimi Kala Banjir Gue benci banget ama banjir. Ada beberapa hal yang bikin gue benci ama banjir. Pertama, gara-gara gue waktu kelas 3 SMP pernah maksain diri masuk sekolah pas kawasan sekolah lagi banjir. Guru yang ngajar hari itu galak banget. Jadi, kalau gak masuk, bisa-bisa minggu depan digebuki n dan dijadikan makanan terna k. Pas gue maksakin diri untuk masuk, gue harus melewati banjir setinggi paha. Berhubung rasa takut gue sama tuh guru lebih gede daripada rasa takut gue sama lele kuning yang mengambang bersama luapan banjir, jadilah ya gue terobos aja tuh banjir. Hasilnya: pas lagi jalan menyusuri pinggiran ja lanan, gue nyusruk nyebur masuk got yang gak ke liatan. Badan gue kerendem air setengah sisi miring badan. Begitu gue basah kuyup masuk sekolah, temen gue yang terlebih dahulu dateng bilang. Gurunya gak masuk, Dik.' Setelah kejadian itu, gue gak pernah napsu ngeliat genangan air. Dan sampai detik ini, ternyata ada satu hal lagi yang gue lebih benci dari banjir: terperangkop sewaktu banjir bersama keempat adek-adek gue. Kejadian ini terjadi tahun 2006, sewaktu ban jir musiman lima tahunan menggenangi Jakarta, Waktu itu Jalan Sudirman tergenang air. Mobil gue, yang waktu itu lagi sial ngelewatin Jalan Sudirman, jadi gok bisa maju atau pun mundur. 'Bang, mobilnya kok gak maju-maju, Bang' kata Ingga adek gue, kelas 5 SD. 'Iya, Bang! Kenapa' kata Anggi, kembaran- nya. Anggi. Ingga! Diem dong! Ini gara-gara banjir, taukl' kato Yudhit, kakaknya kelas 1 SMA. 'Aku mau pipis,' kala Edgar, yang paling bungsu, malah gak nyambung. 5edangkan gue, cuman bisa diem ngeliatin empat kecebong ini teriak-teriak gak karuan. Semua adek gue (Ingga, Anggi, Yudhit, dan Edgar) duduk di jok belakang. Gue duduk di jok depan, di samping supir keluarga. Kita semua emang baru pulang dari pemakaman tante gue, dan kejebak banjir bersama empat orang imbisil inijadi, jelas banget kan hari ini memang hari yang buruk. 'Bang, aku mau pipis!' Edgar makin menjadi- jadi. 'Tapi aku kebelet!' Muka Edgar menunjukkan dia tidak berbohong (ngapain juga dia boong). Dalam situasi seperti ini, gue sempat terpikir pengen nunjukin jiwa kepemimpinan sebagai seorang kakak. Gue pengen bilang, 'Edgar! Kamu buka kaca, kamu keluarin tit it kamu, dan kamu pipis deh sana!'. Tapi, gue urungkan. Gue takut mikirin reaksi mobil di belakang ketika Edgar mengeluakan tititnya. Bisa-bisa penumpang mobil di belakang kita bilang, 'Ih lihat deh! Ada cacing tanah keluar dari mobil depan kita! !h, cacing tanahnya goyang- goyang! Lucunyaaaaaa.... Ayo, kita pelihara satu di rumah! Eh..., tapi kok cacingnya kok ngeludah' 'Bang. kata Edgar lagi. 'Aku, Mau. Pipis. 'Oke-oke. Semuanya diam.' Gue menenang kan suasana yang mulai lepas kontrol. Dilihat dari macetnya Sudirman, gue dapet firasat, kayaknya di depan jalan protokol ini ter genang air. Makanya, mobil gak ada yang bisa maju. Mobil-mobil jadi mandek begini. Hal pertama yong harus gue lakukan adalah mencari jalan su paya bisa cepat pulang. Bagaimana pun caranya. Mata gue melihat ke kiri dan kanan. Di trotoar, motor-motor pada naik untuk menghindari macet. Akibatnya, trotoar malah sesak oleh motor. Di jalur lambat, mobil-mobil udah gak jalan sama sekali. Mobil kita ada di jalur cepat, sama mandeknya. Gue ngeliat halte Busway di pinggir jalan. 'Ahl' Gue menemukan ide brilian. 'Ayo kita naik Buswayl' 'Busway apa sih' kata Edgar, yang membuk tikan kalau dia terlalu lama dikurung di penjara bawah tanah. 'Itu lho, Gar. Bus yang warnanya kuning,' kata Ingga. Terus' kata Anggi. 'Ya, pokoknya warnanya kuning,' Ingga bilang lagi. 'Terus' kata Anggi ngeledek. 'Ih, kamu gak dewasa banget sih, Anggi, kayak anok kelas 3 ajal' Ingga sewot. 'Warna bisnya kuning semua' kata Edgar tiba-tiba, makin gak nyambung. 'KAYAKNYA GAK PENTING JUGA DEH.' Gue langsung menyelamatkan percakapan gak mutu yang hanya menghabiskan napas itu. 'Oke, kalian semua siap-siap ya. Kita akan keluar dari mobil, nyebrang jalanan macet ini, lalu naek jembatan penyeberangan, naek Busway, dan pulang dengan selamat.' Gue menginstruksikan rencana gue kepada adek-adek SD bermental Playgroup itu. 'OKE, BANG!' kata mereka. 'Ih, seru!' kata Anggi. 'Anggi,' kata Edgar dengan nada mengingat kan, 'ini serius tauk. Gue mulai ragu atas kemampuan mereka untuk pergi menuju Busway. 'Yudhit, kamu bawa Anggi. Edgar sama Ingga ikutan ama Abang.' Gue mulai membagi tugas masing-masing. Gue memberikan aba-aba dan membuka pintu mobil. Gue, Ingga, ama Edgar menyeberangi jalan yang emang lagi mandek banget. Kita akhirnya nyampe ke trotoar. Begitu sampai di trotoar, gue langsung berjalan menuju jembatan penyebrang- an. 'Hati-hati ada motor,' kata gue ke Edgar ama Ingga. Begitu nyampe di depan jembatan penye- brangan, gue nyariin Yudhit dan Anggi. Mereka ternyata udah gak ada di belakang gue. 'Dek, si Yudhit mana' Gue nanya sama Ingga. 'Gak tau. Bang. 'Edgar.' Gue nanya ke Edgar. 'Kamu liat Yudhit ama Anggi' 'Tadi sih di mobil ada. Bang,' kata Edgar. 'ITU MAH GUE JUGA TAU' Panik, gue langsung liat ke arah trotoar be lakang. Gue takut mereka diculik. Bukan karena takut nanti dimintain tebusan, tapi kasian aja ama yang nyulik mereka nanti, makannya banyak soalnya Gue mencari dan mencari. Menelusuri jalan balik ke ujung jembatan penyebrangan. Selelah beberapa menir, okhimya ketemu. Dan sewaktu gue menemukan sosok mereka berdua,. ternyata mereka lagi poto-poto di trotoar! Si Yudhit dengan gaya anak SMU-nya berfoto dengan kamera ho pe. Anggi juga ikutan poto-poto dengan senyum sok manisnya. Lalu, mereka ganti pose. Mereka berdiskusi mau poto di sebelah halte atau di deket trotoar 'Anggi! Yudhit!' kata gue sewot. 'Ngapain sih pake poto-poto di trotoar!' 'Abis Bang, ini pertama kalinya kita ke trotoar Sudirman. Bagus, warnanya merah,' kata Yudhit. 'Iya, Bang,' Anggi membela. Gue bengong. 'Udah! Semuanya balik ke formasi awal. Se muanya siap-siap naik jembatan penyeberangan lagi lalu naek Busway don pulong dengon selamat. Okeh' 'Bang,' kala Edgar tiba-tiba. 'APE' 'Aku boleh ikutan poto' Gue langsung nyariin motor yang mau ng e lindas Edgar. 'Ayo! Kita naek Busway dulu. Baru bisa poto- poto. Ok' Gue mengingatkan mereka kembali kepada tujuan kita semula. Naek Busway atau mati! Gue langsung inget film Saving Private Ryan, yang mengarungi arena perang untuk mencapai tujuan mereka. Gue dan adek-adek gue laksana prajurit-prajurit dalam fitm ilu. Bedanya, adek-adek gue bertingkah bagaikan balita habis disusuin ama trenggiling. Begitu naek jembatan penyeberangan, adek- adek histeris. Ini pertama kalinya dalam hidup mereka un tuk naek jembatan penyeberangan. Mungkin, bagi mereka jembatan penyeberangan ini seperti naik mainan di mall, bedanya gak ada lubang buat ma sukin koin. Gue dengan sekuat tenaga mencoba untuk mengalihkan napsu mereka untuk poto-poto di atas jembatan penyebrangan. Mereka bener-bener seneng naek jembatan penyebrangan. Wajar aja, soalnya adek-adek gue ini emang pecinta Dufan abis. Walaupun belom cukup umur untuk naik, mereka suka banget ama yang namanya roller coaster. Sedangkan gue Naek Istana Boneka aja muntah-muntah. Sesampainya di depan halte Busway, gue udah siap sujud syukur dan berteriak, 'Cobaan ini terlalu berat, ya Allah! Tapi hamba berhasil mengatasinya.' Eh, takdir berkata lain. Pas gue nyampe, satu detik kemudian pintu Busway ditutup. Slerekan besi diturunkan dan pintu Busway ditutup di depan mata gue. Adek-adek gue kecewa. Tapi gue lebih kecewa lagi. Perjuangan berat ke tempat ini, dihapuskan begitu saja. 'Maap, Mas, jalanan Buswoy mau ditutup. Buat lewat mobil pribadi. Macet banget soalnya. kata salah satu mas-mas Busway. 'Jadi gimana, Bang' kata Yudhit 'Oke. Kita balik lagi. kala gue. Aku mau pipis kata Edgar, 'Aku lapeeeeeeeeeeeeeeer!' kata Ingga. 'AAAAAAAAAH!' Saraf otak gue udah siap putus mendadak. 'Gini, kita cari WC sama tempat makan dulu, OK' Rencana pun berubah. Tadinya, rencana semula gue dan empat orang imbisil ini adalah pulang dengan cepat dan selamat Sekarang malah kita mencari cara supaya problem dasar kita semua terpenuhi: makan dan pipis. Setelah menyeberangi jembatan penyeberangan lagi, kita semua berdiri di depan sebuah gedung tingkat tinggi di Jalan Sudirman. 'Gimana kalau kita makan Wendy's' Gue menunjuk ke arah plang Wendy's yang terletak gak jauh dari tempat kita berdiri. Murah dan praktis, dalam pikiran gue. 'Gak mauuuu! Kan jongfut!' kata Ingga. 'Bang, makan di Crystal Palace aja Bang,' kata Edgar yang pengen makan di restoran chineese yang harga satu porsinya bisa membeli negara kecil di Eropa Timur. 'Engga, yang penting kita cari makanan yang muroh.' kata gue yong emang pelit 'Ini aja. Bang, restoran Jepang!' kala Yudhit menunjuk ke plang sebuah restoran Jepang yang dipajang di depan menara Sudirman. 'Yang murah, Dit,' gue mengingatkan, 'Udah, Wendy's aja.' 'Tapi aku mau restoran Jepang' kata Yudhit. 'Aku juga,' kata Ingga, Edgar, dan Anggi. Semuanya berkomplot melawan gue. Karena kalah suara, gue akhirnya mengalah. Kita masuk ke perkantoran itu dan naik lift ke lantai 25. tem pat restoran itu berada. Laper, capek, dan tentunya pusing ngadepin anak-anak ini, akhirnya kita nyampe juga ke lantai 25. Sampai pada saat ini, gue gak berani mengetahui berapa harga satu porsi makanan Jepang yang akan kita makan nanti. Pokoknya gak tau deh bayarnya gimana, yang penling selamet dulu. Begitu nyampe di sana, Edgar langsung nyari toilet (bukan mau makan di toilet, lapi dia kan dari tadi kebelet pipis). Gue dan yang lainnya langsung pergi ke restoran Jepang yang dimaksud. Begitu nyampe di depannya, ternyata sepi, ternyata lampunya mati, ternyata... restorannya tutup. 'KOK TUTUP' gue berkata setengah gak per- caya 'lya, kok tutup. Bang! Kok tutup Kok tutup' kata adek-adek gue hampir bersamaan. 'Bang, kenapa tutup Bang' 'ENGGA TAU JUGA, YA !' Gue sewot 'Jadi makan di mana Jadi makan di mona' kata Ingga. 'Iya Di mana. Bang' kala Anggi. 'Bang, gak ada WC,' kata Edgar, yang lagi lagi gak pernah nyambung. Krek! Krekl Suara urol olok gue yong sedikit lagi hampir putus. Gue stres berat ngadepin anak-anak ini. Gue berhorap akan ada orang-orang yang keluor dari lift dan berkota, 'SPONTAN! UHUI! Yok, Anda adodiacoro candid camera! Ini semua adoloh perekaman ocora "NGERJAIN ORANG GANTENG" yong disiarkan di SCTV! Oh ya, odek-adek Anda ini selama ini adalah kuda-kuda betina yang memakai kostum manusiai Mokanya mereka bertingkah laku liar seperti ini! Kecuali Edgar, dio manusia biasa. Tingkah aslinya emang kayak gitu.' Tiga menit kemudian kita sampai lagi di lantai dasar. Ternyata, setelah menginterogasi seorang sat pam, kita mendapat informasi bahwa ada satu restoran Thailand yang buka pada hari ini. Satu hal yang belum kita ketahui adalah restoran itu mohal apa engga. Dalam pikiran gue, bodo amat deh. Yang penting semuanya kenyang dan bahagia dan Edgor gak harus pipis di celana. Setelah mencari-cari lau, kita berlimo akhirnya nyampai di restoran tersebut. Restorannyo gede, bangkunya gede-gede, dan setiap mejo disusun rapi- Semacam restoran-restoran cina yong biasa dikunjungi keluarga Tionghoa sewaktu hari Minggu. Tipikal restoran mahal pokoknya. Salah satu sisi restoran ini dibuat full kaca tembus pandang. Jadi kita bisa ngeliat Jalan Jendral Sudirman yang ada di bawah. 'Berapa orang' kata mbak-mbak yang me nyambut. Keren, begitu kita terlihat keluar dari lift, udoh ada orang yong menyambul oja. Bajunya khas pelayan, dengan vest bewarna merah. 'Pokoknya segini.' Gue menunjuk adek-adek gue. Males ngitungnya. Dio lalu menunjukkan sebuah meja bundar, dengan kursi yang disusun mengelilingi meja ilu. Gue langsung duduk, dan Edgar seperti biasa mencari WC yang bisa dio hinggapi. Adek-odek yang lain ngeliolin Jalan Jenderol Sudirman dori balik kaca. Pantesan aja, ternyata ada genangan air di bagian depon jalonan, genangan ini yong membual semua mobil dari belakang jadi gak bisa Seorang pelayan memberikan menunya ke ta ngan gue. Halamannya pun gue bolak-balik sambil ngeliatin horganyo, mahal-mahal euy. 'Oke,' kata gue. 'Anggi. komu oda uang be- 'Ada seratus ribu, Bang.' 'Ingga' 'Ada lima puluh ribu.' 'Yudhit' 'Ada lima puluh ribu, Bang.' 'Edgar' 'Engga ada duit! Aku gak bawa dompet!' kata Edgar. 'Ih, Edgar berarti gak makani' kata Anggi. 'Soalnya Edgar gak hawa duit. Aku gak mou bayarin Edgar!' "Anggi!r kata gue lagai. 'Kamu gok boleh gitu, lini Edgar biar abang yang bayorin.' Gue ngeliat ke dalam dompet. Gue ternyata cuman punya selembar sepuluh ribuan. Gue berdehem sebentar, lalu bilong ke Anggi' 'Gi, kamu bayarin Abang ya. Edgar, kamu gak mokan hari ini.' 'HAAAAf AKU LAPEEERI' Edgar protes, 'Hoooh. Oke-oke.' Gus akhirnya ngoloh dan berencana memakai debit card gue untuk ngebo- yonn semuanya makan. Tapi semua makannya yang murah ya.' Tak lama kemudian pelayannya doteng, 'Jadi, mau makan apa, Mas' 'Hainan Chicken Rica,' kerta Ingga. 'INGGA! Yang murahi' Gua sewot. Lalu gue ngomong ke pelayannya.'U h, yang baru ketauan sih minumnya. Mas.' 'Apa minumnya' kata si pelayan. 'Air putih lima biji.' Gak berapa lama kamudian kita mesen ma kanan yang paling murah. Gak tau dah apa nomonya, Begitu makanannyo keluar, kita semua langsung makan. Semuanya normal-normal aja sebelum si Edgor teriak, 'Uek! Gak enak, Bang F' 'Iya, iya,' kata Anggi. 'Bang, kenapa kita gak makan di Wendy's aja' Ingga menunjuk ka arah jendela, di sihj terlihat plang Wendy's yang tertelak lepal di sebelah ge dung. Gue nyari-nyari sendok buat nyumbet idung Ingga. Tadi katanya gok mau makan di Wendy's pengennya di restoran thailand ini Kok sekarang jadi maunya ka Wendy's' Otak gue udah semakin mau putus. 'Tadinya gak mau. Bang.' kata Ingga 'Iya,' kata Anggi. 'Tapi sekarang jadi mau,' kata Edgar, tumben nyambung. 'KENAPA SEKARANG JADI MAO' gue makin sewot 'Abisnya makannya gak enak. Kayaknya enak- an Wendy's!' Gue diem. Suasana mencekam. 'Bong' kata Edgar. 'Kok diem' 'Abang kok diam' kota Ingga. 'DIEM LO SEMUAAAAAr Otak gue meledak Setelah. membayar makanan thailand yong namanya aja gue gak tau cara nyebutinnya, kita semua akhirnya duduk di pojokan Wendy's di lantai bawah Plaza Emerald. Nyokap dan Bokap sempet nelponin kita, dan mereka iagi dalam misi menyelamotkan anak-anaknya. Di depan, di Jalan Jendrol Sudirman, jalanan masih tidak bergerak. Menurut orang-orang yang gue telpon, macetnya tuh parah banget sampai orang yang naik mobil pada turun dan duduk-duduk di jalanan. Untuk menghabiskan waktu, gue nelpon Diva, cewek gue. Nyeritoin semua yang gue alamin hari ini, hari yang buruk ini, 'Jadi, banjir kali ini membawa hikmah, yo' katanya. 'Hikmah Kamu bilang dizalimi empat anak SD kebanyakan nonton Pokemon ini hikmah!' gue langsung sewot. Di sebelah gue, adek-adek lagi rebutan makan mashed porata. 'Engga, bukon gitu. Tapi coba kamu pikir deh. Akhir-akhir ini kan komu sibuk terus. Kuliah lah, ngerjain ini-itu lah. Jarang ketemu adek-adek kamu kan' 'Gara-gara banjir ini kan kamu jadi punyo waktu, berapa Enam jam bareng mereka. Gimona menurut kamu Paling engga kamu kan ngabisin waktu banyak bareng mereka l' Gue ngefiaM nr\p.'< nd^k gue yang masih re butan mashed potato. Edgor memasang tampang 'Bang-pengen-pipis'-nyo dio. Ingga membowa lari mashed potato yang jadi sengketa itu. 'Bener juga sih, kalau gak kayak gini gak ngumpul ya' gue bilang. 'Ho-oh, Kayaknya sih gitu yo.' Gue jadi nyadar satu hal: hari ini memang buruk, tapi tanpa adek-adek dari neraka ini... Hari ini bisa jauh lebih buruk. Gak. Bisa, Jongkok. Selama gue hidup, gue selalu menganggap "pengusaha" itu status yang keren banget. Yong namanya pengusaha itu pasti make jas, rapi, bersih, dan kerjaannya rapat melulu. Tapi, anggapan itu hancur setelah gue ketemu seorang pengusaha yang berusaha di bidang, ehm, "penyewaan" WC Umum. Gak enak banget kalau jadi pengusaha WC seperti ini. Soalnya, agok- ogak gak elit aja kan seandainya si pengusaha ini nongkrong bareng Gubernur atau orang-orang penting don ditanya, 'Apa yang kamu lokukon sehari-hari' 'Soya berbisnis,' jawabnya. 'Oh ya Bisnis apa' 'Bisnis WC 'Bisnis apaan tuh' 'Intinya, soya membantu orong berak.' Gue ketemu pengusaha WC waktu gue lagi mengarungi kota Tosikmaloyo dalam perjalanan tofkshow di sebuah Gedung Olahraga di Tasik malaya. Pas lagi mengarungi jolananan kota yang a nta h - be ra nta h i ni denga n m ob i I, g u e k e bel el boker Untungnya, kita menemukan sebuah WC umum di samping lapangon Sukapura. Bagi gue yang lagi di ujung tanduk, menemukan WC umum seperti itu serasa nemu pencerahan dari surga. Seakan-akan ada kata-kata suci yang bersahul-sobutan, seperti di film-film tentang maluikat- Huleluya! Haleluya! Betapa tenlramnyo rasa hati. Oke, pikiran kembali ke celana. Gue bergegas turun dari mobil dan berjalan ngangkong ke arah tulisan besor 'WC UMUM': Tempatnya cukup bersih, dengan WC yang di bagi ke dalam ruangan-ruangan kecil. Di depan gue odo dua WC kecil, dan di samping kiri gue ada WC yang lumoyon besor. Di deket pintu salah satu WC oda kolak dengan tulisan "seribu rupiah". Tiba-tiba, gue mendengar suara, 'Ayo nu fioso dibantai'' Gue menengok ke belakang dan menemukan seorang mbok-mbok gempal berjilbab dengan baju hilam yang berjalan agak bongkok. 'Apa' gue berkala tidak mengerti apa yang barusan dia omongin. 'Ayo nu tiosa dibon tas' 1Ada yang bisa saya bantu 'Siapa nelen men tos Saya dari Jakarta. Tidak ngerti' gue berkata seadanya berharap di Tasik malaya masih oda orang yang bisa berbicara de ngan Bahasa Indonesia. 'Heh. Heh. Heh' si mbok tertawa terkekeh. Sekarang gue jadi bingung, nebak apakah dio mbah dukun apa juragan WC. 'Baker. Gak lahan.' Gue berkata dengon kikuk sambil nunjuk-nunjuk ke arah pantat. Berharap ge rakan tangan gue yong menggambarkan seolah- olah ada yang muncrat dari pantai bisa membuat dio paham kalau gue logi buluh WC. 'Hmmm.' Dia diam tanda mengerti. Gue rasa, pengalaman berpuluh-puluh tahun mengelola WC menguatkan empati dan jadi lebih peka terhadap orang-orang yang emong lagi kebelet. 'Yong besor aja,' katanya kepada gue. 'Yang besar Aponyo yong besar1 'Yang besar aja,' kotanya mengulangi. 'WC-nya' 'ryo' Gue lalu diantorkon ke pintu WC yang memang lebih besor, yang terletak di sebelah kiri. Dengan gaya keibuan, dia mengantarkan gue masuk. Ak- himyo, dia memberi tanda dengan bohasa tubuh, dia akon meninggalkan gue. 'Iya, tinggal aja.' Dio menutup pintu saat keluar. Begitu pintu ditutup, gue langsung melihal ke depan. Ini adalah WC teraneh yong pernah gue lihat. Besarnya sekilor 4 x 6 meter dan isinya gen- long semua Gue shock. Gue melihat ke depan, ke atas, dan ke bawah. Gue engga menemukan jamban sama sekali, sejauh mafa memandang hanya ada gentong-gentong berwarna biru dan lanloi WC dari marmer. Olak gue mikir, jangan- jangan gue disuruh baker di dalem gentong. Tapi, di dua WC kecil lainnya ada jambannya kok. Olak gue mikir lagi, jangan-jongan ini memang tradisi kota Tasikmalaya yang gue gak tau, 'Wahai kaum pendatang, bokerlah di dalom gentong!'. Gue membuka pintu WC dan berteriak manggil si Mbok Tasik dengan Bahasa Indonesia yang ter- bata-bato, 'Maap. Baker. Gak. Bisa, Gentong' Dia terlihat bingung. 'Bolong. WC. Gak. Ada.' Dio manggut-manggut sebentar lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri guo. Gue memer hatikan dia berjalan ke dalam WC lalu menunjuk ke arah jamban yang ternyata tersembunyi di belakang, di antaro pojokan tembok. 'OOOH! Iya. Iya. Maap!' Dia lalu meninggalkan gue lagi. Dan kembali di sinilah gue, di hadapan gentong-gentong besar bewarno biru dan bolongan WC yong majok sendirian di antara tembok. Gue diem. Gue bukan ahli soal WC-me-WC, tapi dori hanya melihat saja, gue udah tahu bahwa luh jamban terlalu mojok dengan tembok, terletokdi sudutantora dua tembok yang tidak memungkinkan gue untuk jongkok dan melaksanakan lugas gue dengan boik. Dengan pakaian lengkap, gue mencoba untuk membuktikan kekhawatiran gue. Jongkok dikit, dan DUK! Tiba- tiba pantat gue kena sudut tembok. Gue berdiri dan menghela napas. Pikiran gue jodi berkecamuk, apakah si mbok sewoktu mendirikan usaho WC ini tidak melakukan konsultasi dengan orsitek yang bagus, kok biso- bisanya membuat jamban jongkok lapi gok bisa digunakan seperti ini. Gue jadi herpikir kembali, apo jangan-jangan mereka pengen gue boker de ngon posisi setengah nungging. Hmmmmm. Gue membuka pintu WC dan memanggil si mbok. 'Ini- WC. Jongkok. Gak. Biso.' Gue bilang pe lan-pelan. Mukanya keliatan sangat bingung, 'Jongkok' kalanya dengan muka heran. 'Bukanl Bukannyo gak biso jongkok! WC-nya. Aneh.' Gue bunj-buru membenarkan. Jangan- jangan dia ngira kalo gue gak bisa jongkok. Masak sekolah tinggi-tinggi tapi jongkok aja gak becus. Harga diri gue dipertoruhkan. 'WC-nya. Yang. Aneh.' Gue kembali menekankan. Dia manggut-monggut sebentar. Terlihat agak hingung, lalu poda akhirnya masuk ke dalam WC tersebut bersama-sama. Gue mempraktekkan gaya jongkok gue yang kepentok tembok dan berkata, 'Gak. Bisa. Pas. Pantatnyo.' Entah mimpi apa gue semalem, niotnya mau falkshow eh maloh nungging-nungging atas-bawah di dalem WC, entah di sudut mana kota Tasik, 'Kok ketawa!' Gue selengah lidak percaya dia lagi tertawa. Gak lucu sama sekali! Seorang customer perusahaan WC-nya sedang mengguna kan produknya don lidak berhasil boker karena pantatnya mentok tembok itu engga lucu loukl Nonton Tuku. digigit beruang mungkin lucu, lopi pelanggan yong gak bisa boker karena kesalahan konstruksi WC kayak ini sama sekali gak lucui Gue memasang muka protes. Si mbok menginstruksikan koki gue untuk ke depan sedikit. Gue, yang masih, setengah nungging, memajukan kaki dan gue akhirnya libo dalam posisi jongkok sempurna. Pantat gue pas bonget mepet sama tembok, topi udah gak mentok lagi. Ternyata, emang hanya perlu dimajuin dikit lagi. Si mbok tertawa, memberikan picingan mata yang berarti 'Goblok lo, Anak Monyet!' don akhirnya pergi. Orang bilang, usus gue pendek. Gak cuman di tengah kota Tasik gue kebelet boker. Tapi hampir di SEMUA tempat yang gue arungi pasti pernah gue bokerin. Nah, ketidakmampuan gue untuk menahan boker ini dianalisis temen- temen gue yang soloy. Kebanyakan dari mereka (dengan bergaya seperti seorang Dr B-dokfer spesialis boker} pasti bilang, Tau gak, Itu artinya usus lo pendek'. Harus gue akui, gue amat sangat sering banget kebelet bokernggak kenal waktu dan lempot. Kapan pun gue jalan sama temen, keluarga, alau pacar hampir pasti gue boker. Entah usus gue emang bener kependekan atau iangan- jangan gak punya usus sama sekali. Kebelet boker juga bisa mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yong gila. Beberapa hari sepulang dori Tasikmalaya, ketika mobil gue masuk tol Cawang, gue kebelet boker (lagi). Di sebelah kiri duduk Deta, temen di majalah tempat gue kerja. Kebetulan kita baru dari Taman Mini Square untuk ketemuan sama seorang penulis. Perut gue bergejolak lagi. Mampus. Pasti gara-gora pizza jahanam yang todi gue makan. 'Deta.' Gue memanggil Dela yang dori tadi bengong ngeliatin jalan tol. 'Ape' Dia nengok ke orah gue, 'Gue, Kebelet. Boker. Sumpah' 'Najis lu. Kayak ayam aja. Boker di mana-ma- Gue cumon nyengir. Beberapa menit kemu dian, gue diem aja. Takut terjadi hal-hal yang tidak d'inginkon. Seperti boker di muko Deto. 'Deta,' gue manggil dia lagi. 'Apa!' 'Gue kebelet nih l' 'Ya udah! Keluartol di Cawang aje.' Si Deta ini koyaknya Betawi tulen. Gue melihat arah keluar tol Cawang. Di sono banyak mobil ngantri keluar. Mampus. Gue gak mungkin biso lahan kalau harus ngantri segilu panjang dengan mobil-mobil Mu tadi. Akhirnya, gue nerusin tol, gak mau keluar di Cawang. 'Gimana kalo kila nepi' kala gue sambil melihat bangunan kecil di sebelah kiri tol. Untuk menghindari Dela mengira gue bakalan boker di bahu jalan, gue langsung bilang lagi, 'Kayaknya ada tempat peristirahatan gitu deh di sebelah kiri.' 'Bukan, ah H Dit.' 'Iya ya' gue agak ragu, topi gue lanjutin aja mobil ke arah depan. Beberapa meter kemudian, gue nyampe ke pintu tol. Pas lagi bayar karcis, gue buru-buru turunin kaca dan nanya ke mbak-mbak tol, 'Mbak, tempat peristirahatan di mana ya' 'Resting area' 5i mbak-mbak agak mikir dikii, 'Apo pun namanyal Yang penting ada WC- nyal' gue berkata penuh birahi. 'Oh ya, Masl itu tadi aturan nepl! Itu mah ada WC-nya!' si mbak dengan semangat menunjuk ke arah bangunan yang kila lewatin tadi. 'Anjrit. Lu sih, Dett' gue misah-misuh sambil meneruskan perjalanan. Gue mencari cara cepet. Perut gue gak main-main. Gue langsung ngebut. Gimana pun caranya gue harus keluar dari pintu tol ini di tempat yang ada peradabannya dan langsung boker. 'Det,' gue ngomong lagi ke Deta sambil meng alihkan pikiran gue dori rasa ingin boker yang mohadasyat. 'Lo tau gak' 'Apa' kata Deta. 'Ujungnya udah nongol nih.' ANJRIT, LO JOROK BANGET. HOEEEKI' Gue terkekeh kecil. 'Enggo deng. Gue boong- 'Sialan lu.' 'Topi sumpah, Del, gue udoh gak tahan bangs!.' Gue ngomong dengan muka merengut- rengul. Tahan, bentar lagi kila ke Carrefour. Kita ke luar aja dari sini.' Deta menunjuk ke arah jalur keluar tol. 'Di sini2 Lo yakin ado Carrefour di sini' 'Kayaknya sih.' 'Oke,' gue banting setir dan keluar dari tof. Begitu nyampe di luar, muka De'a menunjukkan muka bingung. Dio celingukan ke arah jendela, menelan ludah khawatir. Dia bergumom sendiri, ' Ca rref o u rnya mana ya' 'Ya ampun! Lo seneng yo kalo gue matiSI' Gue berkala dengan nado yong terlalu didramatisir. Seolah-olah gue adalah seorang tokoh dalam si netron picisan, diiringi musik suram, berkata podo pacarnya tercinta, 'Sayang, oku akan mati. Kata doker, aku kena penyakit... gak bisa boker AKU AKAN MATI KEBANYAKAN BOKER DALAM LIMA HARU' Gue membenarkan topi warna cokelat di ke pala. Keringat yang mulai bercucuran gue seko dari kening. Soal itu jam dua belas siang dan matahari gak bisa lebih panos lagi. Di depan mobil ontrian mobil lain yang panjang bonget. Makin Gue mendiagnosis perasaan gue sendiri. Ka yaknya tinggal nunggu waktu aja sampai gue ngising. Sekali ngedan, habislah sudah. 'Gue loper nih, D i t,' kata Deta tiba-tiba di tengah suasana mencekam ini. 'Kebetulan, gue mo baker,' gue berkata sinis. 'Sialan lu. Topi beneran nih, gue kalo kelaperan bisa nangis lho' 'La kalo kelaperan nangis' Gue menaikkan alis tanda keheranan. Koyak nya, "baru kali ini gue nemuin orang yang biso kelaperon banget sampe dio nangis. Tervs. sumpah ya uda'anya panas bongel. Gue kolo panos banget gini bisa pingsan.' Tunggu.' gue menengok. 'Lo kolo kelaperan bisa nangis, dan kalo kepanasan pingsan' 'lye,' Deta berkala singkat. Gue mosih setengah lakjub. Untung bukan Deta yang lagi kebelet boker. Kalo Deta boker pas lagi kepanasan, bisa-bisa dia pingsan di WC sambil boksr-hoker. Gak etil bonget. Belom lagi kalo dio juga pos logi kelaperan. Biso-biso dia boker SAMBIL npngis SAMBIL pingsan. Kasian banget jadi Deta. Gue jadi memendam rasa iba. 'Kenapa tampang la gitu' 'Gue kasian aja ama lo.' 'Hah' kota Deta. 'Udah lu pai n.' Gue mencoba menghentikan pembicaraan ini. Ketika mobil masuk ke salah satu gang di Pancoran Timur, gue akhirnyo memberhentikan mobil di pinggir jalan. 'Lo mo ngapoin lo' Deta terlihat panik. 'Gue gak tahan lagi. Sumpah. Itu di depan oda laundry. Gue coba ketok dan gue coba selametkan diri gue di sana,' 'Sumpe dah roda tigo.' Gue ngeboles Deto yang sempetnya ber-'sumpe lo' dengan gaya ABG minta ditimpuk pake bata. Maka, di tengah siang bolong, gue megongin perut ngetok-ngetokin toko laundry. Sialnya, pin tunya gok dibuka-buka. Gobloknyo, ternyata di kaca ada tulisan gede-gede: CLOSED. Gue berharap akan terjadi keojaiban dan kota CLOSED terganti menjadi CLOSET. Tapi yang terjadi malah perut kembali SMS minta diperhatiin. Gue me rasa udahkepalangtonggung. Didorong oleh rasa panik yang amal sangat, akhirnya gue nekad lari ke daerah perumahan di sebuah gang sempit. Di gang sempil ilu, mosih megongin perul, gue celingukan nyoriin rumoh yang bisa disalronin. Gue melihat di teras salah satu rumoh oda ibu-ibu dan anaknya. Gue langsung dengan semangat bilang, 'Bu! Ado WC!' 'Mo' si ibu koyaknya masih shock. 'Ada WC' gue berkala dengon nada yong sama seperti orang bilang, 'Ada beras Bagi dong.' "WC sih ada' kota si iba, 'pinjem WC boleh Di rumahnya ada WC' 'Ada sih' kalanya. Dia lalu berhenli sebenlar lalu n gamang dengan terbata, 'Tapi ka-kayaknya I a-lagi di-dipakai bapak deh' Gue mendengus. Ada sedikit rasa curiga da lam kepala gue. Jangan-jangan dia boong karena mengira gue adalah penjahot. Dia mungkin lakui setelah dapet WC-nya gue akan teriak dari dalem, 'Saya minlo 100 juta, otau saya tidak akan keluar dari WC Anda! Paham itu! Dan [angan lapor Si ibu-ibu menunjuk satu rumah dengan antusias, 'Tuh, rumah yang di ujung itu. Coba aja Gue curiga, ada apa kok dia mereka mendasi - 'kan rumah itu Pikiran gue berkecamuk, apakah emang dio WC-nya paling elit di daerah gang ini Apakah WC-nya dia ada banyak Apakoh rumohnya WC semua Gue menghempaskan segala pertanyaan itu dan bergegas melaju ke rumah yang dimaksud. Begitu nyampe di depan rumah yang dimaksud, gue teriak-teriak, 'Salamualaikuml' Tiga detik kemudian dateng seorang mbak- mbak agak item yang memerhatikan gue dengan pandangan heran. 'Ada apa ya, Mas' katanya. 'Gini, Mbak,' gue berhenti sebentar. 'Ini mung kin terdengar agak aneh.,,.' Topi saya mau minjem WC 'Apa' 'Mau minjem WC 'Apo WC' 'KEBELET BOKER.' 'OMI' Dia berkota seolah-olah menemukan moto rantoi yong lelah hilang. Dia lolu bergegas membawa gue melewati dapur. 'Sini, sini. Maap da purnya berantakan,' katanyo sambil terus menun jukkan gue jalan. Dalem bati juga gue oak peduli mau dapurnya berontakan atau engga. Pikiron gue cumon satu; yang penting WC-nya gak gabung ama jemuran. bukan sulap bukan sihir.' ada ikan di dalam bak 'Ini dio, Mas, maap berontokan.' 'Iya, maka sih yah. Mbak.' Gua melihat sekitor sebelum gue rrtenunaikan tugas suci itu. Komar mandinya cukup sempit dan tidok leflalu besar. Begitu gue ngelirik ke bak mon- di, gue ngeliat oda banyak sekali benda item be renang-berenang. Kaget, gue mundur ke belakang. Pertama-tama gue kira itu lintah yang biso bere nang. Gak taunya nih orang melihnra ikan di bak mandil Gila. Apa gak ada WC normal yang bisa gue temuin di tempat seperti ini Sebelum gue sempet berkala opa-apa, si mbak bilang dari luar, 'Mas, itu di bak ada ikannya biarin aja yo.' 'Oh iya,' bales gue dengan kikuk. Kayaknya si mbok takut kalou ikannya gue jadiin alot cebok. 'Ikan itu,' katanya lagi. 'Bual makonin telanya nyamuk demam berdoran. Biar gak kena gitu.' 'Oke!' Gue teriak dari dalam. Gue ngeliat ke jamban yang mepet dengan tembok. Ngeliat logi ke ikan yang di deket bak mandi berenong-berenang. Lalu, gue mulai ngerasa gok kebelet lagi. Kacang untuk Palentine Sapi gue loncat pager,' kata Noya di seberang telepon. Naya adalah adek kelas gue, semenlora gue sendiri waktu itu keios 3 SMA. Sedangkan sapi yang lagi digasipin adalah sapi yong akan digorok untuk Idul Adho tahun itu. Sapi itu dibeli oleh keluarganya dan ditaruh di rumahnyo, sampai liba-tiba tuh sapi loncat sendiri. Ini semua terjadi satu hari sebelum Idul Adha. 'Sapi lo loncat pager' gue mengulangi per kotaan Naya, selengah gok percaya. 'lyeeeeh! Sapi gue tiba-tiba loncat pager rumahi Terus, lari berkeliaran ke jolan. Sekorong, lagi dicoriinl' Sapi loncat pager menyela m a ikon diri Bom bastis. Ini bisa menjadi inspirasi untuk perfilman Indo nesia. Kayak film Free Willy, yang cerita tentang seekor ikan paus yang mencoba untuk lepas ke alam bebas, kisah sapinya si Naya ini bisa juga difilmkan menjadi free Sapi- Kisah seekor sapi berjuang melepaskon diri dari maro + bahaya jadi Tiga jam kemudian gue menelpon Naya kem bali. Gus bilang, Gimana Nay Sapinya udoh ke temu belom' 'Belom! Heran, ke mana yob tuh sapi' Naya bilang penuh kecemasan. Gue berpikir keras. Wah, sopi yang kabur dari rumahnya Naya itu koyoknya sapi pinter. Udah tigo jam dicariin tapi gak ket e m u-ketemu. Gue berpen dapat sekarang tuh sopi udah dapet baju bekas nganggur don menyomor di antara manusia de ngon kocomota hitam dan topi lebar. Bombastis. 'Kenapa yoh tuh sapi bisa Joncat pager segitu tinggi ya' kata Naya. Gue bilang dengan penuh kesotoyan, 'Hmmm. Ada dua teori yang bisa menjelaskan perilaku sapi lo itu: Pertama, dia mendapat firasat lewat mimpi. Misalnya nenek sapi dateng ke mimpinya dia, terus bilang si sopi bakal digoreng. Nah, abis itu dia berusaha sekuat tenaga untuk kabur dengan loncat pager.' 'Yang kedua' 'Kedua, dia sapi jagoan, manlan preman sapi tanah obong yang ditokuti oleh sapi-sapi ibukota. Ado codetnya gak di pipinya' 'Sapi lo,' kata Naya. 'Gak membantu sama sekali' Sampai sekarang gue juga gok tau apakah sapi yang menghilang secara misterius itu berhasil ditemukan atau tidak. Tapi fenomena sapi-foncat- pager ini merupakan salah satu fenomena yang gue gak bakal lupa seumur idup gue. Aneh abis gitu, bisa-bisanya ada sapi loncat pager. Mungkin tuh sapi emong ketakutan banget kafi ya, Soolnyo, proses pemotongan hewan-hewan Idup Adho itu juga cukup tidak berkeperisapion. Satu sapi diambil, terus lehernya digorok sampe putus. Padahal, ada banyak sapi-sapi laen yang ngeliatin gimana lemennya digorok gitu. Heran, matanya ditulupin kek, apa kek. Gue sendiri engga tertarik nonton pemotongannya, faktor utamanya karena selaen takul dikira sapi lepas (ketuker ama sapinya Naya), gue [ugo logi mules sakit perut seharian. Terakhir gue nonton sapi malah jadi agak-agak trauma, gara-gara sapi yang lehernya udah putus itu sempet lari-lari keliling lapangan tanpa kepola. 'Terus gimana' kala Naya. 'Lo udah beliin ce wek lo kodo Valentine belum' 'Oh iya' gue mengaku lupa. Idul Adho kafi ini, tahun 2003, memang ber tepatan dengan hari Valentine. 'Lo belom beliin cewek lo apa-apa' Naya di seberang telepon bertanya dengan nada heran. 'Cokelat juga gak lo beliin' 'Eng,.. engga. Kado Valentine, cokelat gitu, penting ya' gue membela diri. Semua orang tau hari Valentine adalah hari yang identik dengan cokelat. Hmmm, cokelat. Gue suka banget apa yong dibilang somo Forrest Gump, 'life is tike a box of chocolate. You'll never know what you gonna get.' (Hidup itu seperti sekotak cokelat. Kamu tidak okan pernah tahu apa yang komu dapat). Tapi, kalo bagi gue kali ini: hidup itu seperti sekolak cokelat. Kadang-kadang ada tahi Hari Valentine adalah hari yang di nan lr-nanti kan deh mereka yang punya pacar. Orang yong punya pacar juga nunggu-nungguin, khususnya untuk menyatakan cinta. Tapi entah kenapa be- berapo anak di sekalah ada yong sensitif dengon hari Valentine ini, entah karena tidak mendapat cokelat. Tidak mempunyai pasangan untuk sekadar merayokan, atau mungkin olesan-alesan berot seperti Valentine sebagai strategi produsen cokelat untuk meraih untung dolom jumloh banyak atas nama cinta. Banyak juga yang bilang 'kata agama kan gak boleh'. Gue berkata kepada Naya, 'Sebenemya, gue agak-agak kurang setuju dengan ide cokelat se bagai makanan wajib di hari palenlin ini' 'Kenapa' kata Naya. 'tyn, soalnya cokelat bisa bikin jerawatan. Malah, gue pernah denger ada arang yang me ninggal gara-gara cokelat' 'Serius' 'h'a, lagi nyebrong jalan terus ketabrak truk Cokl-Coki' 'Gembel,' bales Naya sewot. Tapi, memang sampai sekarong gue sangat menentang cokelot sebagai makanan wajib untuk valenline. 5elain karena olesan goblok di alas, cokelat itu juga harganya mahal. Coba bayangkan jika satu bungkui Beng-Beng ilu dua ribu rupiah, maka sepuluh ribu Beng-Beng kan berarti 200 juta rupiahi Mahal bongell (h'e, sapa juga yang mau beli sepuluh ribu Beng-Beng). Karena faktor-faktor yang merugikan cokelot tersebut, gue berpendapat jika sualu hari gue men jadi Menteri Pertahanan, gue akan mewajibkan di hari valenline untuk so fin g memberi kacang (emang ga nyambung sih omo lugas Menteri Pertahanan). Sepanjang percakapan telepon itu, gue mem promosikan kacang sebagai pengganti cokelat Valentine kepada Naya. Soalnyo, selain ringan, bentuknya menggemaskan, biso dibawa ke mana- ke mana, kacang juga bisa jadi alat perlindungan diri sendiri. Contohnya, kalo kita lagi diserang omo penjahot, sumpel aja bolongan idung nyo pake kacang1. Dijamin dia akan sesak napas, tapi Hari- holi dibacok duluan waktu lagi berusaha keras mencari bolongan hidungnya. Namun kegunaan kacang yang paling penting j di hari Valenline sendiri, adalah biso bermain de ngan pasangan. Ya, kita bisa bermain mengguna- kan kacang dengan pacar kita. Noma permainan yang ciptakan secara orisinal ini bernama Meriam Kacang atau disingkat Mercang. Berikut langkah-langkahnya: PERMAINAN MERCANG 1. Siapkan kacang atom yang masih fresh, semakin 'kriuk' semakin bagus, jangan pilih ) kacang yang bopeng, harus bulat sempurna, 2 Masukkan kacang tersebut masing' ke dua lubang hidung anda. Awas. anda harus bernapas melalui mulut sekali lagi: jangan narik napas lewat idung! Sudah cukup korban jiwa yang berjatuhan. 3. Tarik napas lewat mulut 4. Keluarkan udara lewat hidung sekencang- kencangnya. Voih! 5. Kacang akan meluncur jauh! Permainan ini bisa dicoba untuk 1-4 orang bareng pacar. Atau, kalau berani, bareng pacar dan selingkuhan Kacang yang paling jauh terlempar adalah pemenongnya. Tips: Sebaiknya bermainlah di tempat yang sepi, dan jangan mengganti kacang dengan duren. pokoknya ja ngan! Giat-giatlah mencoba dan siapa tau anda bisa mengembuskan kacong sampai dua meter! {lye, abis ilu langsung radang paru-paru}. Selelah menjelaskan Mercang di telepon ke Naya, dia bilang, 'Dith, lu gak jelas banget. Sumpah, tadi ngomongin sapi codeton lah, sekarang cokelat lab, lalu jadi meriam kacang. Udah dulu ye. Gue mo nyari sapi gue yang lepas.' 'Oh, oke,'kayaknya Naya udah sadar kalau dia menghabiskan waktunya di telepon dengon orang idiot- Setelah Naya nutup telepon, gue langsung nelpon Sislha, cewek gue waktu itu. 'Sis, kamu di mana' gue nanya. 'Di rumah,' 'Kamu gak ke mano-mana yo Aku nanti ke sana ya.'. Gue engga ngajak Sislha untuk maen Meriam Kacang. Bukan, bukan karena Sislha gak punya lobang idung, lapi lebih karena di hari Valentine ini gue mau ngasih dio hadiah yong lucu-lucu aja. Gue langsung berangkai ke Pondok Indah Mali untuk nyariin kado Valentine untuk Sislha. Sesampainya di PIM, satu-satunyo benda lucu yong gue lemuin adalah sebuah boneka Bulldog dan cowok yong celananya bolong di belakang. Gue memilih untuk membeli boneka Bulldog buat Sislha. Gak ada olesan tersendiri sih kenapa harus boneka Bulldog, Gue cuma ngerasa kala boneka yang gue lemuin di PIM itu cukup lucu, dan Sislha posi i seneng. Walaupun hadiahnya sederhana, yang penting kon niat lulus dan kosih sayang yang ditanamkan ke dalam benda itu (bilang aja gok kreatip). Tiga puluh meniidari PIM, gue berhenti di depan rumah Sistha untuk ngasih kado itu. Sesampainya di sana, gue langsung kasih dan terlihat mukanya berseri-seri. Dia membuko kotak koda yang gue beli dan mengeluarkan boneka Bulldog tersebut dari dalam. 'Mokasih yah' dia berkota manis. 'Lucu ba- ngeeeetl' 'Ah, biasa aja kok' gue sok cool. Sehabis itu, gue longsung membawa mobil pulang dengan rasa cinta yang amot sangat. Senyuman gue melebar sampai melewati kuping. Eh, gak berapa lama kemudion, hope gue berdering. Sista di seberan telepon berkala, 'Eh, eh. Kamu tau gak' 'Kenapa Sis' 'Uhh. Hadiah komu nih,' katonyo. 'Bekas hor- ganya belom dicopot.' Gue ketawa garing, penuh rasa malu. Gue mencari alasan pintar mengenai tertinggalnya bon harga itu, topi gak ketemu-ketemu. Gue gak bisa ngeles logi. Sistha cuman ngetawain gue, dan gue gondok segede telor pinguin. 'Naya.' Gue langsung nelpon Noya sehabis itu. 'Lo tau gok' 'Kenupe' Naya berkata dengan tak acuh. 'Gue seharusnya ngajakin Sislha maen Mer cang daripada beliin dia boneka Bulldog. Sumpah gue malu banget, bon harganya ketinggalan. Apa sebaiknya gue balik lagi ke rumoh dia sambil bawa kacang' 'Dith,' kota Naya. "Ya' 'Lo itu idiot. Gue nyari sopi gue dulu ya' dia lalu menutup Telepon. (.)() Di Australia, gua kuliah di sebuah Universitas bernama Adelaide University. Katanya sih salah satu universitas negeri yang bisa dipandang, kecuali kalau kealangan pan tatnya Pretty Asmara, jadi gak bisa dipandang. Prestasinya universitasnya sendiri pun cukup mem banggakan. Salah salu muridnya yang waras ber hasil mendapatkan hadiah Nobel. Sementara, muridnya yang kurang waras ternyata menjadi pelaku pengeboman di kedutaaan besar Australia di Jakarta. Pelajaran di Universitas ini sebenernya gak xsusah-susah banget, asal ngikulin juga bisa tulus mata kuliah dengon selamet. Sayangnya, waktu gue di kelas sebagian besar digunakan untuk tidur dan merontang eksperimen: upil manakah yang lebih besar, dari lobang idung kiri oto kanan Kalo gak tidur sambil menggigil pensil, gue jugo poling mencoret-coret catetan dengan gambar dosen yang lagi ngajar. hari pertama gue masuk Adelaide University, gue ikutan kelas Matematika. Matemolika adalah satu mata kuliah wajib untuk jurusan Finance yang gue ambil. Sebelum gue ikutan kelos Matematika, gue udah diwanli- wanti oleh murid Adelaide University yang lain. Mereka bilang, kebanyokan dosen matemolika itu aneh-aneh. Gue sendiri gak tau kenapa, gara-gara kebanyakan mikir otou karena gedung motematiko itu terletak di sebelah tempat sampah. Begitu masuk kelas, ekspektasi gue udah tinggi banget. Ini hari pertoma gue kuliah, dan gue nggak sabar pengen cepet-cepet ngalamin gimana rasanya diajar oleh dosen universitas bertaraf internasional. Gue termasuk orang yang belakangan dateng ke kelas. Kelas udah penuh. Bangku kelas disusun di undakan-undakan, kayak di bioskop. Gue ngambil tempat duduk di lengah. Melihat sekeliling, gue udoh mulai paranoid sendiri. Anak-anak murid yang lain terlihat begitu pintar. Ada yong sibuk mengutak-ati k laptop. Ada yang mencorel-coret ker tas. Ada yong kacamatanya kedodoran. Gue tou banget, mereka pasti orang pintar. Gue selalu berpendopat orang pintar punya aura yang lain dibandingkan dengon orang biasa. Seakan-akan mereka punya "bau" yang berbeda dengan orang sekitarnya. Sedangkan gue Kalau gue lewat, biso-biso orang yang mencium bou gue berkata, "Lu make shampo anjing yo tadi pagi" Beberapa saat kemudian, dosen Matematika yang mengajar pun masuk. Dio melihat-lihat ke sekitarnya. Dia mendongak ke atas, ke kiri, dan ke bawah. Lalu dia berteriak. 'Good evening!' Anak-anak murid semuanya mem balas. Hal pertama yang terlintas di kepala gue adolah: guru ini tampangnya mirip Alf, alien yang idungnya kayak titit berkerut don bermuka ble'e 'Saya masih ingat,' katanya dalam Bahasa Inggris. 'Ketika saya belajar di kelas ini, dan soya duduk di sana!' S! Alf menunjuk ke sebuah bangku. Gue gok biso nangkep jelas ke arah mana yang dia tunjuk. Semua mata memerhatikan si Alf. Dia kemudian mencari-cari kapur di bawah papan tulis dan menulis di papan tulis nama lengkapnya. CTAK! Kapurnya patah. 'Fv*k!' katanya. Gue bengong. Satu kelas bengong. Ini bener-bener dosen Ada gitu dosen ngo mong kayak preman Tanah Abang Dia lalu ngelap tangan ke baju hitamnya, sehingga bekas kapur terlihat sangat jelas1 di deket tangan. Gak tanggung-tanggung, dia lalu ngelap kacamotanya. Sekarang, kacamatanya berlumuran kapur. Dijamin dia gak bakalan jelas ngeliat kita. Dia menyebutkan nama lengkapnya, seperti yang tertera di papan tulis, lalu menjelaskon topik matematika yang akan kita pelojon. Sesuatu tentang matrix lanjutan. 'Ah, matriks,' gumam gue. 'Gampong.' Sepuluh menit kemudian, pelajaran berisi pengulangan tentang soal-soal matriks yang gue dapati n sewaktu SMA. Gue monggul-manggul ngerti. Sepuluh menit berikutnya, pelajaran tam bahan tentang matriks. Gue cuman mengerutkan alis. Sepuluh menit berikutnya lagi. pelajaran ma triks lanjutan. Gue mulai mango p. Sepuluh menit berikutnya lagi, matriks tingkat otos. Gue kena pendarahan otak. Rasa tidak percaya diri mengalir dalam dada. Kak gue gok ngerti sama sekali apa yang dia omongin, ya Di sebelah gue, duduk cewek chinese memakai tanktcp hijau. Selama gurunya menjelaskan, dia manggut-monggul aja. Kok biso-bisonyo dio mang- gut-manggut Dia merasa sedang diliatin, lalu nge liatin gua balik. Gengsi, gue manggut-monggut sok ngerti juga. Dia senyum. Di belakang gue, orang yang tadi buka-buka laptop, asyik mendengarkan. Kayaknya dia juga ngerti dengan apa yang baruson diajarin ama si Ali itu. Waktu pun berlalu, kelas akhirnya bubar. Gue masih bengong, seperti jin boru dikeluarin dari botol. Bengong kayak bencong ompong. Gue ngeliatin coret-coretannya si Alf yang ada di papan tulis. Gue nulis gede-gede di buku catetan gue: APAAN TUH Gue gak bego-bego amat, tapi kok gue gak ngerti soma sekali ya Apakob ini yang namanya pelajaran tingkat universitas Semua terlihat begitu susah. 'Basic stuff.' Gue gak sengaja danger orang Chinese sebelah gue berkota seperti itu kepada lemonnya. Gue pengen teriak, 'BASIC STUFF DARI HONGKONG' tapi takutnya ternyata dia beneran arang Hongkong. Setelah mengambil tas Nike yang gue taruh di bawah bangku, gue beranjak keluar dari gedung Matematika laknat ini. Di luar, gue ketemu si Alf lagi. Dari goyanya aja keliatan kalau orangnya emang freak. Bekos kapur ada di mana-mana, menempel di bojunya. Di punggungnya menempel lasnya, jenis bockpack kecil yang biasa dipakai oleh anak-onok SMP. Tas ilu kekecilan bangel sampai lerangkat linggi di punggungnya. Dengan hidung panjang ala Alf don los yong terangkat seperti itu, dia lerlihol seperti trenggiling Tinggal ngirup-ngirup lantai aja sombil nyari semui. Pas banget deh. Gue melengos melewati dia. Panik karena habis kena kram otak mengikuti pelojaron si Alf, gue langsung membeli buku yang dm rekomendasikan di kelos. Gue nemu di toko buku di kampus, dan harganya ternyata $ 168 [1,2 jutaan dengan rate waktu itu). Gila, mahal banget. Tapi. demi lulus pelajaron mahadahsyat tadi, gue rela ngois-ngais tempa, sampah uniuk makan. Buku ilu gue beli. Sepulangnya ke apartemen., gue baca tuh buku dari depan ampe belakang. Kenyataan ternyata berkata berbeda, gue gak bisa lewat dari halaman pertama, SUSAH ABIS. Apa-apaan nih Gue mendekem sendirian di kamar. Langsung tingkat kepercayaan diri gue turun 100% dan merasa hidup ini tidak berarti lagi. Masa hari pertama ikut kelas matematika, eh, langsung pengen bunuh diri Gue jadi pengen angkot telepon dan bilang ke nyokap gue, 'Anakmu lelah gagal. Emak!' lalu loncat ke jendela sambil mendekap kalkulator. Gue bolak-balik lagi halaman demi halaman. Lalu gue ambil kalkulator scientific Texas warna biru. Bukannyo mengikuti satu per salu caro menye lesaikan soal, gue malah bikin gambor tete kayak gini: ( . ] ( . ) di kalkulator. Tiba-tiba pintu oportemgn di ketok dori luar. Ada Harianlo, temen kuliah beda [urusan, yang langsung masuk. 'Kenapa, Har' gue lanya. 'Gak papa. Cuma mau main saja' katanya dengon logat Jawa yang kental. 'Aku lagi stres, Har' 'Kenapa' 'Matematikaku. Pelajarannya susah.' 'Oh iya, aku baru mau nonya' kata Harianlo. 'Kilo satu kelas ya Tadi aku lihai kamu lho, duduk di bagian bawah bukan Mau aku sapa eh kamu keluar duluan!!' 'Kelas matematika' 'Iya' kala Harianto. 'AdvancedMoth I kan' 'Yong bene r, Har' 'lyo. AdvanceMoth I.' Harianto mengambil jurusan engineering. Ternyata.,. KELAS MATEMATIKA SI ALF TRENG GILING KAMPRET ITU KELAS BUAT ANAK-ANAK TEKNIK LANJUTAN. Panteson ajo susah! Otak gue yang masih level sempoa gini dipaksa buat ngitung- ngitung tetek bengek koyok gitu bisa-bisa tetek gue bengek beneran, Minggu depannya, gue akhirnya daftar dan ikut kelas matemolika yang benar, yang seharusnya anok-anok jurusan gue ombil BUKAN yang onak engineering ambil. Kali ini, pelajarannya sesuai dengan Level otak gue, tapi dosennya makin gak beres. Dosen gue, cowok luLen, berdiri di depan sambil menjelaskan. Dia mengenakan baju kolak-kolak garis-garis warna merah yang matching dengan sepatunya. Matanya lebar seperti kucing dan bibirnya tebal. Gayanya kemayu dan kadang-kadang ketawa sendiri kalau logi ngejelosin. Oh my goat, guru gue ada yang bener gak sih 'Okay, I want to show you a probability pro blem,' katanya di depan kelas. Sementara, g ue mend i ngon osyi k ga mbo r - g a m - bar di kalkullor scientific, membuat bonyok sekali gambar (.)(.]. That Is So Gay Gue duduk dengon canggung di ruangan tunggu sebuah stasiun Radio X di Surabaya. Hari ini gue bakalan talkshow di radio ini tentang buku kedua gue. Cinta Brantosourus. Di saat-saat gue lagi nyari bahan humor untuk talkcshow nanti, di hadapan gue malah ada TV dengan Discovery Channel dan di de pannya ado singa lagi kawin. Sungguh, tontonan yong menorik sebelum talkshow. Penyiar yong seharusnya menjadi host untuk gue talkshow nanti, teiat sekitar 15 menit. Seharus nya, kita mulai pukul satu dan gue udah nungguin lama, eh dianya belum dateng-dateng juga. Mu dah-mudahan gue cepel masuk ruang siaran atau bayangan singa kawin akan terus-menerus meng hantui gue seioma 24 jam ke depan. Lima menit kemudian, produser untuk acara siaran radio terdengar berteriak di luar, *Wahl David, akhirnya kamu dateng jugal' Gue melirik ke arah si David. Oh, rupanya ini orangnya. Tinggi besar dengan rambul klimis. Tampangnya ganteng lapi kayaknya kak sibuk mencari-cari sesuatu- 'Nih, kenalin' Raditya-nya' si mbak-mbak produser memperkenalkan gue pada David. Kita bersalaman dan dia senyum. 'Oke' kota David. 'Nanti aku masuk duluan dan kamu masuk belakangan pas dipanggil ya' 'Sip, Atur aja' kota gue sanlai. Gue melanjutkan acara nonton singa kawin, 'Kok nonton itu' kata Davld, 'Iya, seru. Ini baru mau ending.' Dia kelihatan bingung dengan jawaban gue, lalu bergegas masuk ruangan siaran. Akhirnya, acara di televisi berganti dari singa kawin menjadi acara semua tentang ular. Selesai dari radio ini gue biso jadi Rod h h Sang Petualang menggantikan Panji. Engga berapa lama, gue akhirnya dipanggil oleh si produser, 'Masuk yuk.' Di depan gue duduk David yang lagi bercuap- cuap di depan mikrofon. Begitu gue melihat gaya dia bicara, emang kelihatan bahwa dia itu agak sedikit "melambai". Meskipun begitu, gaya bicaranya penuh dengan energi dan kelembutan seorang janda. Semangat dan begitu antusias menyebutkan setiap kala. Dia lalu mempersilakan gue duduk. Gue sedikit malu-malu kemaluan duduk di depan dia dan memperhatikan dia bicara. Dia lalu memainkan playlist lagu, nge-mute mikrofon, dan meletakkan headphone-nya, 'Gue orangnya jarang baca' kota David. 'Oh, gitu ya' gue menaikkan alis. Kayaknya, dio emang belom baca buku gue, 'Gue nih ya, kalau baca tuh suka gok konsen, eh-eh udah mesti on air nih. Yuk kita on air' kata David. Gue manggut-manggut. Dia memperkenalkan acaranya, lalu memper kenalkan gue. Lalu dia heboh sendiri dan akhirnya dia bilang, 'Langsung aja ya, kita ngobrol-ngobrol dengon penulis Onto Srontosaurusr 'Halol' kata gue di mikrofon. 'Yo, ya' kala David. 'Jadi, gimana nih proses pembuatan buku Cinta Brontosaurus' Gue mulai nyerocos, 'Buku itu semuanya pe ngalaman pribadi gue. Karena sewaktu SD gue punya dua hobi: diary dan diare. Jadi, gue suka ntrlis diary. Dan kebanyakan cerita di buku Cinta Brontosourus itu berdasarkan diary yang gue tulis dulu. Gue udoh nulis diary dari mulai kelas 4 SD' 'Jadi,' kata David. 'Lo udah bikin diary semenjak kelas 4 SD' 'Iya' kala gue. 'Oh my gad.' That is so gay,' dia tiba-tiba exerted dan menggeliat sendiri. 'HAH' gue kaget. 'Iya. Thot issoo qoy' 'OKE.' Gue berusaha menetralisir keadaan. Gak tau mesti ngomong apaan, dengan goblok gue bilang. Thank you.' Beg ilu ngomong, gue sadar, mana ada o tang dibilang gay maloh bilang thank you. Duk bego bongelgue.Davidsenyum sebento r. D i a mel i bot sa m - pul buku gue, memboca sinopsis di belakangnya, lalu dia melanjutkan pertanyaan, 'Jadi, gimana nih menurut EKA sendiri' 'Menurut Eka' gue gok paham. 'Iya, jadi menurut seorang RADITYA EKA, buku kamu ini gimana' 'Radityo Eka' 'Iya,' koto David kalem. Dia ngebolak-balik bu ku gue lagi. Gue diem. Nih orang emang bilang sih kalau dia gak suka baca, lopi gue gok nyangka kalau dia buta aksaro. Sebelum gue bisa jawab, tiba- tiba David berkata lagi sambil membaca profil gue di bagian belakang, 'Terus terus, mengenai band komu, SENTIMENTAL LUMPING' 'Hah' gue shock. Pas dia ngomong itu, gue udah mo ngakak. Karena mang, di bagian profil diri gue ada nama band gue "Sentimental Reasons" dan kata "kudo lumping" yang terletak berdekatan. Pasti dio solah ngeliat don ngebaeanya jadi Sentimental Lumping. Buset. Gue jadi bersyukur dia salah nyebut nama gue. Biar orong-orang tahu Rodityo Eka yang punya band namanya Sentimental Lumping. Bukannya Radityo Diko. David maloh makin napsu bertanya, 'Ayo dong, jawab. Jadi, kenapa nih namanya SENTIMENTAL LUMPING Unik banget.' Di saat seperti ini, gue bisa aja jawab don maini n dia sekal ion, 'Iya, namanya Sentimental Lumping, soalnya kami berlima adalah kuda-kuda lumping yang sentimental. Kemaren aja rebutan makan beling.' Pada akhirnya, gue jadi bilang, 'Ya, soalnya unik aja.' Gue pasrah. David lalu menayokon pertanyaan gok penting loinnya. Tapi, di tengoh-lengah pertanyaan dia akhirnya menyebut nama gue dengan benar. Tuhan sepertinya udah menjawab dao gue, atou lapisan katarak di moto David secara ajaib lelah menghilang. Dia akhirnya menutup sesi pertanyaan don masuk ke lagu. 'RadHya,' kata David sambil membuka head phone. 'Ya' 'Nanti ada surprise question lho!' David terlihat excited. 'Wah Tentong apa' 'Namanyo jugo kejutonl Nanti ajo, ah,' dio ber kata manja. 'Asik-a si k.' Gue sok imut. Acara pun dilanjutkan kembali. Beberapa pe- nelpon bertanya dan gue jawab. SMS yang masuk ke radio juga dibacoin satu per satu. Begitu I kedua mou ditutup, David langsung berteriak, 'MENURUT KAMU, GAY ITU GIMANA' 'HAH' gue spontan kaget. Mungkin ini yang dimaksudkan dongan sur prise question. Gak cuman bicaranya tiba-tiba ke ras ngagetin, tapi pertanyaannya bikin gue kaget setengah mati. 'Gay' baru kali ini gue ditanyain beginian di stasiun radio. 'Iya, menurut kamu gay itu gimana-g i mana' David gak sabar minta dijawab. 'Waduh.' 'So' 'Gay itu... asik.' 'Asik' kayaknya dia gak puas. ' Asik,., u h hh... banget' 'Okel Asik banget ya! Hahaha,' David ketawa lepas. Gue mulai curiga. Begitu segala penderitaan selama satu jam berakhir, gue salomon dengan David. Pas lagi salaman, telunjuknya ngitik-ngitik telapak tangan gue. Gue ketawa garing. "hrfan^o. dari stasiun radio, gue makan si ang bareng sama Anas, temen gue di Surabaya. Di sebuah rumah makan pinggir jolon kita duduk bertiga, dengan adeknya Anas juga. 'Gimana tadi. Dik, talkshow-mu di radio itu' 'Freak,' koto gue singkat. Gue sambil melihat- lihat makanan opo judulnya enak. 'Sumpah, itu talkshow paling freak yang pernah gue datenginl' 'Pilih solo ayamnya. Enok banget,' kata Anas malah nawarin makanan, 'Oke dek*, solo ayam,' gue ngikulin selero Anas. 'Emang kenapa tieak' kala adeknya Anas. 'Penyiarnya, aneh banget. Ngomongin gay melulu. 'Penyiar radio X Si David' kata adeknya Anas. 'Bener tuh! Lo kenal' 'Hyaaaa. Itu kan emang gay, faukl' 'Anjing, tangan gue dikitik-kitik abis siaran!' 'Hayolhooooo... ditaksir! Pulang dari Surabaya ngebawa laki-laki jantan! Hahohohahahahaha!' 'Tau gitu sebelum masuk siaran, gue semen dulu lobang pantai gue!' Anas dan adeknya ngakak tanpa ampun. Sotonya dateng, dan gue langsung nyampurin kremes dari toples banyak-banyak. Anas bertanya, 'Gimana, Dik, soto-nyo' 'Enak. Rasa udang ya Kirain ayam.' Anas ngelialin banyaknya kremes di atas soto gue, 'Ya jelas aja lah. itu kremes-kremes udang tau. ini mah sofa ayam enak malah dijadiin soto udang. Haha!' 'Mending lah. Daripada dikremes-krsmes Da- vid.' Gue merinding sendiri Menteri atau Petani Ngebawa nyokop d! jalanan tuh mesti sangat sabar sekali Setiap kali ada mobil yang mepet dikit, pasti dia teriak-teriak. Ada bus yang jalannya sedikit minggir, dia jerit-j eri t ketakutan gak karuan. 'Dik! Itu tuh bisnyol Itu bisnya! AWAS!' 'Ma r bisnya masih di seberang jalan.' Gue sempet ngebayongin kalau nyokap naik delman. Jangan-jangan saat dio lagi osik- osiknyo naek delmon dan tiba-tiba ada mobil jeep gede mepet dengan sangarnya, nyokap bakalan teriak di atas delman, 'Pak Supir Delmanl Klto akan matiiiiil KITA AKAN MATI!' Selanjutnya, bertindak berdasarkan rasa panik, Nyokop akan mengambil parasul lalu loncat dari delman untuk menyelamatkan diri sendiri. Akhirnya, gulang- guling di jalanan. Naik pesawat, nyokap lebih kacau lagi. Duduk satu pesawat dengan nyokap gue rasa nya seperti berpergion dengan orang yang sedang diincar nyawanya oleh mafia Halia. Bawaannya pamoan, setiap kali ngeliat jendela dia pasti akan bergidik ngeri. Kalau ada guncangan sedikit dia akan menegakkon lehernya, tanda lagi stres berat. Tapi mukanya masih dibuat lurus, seolah-olah dia sama sekali engga takut. Mungkin, itu salah satu cara buat nyembunyiin ketakutannya itu. 'Jangan takut, Dik. Itu hanya goncangan kecil' kotanya. Dia malah berusaha nenongin gue. Gue cuma manggut-manggut tanda mengiyakan. Gue tau banget dia lagi ketakutan. Ketika pesawat terguncang lagi, dia akan semakin menguatkan nada bicaranya, 'JANGAN TAKUT, DIK!' Gue, yang biasanya lagi tidur atau baca ma jalah akan memberikan gumaman kecil, sekadar 'Mmmmh' atau 'Ho-oh.' Banyak arang ngelakuin haJ seperti yang nyokap lokuin: mencoba untuk menenangkan o rang lain dengan tujuan menenangkan diri sendiri. Se perti nyokap, yorig menenangkan gue padahal dia sendiri ketakutan setengah mati. Kalau gue sendiri suka mencoba untuk tidur saat pesawat terbang Nutup mata aja, mencoba untuk tidak peduli dan takut. Pesawat pun lepas landas. Begitu pesawat mulai naik, tangan gue mendadak terasa sakit. Dengan setengoh nggak rela, gue pelan-pelan membuka mata dan menemukan tangan gue diremos kasor sama nyokap gue. Gue melilhot ke arah waiahnya, kepalonya mundur ke arah bangku, matanya terpejam, dan mulutnya kembang-kuncup membaca ayat-ayat Al-Quran. Kalau udah gitu, giliran gue melihat nyokap dan berkata, 'Jangan takut, Mo.' Udah gak terhitung berapa banyaknyague berpergian bersama nyokap naik mobil dan pesa wat. Tapi, kalau naik kereta, masih bisa dihitung pakai jari. Gue dan nyokap sama-sama punya pengalaman naik kereta pertama kali tahun 2005. Tujuan kita sih ke Sato, tapi gue turun duluan di Yogyakarta untuk ketemuan ama temen lama, sementara nyokap lanjut ke Solo. Gue duduk di kursi biru yang tidak terlalu terawat. Di sebelah kanan gue ada jendela yang agak retak memperlihatkan pemandangan sawah ke mana pun mata memandang. Di sebelah kiri, nyokap membaca majalah tempo sambil meng- gumam-gumam Beberapa menit kemudian, gue beranjak untuk ke WC, Membuka pintu WC, gue melihat ternyata yang namanya WC di kereta api itu hanyalah lubang. Lubang. Begitu gue pup atau pipis pasti langsung syuuul pret menjret di rel kereta api yang sedang dilewati. Misteri mengapa kita gak boleh ke WC waktu keretanya berhenti pun terkuak. Setelah melihat bentuk nyata WC kereto api yang sebenarnya, gue pun akhirnya berikrar untuk tidak lagi nyeberang rel kereta api. Siapa yang tahu kalau misalnya kila lagi nyeberang kereta api tiba- tiba PREK, nginjek eek orang lain yang dibuang dari kereta api. Fakta ini bikin bikin gue bergidik ngeri. Bayangin, kalau semua orang di gerbong kereta api bergantian pup, bisa-bisa satu pulau terendam tokai. Ini berbahaya! Jelas banget ini bertolak belakang dengan ucapan seseorang ke gue. Walaupun gue jadi inget apa yang seseorang pernah bilang kepada gue, 'Bayangkan kalau semua arang boker dalam waktu bersamaan selama 10 tahun! Pasti lidak akan ada perang, tidak akan ada konflik karena kita semua terlalu sibuk boker!' Kembali dari WC, gue melewati nyokap dan duduk kembali ke bangku. Begitu gue duduk, nyokap langsung berkata sambil berbisik. 'Dik, kamu tau gok orang ilu siapa' kala Nyo- 'Siapa apanya' 'Itu' Nyokap menunjuk ke bangku arah depan. Di sebelah kiri, 'Orang itu kan Kwik Kian Gie!' 'Kwik Kian Gie!' gue setengah berteriak ka- gel. 'Jangan kenceng-kenceng! Malu!' Nyokap pro tes. Gue melihat ke arah bangku yang dimaksud. 5eorong paruh baya dengan rambut beruban, memakai celana pendek, dan kacomata kedodoran. Di sebelah kursinya terlihat sebuah pot tanaman kecil, lebakon gue, itu adalah borong bawaan dia. Dia duduk di sebelah nenek-neneksepertinya istrinyayang dari tadi mengajaknya ngobrol. 'Iya kan Itu Kwik Kian Gie!' nyokop berkata 'Hah' Gue memicingkan mala tanda ragu- ragu. Kayaknya agak aneh aja mendapoli man tan Menteri Koordinator Ekonomi dan Menleri Perencanaan Pembangunan ada di kereta Agro Bromo dengan celana pendek sambil bawa-bawa 'Ngapain dia naek kereta api' Gue masih agak-agak ragu. 'Merakyat.' Nyokap berkata mantap. 'Mungkin dia naek kereta api untuk bohongin orang-orang kayak kamu' kata nyokap. 'Maksudnya' 'Iya, Pok Kwik noek kereto api, biar dia gak disangka menteri. Orang-orang kan berpendapat kalo menteri gak mungkin naek kereta api. Gitu. Menghindari lampu sorot lah gitu,' Gue ngeliatin gelagat orang yang dituduh Kwik Kian Gie tadi. Kayaknya normal-normal oja. Dia sesekali baca majalah yong dia bawa dan mengangguk-angguk mendengarkan istrinya berbicara. Di sampingnya ada po' tanaman kecil, 'Terus, pot tanamannya' 'Nah, itu pinternya. Dia ngebawa pol taneman itu dengan alesan yangsamat agar enggak dikenoli publik.' 'Hah' Teori nyokap makin terdengar aneh. Kalau bener, teori nyokap ini harusnya di praktekkan oleh artis-artis Ibu Kota. Jadi, kalau Nicholas Saputra lagi nge-dafe ke Plaza Senayan sama gebetannya, dia cukup nyerel-nyerel pol laneman ke sana kemari unluk menghindari. Waktu ada orang yang mengenali dia, 'Eh, elo Nicholas Saputra kan ya!' Dia bisa dengan pede menjawab, 'Bukan! Gue gak mungkin Nicholas Saputra! Mana ada artis ke mana-mana bawa pot taneman!' Nyokap celingukan melihat-lihat ke arah bang ku. Dia berkata, 'Kita gak bisa diem aja kayak gini. Ada Kwik Kian Gie di depan mata! Mama harus nawarin dia majalah. Ya, majalah.' Dio menengok ke bawah kursi, 'Mana Tempo yang Mama baca tadi' Gue mengangkat bahu. Nyokap akhirnya menemukan majalahnya di- bawah tempat duduknya. Lalu, belum sempal gue mengatakan apa-apa, tiba-tiba nyokap maju ke depan si (terduga] Kwik Kion Gie don menawarkan majalah Tempo-nya. 'Ini, saya sudah baca. Silakan dibaca. Pak,' kata Nyokap dengon pede. Gue bengong. Si (terduga) Kwik Kian Gie sempet hening sejenak. Mungkin berusaha meresapi apa yong barusan terjadi. Dia lalu lerseyum lebar, lolu me nukar majalah Tempa yang diberikan nyokap de ngan majalah Gatra yang dari tadi dia baca. Gue menebak-nebak, si tersangka Kwik Kian Gie itu sebenarnya petani palem botol bernama Sugianlo. Jelas dia kaget, tiba-tiba ditawarin ma jalah Tempo sama ibu-ibu yang overexcited dan anaknya yang bengong-bengong bego. Gue yakin, dalem hati, si Sugianlo udah ngomong, 'Anj rit. Gue dicolek ibu-ibu di kereta, terus dilawarin majalah Tempa. Pasti ini komplotan hipnosis gaya baru. Gue harus waspada. Jangan sompai polem botol langko ini jatuh ke tangan merekal' Di sepanjang perjalanan, gue membuka buku Cola Ibi karangan Nukila Amal sambil sebentar, bentar mencobo untuk tidur. Gue berencana untuk nge-review buku Nukilo Amol ini ke sebuah milis. DI sisi lain, nyokap masih celingak-celinguk aja ngeliatin si (tertuduh) Kwik Kian Gie. 'Dik, kayaknya dia udah selesai .baca Tempo nya/ kata nyokap. 'Menurut kamu, Mamo harus ke sono ngambil Tempo-nyo gok' 'Kenapa harus ngambil Tempo-nya' "Iya' kata nyokap, 'Nuker lagi sama majalah yong tadi dia kasih ke Mama. Soalnya kayaknya "adi dia nengok ke arah kita. Nungguin disamperin unluk nuker majalahnya lagi/ 'Yakin tuh' kata gue. 'Iya! Yakin' Gue senyum kecut. 'Ilu tuh pasti bukon Kwik Kian Gie kali, Ma'. 'Kenapa' kata nyokap. 'Kala Kwik Kian Gie, mukanya tuh lebih... me- menteri.' 'Mementri' 'Iya, menyerupai menteri, dari kata dasar men teri diberi imbuah me-' kota gue cuek. 'Tapi' nyokap gue nengok ke arah si bapak- bapak tadi, 'Mama yakin dia itu Kwin Kian Gie' 'IYA DEH' gue pasrah. Gue ngeliat ke arah si (terduga] Kwin Kian- Gie, dia kebetulan lagi ngeliat ke arah kita juga. Dio lalu mengalihkan pandangannya saat mata kita beradu (duile, romantis bener). Jangan-jangan dia malah curiga sama kita yang dari tadi bisik-bisik ngomong dia. Dia pasti langsung ngomong ama istrinya, 'Eh, kayaknya kita solah naek kereta sore ini. Kila okan mati oleh ibu-ibu dan cowok bermuka homo itu. Mereka pasti penjahat! Penjahat!' Kereta melaju perlahan. Begitu gue gak ngeliat, nyokap tiba-tibo udah nyamperin si (terduga) Kwik Kion Gie logi. Gue cuman mendengus.. 'Pak, ini majalahnya, mau tukeran lagi' Gue bengong, Sekalilagi, Kwik Kian Gieyang menurut hipotesis gue petani palem botol itu, cuman senyum-senyum bingung. Te-terima kasih' katanya. Setelah sepuluh jam perjalanan yang panjang, gue akhirnya berhenli di Yogyakarta, sementara nyokap mosih melanjutkan perjalanannya ke Solo. 'Yakin, gak mau ikut mama ke Solo aja' 'i'll meet you there, Pengen ketemu temen- temen di Yogya dulu aja' 'Oke' kata nyokap. Gue turun di Yogya, memerhatikan kereta yang berjalan melanjutkan perjalanannya, dan berharap si (terduga) Kwik Kian Gie masih rela direcokin sama ibu-ibu yang terlalu senang bertemu dengon (orang yang mirip) menteri, Stripper Adik gue yang masih duduk di Sekolah Dasar, Anggi, suka banget gambar komik. Setiap kali gue pulang kuliah malem-malem, dia pasti masih duduk di lantai kamarnya dengan kertas penuh dengan panel-panel berisi gambar. Sifatnya Anggi ini sangat bertolok belakang dengan kembarannya, Ingga. Kalau si Ingga, kerjaannya malah makan melulu. Tiap kali gue ketemu, oda aja yong dimasukin ke mulutnya. Sampai-sampai gue khawatir, kola u Ingga lagi main berdua jangan-jangan Anggi bakal dimakan ama dia. Sifat si kembar ajaib yang benor-benar berbeda ini memang bagai pinang masuk comberan. Kembali ke Anggi, kegigihannya dalam mem buat komik patut diacungi jempol- Gak siang gak malem dia pasti selalu menggambar. Emang sih, gambarnya enggo terlalu bagus, namanya juga anak SD. Dio pernah membuat gambar gue lagi megang gitar, yong lebih keliatan seperti cacing tanah megang kondom. Gambar yang Anggi buat emong melenceng jauh dori apa yang dia maksud Gambar tas, jadinya kayak gambar odol. Gambar kucing, koyak gombar makhluk setengah om-om kumison setengah kadal. Mokanya pas Anggi bilang, 'Bang, aku pengen gambar Doraemon deh.' Gue Langsung bilang, 'Coba kamu gambar batal kecap. Pasti hasil nyo mirip.' Tapi, namanya juga abong yang baik, gue merasa adek gue masih punyo bakal. Iya dong, kalau orang lain punya bakat meng gambar sangat mirip dengan benda aslinya, adek gue justru punyo bakat yang gak semua orang normal bisa punyo: menggembor benda jadi sama sekali tidak mirip. Gue sempet berkhayal, kalau suatu hari nanti Anggi jadi pelukis pesanan, gue akan membuatkan plang iklan untuk dia yang berbunyi; ANDA INGIN MUKA ANDA DIGAMBAR MENYERUPAI LUMBA-LUMBA HUBUNGI ANGGI DI 081XXXXX. PILIHAN GAMBAR LAIN: GORILA, MONYET, MUSANG TIDAK BERHIDUNG. Salah satu gambar Anggi Tema komik yang digambar Anggi bermacam- macam. Suatu hari, gue nemuin dia lagi ngegembar dua Orang anak yang dikuncir (yang aslinya lebih keliat an kayak Mak-Erol-punya-punuk-lagi-beranak]. Gue memerhatikan Anggi yong lagi asyik menggambar, sepertinya dia bener-bener gok menyodori kalou oda orang yang lagi merhotiin dio. 'Kamu gambar opaan tuh, dek' gue tanya. 'Gambar... ada deh,' dia berkata gak acuh. 'Kok ada deh' 'h/a, ada deh,' kata Anggi lagi. 'Tapi bogus gok. Bang' Bagus engga Anggi kayaknya salah nanya orang. Soolnyo, pengetahuan gue tentang dunia lu kis-melukis sangarlah buruk. Gue gok pernah ngerli gimano cora menilai bagus tidaknya sebuah lukisan. Misalnya, gambar-gambar abstrak Picasso yang waktu kecil gue onggep dilukis ama orang- buntung-kebonyakan-ngebir ternyata gaya lukisan yang mengubah dunia seni selama-lamanya. Entah kenapa, setiap kali ada karyo lukisan berseni tinggi yang dipamerkan, gue gak pernah nangkep di mana bagusnya lukisan tersebut. Hal ini jelas lerlihal ketika terakhir kali gue mampir ke museum seni di Adelaide, Australia. Di dalam Slate Gallery, gue berdiri bersama salah searang teman gue arang Rusia bernama Vlada, di depan lukisan yang (katanya) berseni tinggi, 'Keren banget lukisan ini,' kata Vlodo dalam Bahasa Inggris. 'Keren banget ya' gue manggut sok ngerti. Di depan gue terlihat sebuah lukisan abstrak atau apalah namanya yang kelihatannya seperti pola orang kencing. Gue berpikir: gue juga biso lukisan koyak gini, tinggal minum cel tembok warna pink lalu ke nc ingin kanvas nganggur, jadi deh lukisan absrak yang 'keren banget'. 'Gimana menurut lo' kata Vlada. 'Well, okay.' Bibir gue monyong-monyong. Sampai detik ini Vlada masih menganggap gue ngerti soal seni. Kalau gue gak sok tahu kayak gini, bisa-bisa dia menggonggap bangsa Indonesia tidak mengerti soal seni! Ini tanggung jawab besar! Mokanya, gue monggut-manggut sok tahu logi. 'Lihat, coretannya ilu. Benar-benar deep/ kota lemen gue lagi. Gue gak tau dia emong beneran ngerti atau sok ngerti kayak gue, tapi yang jelas ogor aman gue sok tau dan membenarkan opa yang dia bilang. 'Iya. Iya, deep bonget.' Gue manggut logi. 'La suka ya lukison-luksian yang kayak gini Gue sih lebih suka lukisan-lukisan yang bergaya Dadaisme gilu lho. Lo suka Dadaisme' Kalanya sambil membenarkan kacamatanya. Vlada koyak nya udoh muloi-mulai curiga, 'Uhhh,' gue bersuara. Mampus, gue punya beberapa pilihan jawaban: A) mengakui sambil menangis kalau gue gak tau Dadaisme, berharap tangisan gue akan membual dia iba. B) gak mo kalah dori orang Rusia ini lalu pura-pura ngerti. C) pura-puro mati untuk mengalihkan perhatiannya. 'Lo tau kan apa itu aliron Dadaisme' Vlada langsung bertanya lagi. Dio benar-benor curiga don gue terlalu gengsi untuk mengakui kalau gue gak tau. Dadaisme... hmmm Gue bisa saja menjawab dengan asal don bilang kalou Dadaisme itu adalah aliran lukisan yang menggambar bentuk-bentuk da da dan lete manusia. Tapi niat itu gue urungkan. 'Gue gak tau apa itu Dadaisme,' gue menga ku. Are you kidding me YOU DON'T KNOW Oh my god! What world do you live in, buddy' kato Vlada sambil tertawa puas. 'Yeah.' Gue berharap gue biso ngencingin mu ka dia. 'Bagus gak, Bang' tanya Anggi! sambit tetap menggambar dan menunjuk ke arah panel-panel komik yang sedang dia kerjakan. 'Bagus-bagus,' gue berkata seadanya, 'Emang lagi gambar komik tentang apaan nih' 'Gambar tentang anak pungut,' 'Anak pungut' gue heran. Jangan-jangan nih anak udoh keseringan nonton sinetron, sampai- sampai komik yang dibuai malah gambar anak pungul. 'Ceritanya kayak gimana, Dek Kok anak pungul gitu' 'Iya,' Anggi dengan sok imut menjelaskan, 'Jadi, ada searang anak, dia itu kembar tapi yang salu lagi gak tau. Terus obis itu jadi.., gitu deh! Udah, ah, gak mau jelasin lagi/ 'Nanggung amat ceritanya. Namo anak pu ngutnya siapa' gue nanya. 'Namanya Berry sama Cherry. Soalnya yang satu suka Stroberi dan yang satu lagi suka Cherry.' Gak jelas. Akhirnya gue meninggalkan Anggi yang masih asik menggambar. Hari-hari berikutnya, si Anggi masih terus me lanjutkan halaman demi holomon petualangan si Berry dengan Cherry. Sayangnya, tiap kali gue minta ngeliat gambarnya pasti Anggi gak pernah ngasih. Gak tau karena malu atau emang orangnya pelit. Kadang, kalau dio lagi ngerjain di atas mejo, dia suka ngeringkuk dan menyembunyikan kertas gambarnya sewaktu ngeliat gue di deket-deket 'Abang gak boleh liat!' katanya suatu woktu ketika gue meminta lihat kelanjutan cerita Berry dan Cherry. 'Kok gak boleh!' 'Ini rahasia!' 'Abong kasih Keripik Mister Potalo dehl' gue mencoba menyogok adek gue, 'Engga, oh,' kala Anggi. 'AKU MAU BANG!' teriak Ingga yang lagi nonton TV. Malah dio yang semangat 'Yee dasari Giliran makan aja cepet,' kota gue sambil ngelempar bantal. Susah banget buot Anggi untuk memamerkan karyanya. Padahal gue suka banget baca komiknya si Anggi. Bukannya karena gue ngikutin ceritanya, topi seneng aja ngetawain gambarnya yang aneh- aneh don kalimat-kalimat engga jelas yang keluar dari si Berry maupun si Cherry. Kadang gue sampai kehilangan akal unluk merayu Anggi. Mungkin gue harus nyiram bensin ke Anggi don nyulut api biar dia lari-lari terbakar, baru gue bisa baca komiknya dengan damai. Tapi, niat itu gue urungkan. Takut di marahin nyokap. Kegemaran Anggi ini pun berkembang men jadi cita-cita. Semakin lama, Anggi semakin ter- jebur dalam kegemarannya. Dio pun jadi sering ngomong, 'Bang, pokoknya kalau udah gede, aku mau jadi iukong gambar komik!' pue yang mendengar itu langsung berpikir: tukang-gambar- komik Hmmm, terdengar kurang gaya. Anggi nge- buat komik strip, seharusnya dia disebut stripper dong (mengambil kesimpulan sendiri, jangan di- tiru}! Gue sih pengen banget ngasih tau Anggi, kalau sebutan yang benar untuk cita-citanya adalah stripper, bukan tukang gambar komik. Tapi, gue mengurungkan niat itu. Takut juga kalo nenek gue lagi main ke rumah, lalu tiba-tiba nanya, 'Anggi, kamu kalau udah gede mau jadi apa' 'Jadi stripper nek!' kata Anggi polos. 'Hah Kenopa' 'Enak Nek, jadi stripper! Terkenal, banyak uang!' 'Astagfirullah!' nenek nyebut. 'Temenku banyak kok yang mau jadi stripper juga!' 'Aji gile lu!' (lho, sebenernya ini nenek-nenek apa preman Blok M) Selain menjadi komikus, Anggi juga punya cita-cita sebagai arsitek. Dia sering bilang ke gue, 'Bang, nanti kalau Abang punya rumah, biar aku yang gambar ya rumahnya.' 'Mana, ada contoh rumah yang kamu gambar gak' Ini, nanti aku gambar kayak gini/ kata Anggi sombil memberikan salah satu gambar yang pernah dia buat sebelumnya. . Gue ngeliat gambar dia don berkata, 'Anggi, maaf ya, Abang gak mau punya rumah kayak pispot.' antara keempat adek gue yang lain, keliha tannya cuman si Anggi yang punya bakal jadi se niman. Walaupun, masing-masing dari kita emang mempunyai bakat dan kelebihannya masing-ma sing. Gue, sebagai anak yang paling sulung punyo bakat menarik cewek-cewek cakep (amin). Yudhita yang udah SMU punya bakal gak bau-bau meskipun lama gak mandi. Ingga, kembaran Anggi, punya bakat makan tanpa dikunyah. Terakhir si Edgar, anak bungsu kelas 3 5D, punya bakat... jago nyundul titit orang. Kegemarannyo membuat komik Anggi jadi me nular ke bidang seni lain. Semenjak buku pertamo gue keluar, dia jadi pengen ikut-ikutan jadi penulis buku. Suatu hari, dia dateng ke gue membawa buku tugas Bahasa Indonesianya yong bersampul motif hijau sekolah Al-Azhar, 'Bang' katanya. 'Aku bikin cerita lho.' 'Cerita apa' 'Itu Bang, tulisan cerita hantu, wuih, serem ba nget lho, Bang.' Mukanya berbinar. 'Cerita hantu yah' Gue bukan penggemar cerita hantu. Baik buku atau pun film hantu Indonesia yang merajalela mulai dari Jelangkung lah. Leak lah, Mirror lah. Bahkan, biarpun judulnya benar-benar buat penasaron se perti Kuntilanak Insaf Pergi Haji, gue gak bakalon tertarik baca horor. 'Abang gak suka cerita hantu,' kota gue pada Anggi. 'Tapi ini serem banget, Bang!' Anggi membela diri. 'IYA!' kata Ingga dari kejauhan. 'Aku sampai takut tidur sendiri lho, Bang!' 'Kamu mah gak baca horror juga takut tidur sendiri. Mana coba Ahang baca.' Hmmm, rayuan dua anak kembar idiot ini membuat gue jadi penasaran setengah mati. Gue mengambil buku Bahasa Indonesianya dari tangan Anggi dan membaca (tulisan di bawah ini tidak diedit): Sekolah hantu Dulu sekalah ini pernah ada yang meninggal karena anak itu dikurung diundang dan mati di sana, tapi sekarang gudang itu dibongkar menjadi kamar mandi... "kring.-Kring" bunyi bel istirahat. Anak-anak langsung keluar "Hai, dara tau nggak dulu di sekalah ini ada setannya lho..!" kata luliana, "Nggak, ilu cuma boong!" "ini beneran kak! Aku dapet dari kakak kelas 6 kok", luliana teriak "Ya udah terserah kamu aja!" kata Clara lalu tiba-tiba kebohongan itu terbongkar oleh Clara. Dan kelas enam dibenci seluruh kelas 5. TAMAT Gue masih membaca tulisan itu berkali-kali. Alis mata gue berkerut. 'Serem gok, Bang E' tanya Anggi soal gue ngembaliin buku bahasa Indonesianya. Gue diem , 'Bang, serem gak' kata Anggi lagi. Gue jerit. 'INI MAH JUDULNYA GOSIP BUKAN CERITA HANTU! ORANG NGEGOSIP KOK DI- JADIIN HOROR!' Si Anggi diem sebentar, lalu melanjutkan de ngan muko yang sangat memelas, 'Jadi, gak bagus ya Bang' Gue gok mungkin banget bilang kalau tulisan dio jelek. Tapi, gue gak bakalan jugo bilang, 'Nggil Bagus banget cerita hantunya! Abang jadi benar-benar penasaran! Banyak pertanyaan yong seperti harus dijawab, Nggi! Kayak, gimana nasib kelas enam Bisakah mereka berbaikan dengan kelas lima Lalu, bagaimana hubungan Clara dan Juliana Apa mereka bisa lulus UAN Apakah emaknya juolon tempe YA AMPUN! ABANG PE NASARAN BANGET!' 'Gimana, Bang' kala Anggi lagi. Gue mengombil kertas komik yang biasa dipakai oleh Anggi dan gue serohkan kepada dia. Lalu gue berkata, 'Kayaknya, lebih bagus kalau dijadiin komik.' BEER ! Ketika Edgar, adek gue yang paling kecil, berumur enam taun, dia dalam lahap bandel- bandelnya. Suka akrobat, lincah, gemar bergaya Power Ranger, suka makan segala sesuatu yang terlihat bisa dimakan, dan kadang perilakunya konyol di luar nalar manusia. Dengan kala lain: ter lahir menjadi binatang sirkus. Temen-temen gue yang daleng ke rumah selalu curiga dengan tingkah Edgar yang over in!. Kadang mereka nonya, 'Itu adek lo, diminumin bir terus ya Kok mabok gilu sih' Gue ngosal bilang, 'Dia gak cuman diminumin pake bir, Dio |uga mondi pake bir. Mokanya jadi kayak gitu.' Setelah temen gue ngomong, gue jadi mikir. Waktu ilu gue emang belom pernah sama sekali ngeliat yang namanya orang mabok. Gue rasa, temen gue juga belom pernah. Tapi lucu aja ya, kenapa manusia yang melakukan tingkah yang aneh itu dibilang mabok. Emang orang mabok.itu kayak gimana sih Sebelum mosuk ke Adelaide University, per tama-tama gue harus ikut kelas Bahasa Inggris dulu di Eynesbury College. Di kelas bahasa ini, gue dicampur-aduk bersama belasan orang lainnya. Ada yang dari Korea, Jepang, 5oudi Arabia, dan Malaysia. Salah satu yang paling mencolok dori mereka semua adalah orang Jepang bernama Tokuji. Dia tipikal arang Shibuya yang suka berdandan agak ekstrim. Kalau dateng ke kelas, dia memakai jumper supergede, sepatu bermerek, celana 3/4, rambut di-highlight pirang, dan sebuah kalung dogtog. Kalau ketawa, mukanya jadi lebar banget dan matanya yang sipit ilu jadi keliatan cuman segaris, seolah-olah dia punya empat alis. Anaknya sih baik, kayaknya lugu-lugu gitu, kalau ngomong juga alus. Tokuji ini ternyata maniak bir. Hal ini pertama kali gue ketahui, sewaktu gue ngobrol ama Tokuji secara tidak sengaja. Gue lagi turun dari bus dan sedang berjalan ke arah College, saat itulah gue berpapasan dengan Takuji. 'Takuji-san! Ohayo!' gue menyapa dalam ba- hasa Jepang. 'Aaaaa, Dika-san! Ohayo!' 'So,' gus bilang ke dia, 'how's your weekend' 'My weekend Ano.' Matanya jadi lebih sipit. Kayaknya dia lagi mikir. 'Ah! Friday I'm drunkl' "You were drunk on Friday' gue agak cengok juga mendapati si Takuji sampe lupa gini dia weekend kemaren mabok. 'And on Saturday You went somewhere' 'Saturday, ano,' mukanya mikir keras lagi matanya tambah sipit. 'Also drunk! Friday drunk, Saturday drunki' 'Wow,' gue gak tau mesti ngomong apa lagi. 'Beeeeeeer!' dia mengongkat tangannya se olah-olah memegang gelas. 'Okay.' YEAH! BEER!' 'OKAY!' Mulai saat itu, gue mengerti dengan sepenuh hati kalau si Takuji ini memang pecinta bir. Gue gak pernah ketemu langsung dengan orang yang bener-bener suka bir kecuali Takuji. Gue sendiri juga gak pernah minum bir. Minum aer kendi aja teleng, gimana Suatu hari, kelas Bahaso Inggris gue ini dika sih tugas presentasi. Tugasnya sih gampang-gampang aja, pilih hal yang kita sukai dan silakan membicarakan hal tersebut di depan kelas. Harianto, temen gue sesama dari Indonesia, ngomongin tentang bela diri Hapkiido. Dia bicara soal teknik membanting alu meminta si Sung dari China untuk jadi relawan untuk dibanting. Selesai Harianto presentasi (dan hampir membuai Sung cacat seumur hidup), giliran Wingu dari Korea yong maju. Si Mingu ini, hobinya adalah kuda. 'Horse, i like horse! kata Mingu di depan kelas. Namun, bukannya dia mempresentasikan ten tang kuda, yang ada malah dia mempertontonkan video dia berkuda sewaktu di Korea. Satu video isinya cuman Mingu dan kudanya muter-muterin lintasan bunder. Lima menit berlalu, gue udah mulai nguap, Gak cuman gue, tapi temen-temen juga bosen ngeliatin dia enjot-enjotan doang. Emangnya Mingu gak tau kalau video yang bagus itu harus ada surprise-nya Apa kek, si kudo tiba-tiba makan tangannya Mingu sampai buntung misalnya. Kalau begitu kan pasti orang gak bakalan bosen. 'See! I'm riding a horse! kata Mingu sambil menunjuk layar televisi. Yo iyalah! Si Buta Dari Gua Hantu juga tahu kalo itu kuda. Dia lalu bercerita soal kudanya, kenapa dia suka kuda, dan berapa lama dia punya kuda. Sa- king cintanya dia, gue jadi curiga, jangan-jangan pengembaraan di Australia demi mencari ibu-ba- paknya yang asli. Setelah dicekokin kuda, baru deh giliran Takuji maju ke depan kelas. Gue udah curiga dia bakalan ngebahas semua tentang bir. 'Ano, today I want to talk about,' Takuji me nahan napasnya. 'BEEERI' Tokuji lalu menerawang ke atas seperti sedang berpikir keras. 'Ah!' katanya. Dia lalu bergeges ke bangkunya dan mengambil sotu tas besar. Dia bawa tas besar itu ke depan kelas. Gue sama Harianto pandang-pandangan. 'Har' kata gue. 'Jangan-jangan dia bawa....' 'Kayaknya gak mungkin deh. Dik' Bener aja, Takuji ngeluarin kaleng-kaleng bir ke depan kelas. Dia menaruh beberapa bir di atas meja, di depan kelas. Semua mata masih tertuju padanya. Satu anak cewek Korea manggut- manggut ngeliatin aksi si Takuji itu. Setelah dia menjejerkan sepuluh bir tersebut di atas meja, dia menepuk tangannya, dan berbicara dengon bahasa Inggris, 'Nah! Sekali lagi, saya akan membahas tentang ' dia menahan kalimatnya sebentar lalu mengangkat tangannya ke otas dan berteriak,'BEEEEERI' Satu kelas tepuk tangan. 'First, my favorite/ kata Takuji bergerak ke salah satu botol. Ini adalah bir pertama yang dia samperin. Coopers -Pale Ale. Dio lalu membuka tutupnya sambil berkata, 'Bir ini, bir yang enak. Rasanya sedikit pahit, tapi saya paling suka ini!' Sehabis berkata seperti itu, dia langsung me neguk botol Coopers Pole Ale itu sampai hampir setengahnya. 'AAAAAAAH!' katanya. Lalu dia berlanjut ke botol selanjutnya, satu botol Smirnoff ke. 'Kalau bir yang ini, rasanya agak tajam' katanya. Takuji lalu membuka botolnya kembali dan meminum sampai hampir selengahnya. 'Aaoh! Beeeeerr Anak-anak lain yang memerhatikan cuman bisa ma n ggut-m anggut aja. Rato-rala emang gak ngerti sih bir itu apaan. Harianto tampaknya serius memerhatikan si Takuji ngomong. Kalau Harianto pulang-pulang jadi alkoholik, gue tahu siapa yang harus gue salahkan. 5etelah dia mempresentasikan dan meminum botol kelima, cara bicara Takuji mulai aneh. 'Bir ini adalah. Hehehe. Sorry, ketawa dulu. Bir yang lumayan enak, tapi saya tidak terlalu suka. Temen- temen saya suka. Hehe.' Secara teori, cara presentasi Takuji seharusnya mendapatkan nilai sempurna. Topiknya jelos, mem bawa contoh benda yang dijadikan topik, dan secara keseluruhan menarik. Apalagi, guru gue mengingatkan hari sebelumnya bahwa, 'Presen- tasi lebih bagus jika kita membawa subjek yang 210 dipresentasikan.' Kalimat itu memang benar, lapi melihat Takuji sekarang, seharusnya kalimat itu menjadi. 'Presentasi lebih bagus jika kita membawa subjek yang dipresentasikan.... TAPI JANGAN SE KALI-SEKALI MABOK SEWAKTU PRE5 ENTASI.' Si Takuji ini kayaknya lepas kontrol. Jujur, gue sangat merasa dia punya problem serius dengon sifat peminumnya ini. Jujur, arongnya sangat baik dan polos. Tipikal anak-anak yang lugu. Tapi, begitu ketemu minumon, dia gak bisa ngerem lagi. Jeblos jauh ke dalem deh. Berlanjut ke botol keenam, sebelum Takuji mi num, dia sempet diem bentar megang botolnya, tatapannya kosong. Gue panggil Harianto, 'Woi, Har.' 'Apaan' kato Harianto. 'Lihat tuh Takuji. Mukanya merah.' 'Iya. Gila tenan, Dik, nih anak mabok ya!' Hening. Gue ngeliatin guru kelas gue. Dio cuman be ngong. Nampaknya dia shock. Ini menjadi sejarah baru dalam dunia pendidikan Australia: ada Inter national Student mabok woktu logi presentasi kelas. Muka Takuji udah merah bonget. Untung aja yong dipresentasikan itu bir, coba kalau tadi pas Takuji ke depan kelas dio bilang, 'Teman-lemen, hori ini saya akan mempresentasikan... NARKOBA!' Bisa-bisa pesta shabu-shabu di kelas ini. 'Ano,' Tokuji koyoknya kesulitan memilih kata- kata. Mukanya makin memerah. Dio garuk-garuk rambutnya sebentar. Temen-temen gak ada yang berani ngomong, takut salah-salah digaplok poke botol. Gue pengen gebuk Tokuji dari belakang pake bangku, topi tokut nanti diserang duluan. Sebelum dio minum botol yang ketujuh, guru gue langsung bilang, 'Uh, Takuji. Kayaknya pre sentasi kamu cukup sampai di sini deh.' Takuji cuman bisa ngeliat sambil senyum. Alisnya empat. 'Ha... Hoek,' Takuji memperlihatkan gelogat mau muntah. 'TAKUJI' gue spontan menjerit seperti banci 'Ano, Just kidding,' katanya sambil terkekeh 'Ya, presentasi bagus dari Takuji. Tepuk tangan semuanya,' kata guru gue. Semu a tepuk tangan tanpa niat. Seminggu kemudian, gue don anak-anok kelas Bahasa dateng ke gorden party-nya Gubernur South Australia. Ceritanya silaturahmi menjelang tahun ajaran baru. Gak cuman kita yang diundang, tapi juga mahasiswa-mahasiswa dari universitas di South Australia. Di tengah-tengah taman Gubernur, ada tenda besar bewarna putih, puluhan kursi untuk duduk, dan band jazz yang mengiringi acara mokan sore. Berhubung orang Australia dikenal sebagai beer drinker, enggak lupa juga ada bonyok banget bir yong ada di sano. Gak cuman bir, alkohol loin seperti champagne, omo red wine juga ada di Bagi arang seperti Takuji, ini berarti surga Begitu sampai di gorden party, si Takuji lang sung jerit-jerit kegirangan, 'Beeer! Beeeer!'. Sejauh mota memondong ada tray-tray dari kayu dengan gelas kecil berisi bir di atasnya. Pelayan-pelayan juga hilir mudik menawarkan red atau while wine. Takuji dengan kalap langsung berlari mencari gelas bir terdekat. 'Takuji,' kata gue mengingatkan. 'Pertama- tama kila denger pidato dulu!' 'Oh. oke,' katanya mengerti. Namun, pidato hanya menunda apa yang pasti akan terjadi. Begilu pidato Gubernur selesai, dia bolik lagi ke arah meja minuman don dengan tangan mengepal ke atas dia teriak penuh suka cita 'BEEER!' Dia langsung ngambil satu gelas dan mene gaknya dengan habis. Setelah ngobrol-ngobrol bentar, si Tokuji ber keliaran nyari bir lagi. Dia meminumnya kemboli sampai hobis. Setelah meminum beberapa bir gra tis, mukanya kembali telihat merah. Kayaknya dia mau mabok tuh. Untungnya, Takuji mosih punya akal sehat. Dia diem aja, duduk, dan berhenti nyariin bir lain. Eh, gak taunya si Chang, mahasiswa ngaco dari Malaysia, punyai niat jahat ngerjain si Takuji yang calon gembel alkoholik itu. Chang bilang, 'Takuji, ambil lagi lah birnya' 'Na. Na,' lalu kata Takuji dengan grammar ngaco. 'I will not get drunk. No. Beer is enough' 'Sini, sini. I will get one for you.' Si Chang dengan baik hati nyari bir terdekat dan memberikannya pada Takuji. Takuji sempet nolak-nolak dikit. Tapi emang dasar gentong, Takuji pun pada akhirnya menye rah pada godaan Chang yang terkutuk. Dia meminumnya sampai habis. 'Do you want more' kata Chang sambil ngikik- 'No. No. Enough, Beer is enough.' Dengan gak peduli, Chang malah nyariin si Takuji minuman kembali. Chang balik, kali ini dua gelas bir. 'Ayolah Tokuji,' kata Chang dengan laknat. Si Takuji akhirnya minum lagi. Saat dia minum, Chang mang g il i n a nak-anak untuk ngelilingin Takuji. 'Ayo,' kata Chang. 'Dukung Takuji.' Anak-anak lain bersorok-sorai memerhatikan Tokuji minum, 'Takuji ! Takuji ! Takuji!!' Takuji meneguk habis birnya. Sementara, kita semua lupa bahwa ini lagi di- tengah-tengah acaranya Gubernur South Australia! Ini bisa membuat hubungan bilateral negara kita hancur! Peserta acara gorden party ado yang mulai ngelirik aneh. Sebagian udah mulai curiga kalau ada yang gak beres. Hari makin sore, dan lima gelas berikutnya, Takuji udah mulai kepayahan. Tampangnya jadi beda banget. Dia kayaknya udah bener-bener ma bok. Alisnya empat terus. Dikit-dikit senyum. Terus ngeluh kalau semuanya mute r-muter. 'Fly. Sky is flying. Around. Around.' Tokuji udah mulai ngomong ngaco. Daripada ketauan mabok dan bikin malu kita semua, gue punya ide untuk nyabut kabel dari generator listrik dan menyetrum Takuji sampai ping san. 'Nanti kalau dia passed out gimana' kata Mingu. 'Justru itu. Dio mendingan pingsan daripada mabok.' Tokuji berusaha untuk berjalan, tapi yang ada malah hampir jatoh. Chang menangkap tubuh Takuji yang hampir jatuh. 'You okay, Takuji!' Chang kayaknya udah mulai khawatir. Gimana pun juga dia yang membuat badut Shibuya ini jadi mabok. Kita semua khawatir. Kalau Takuji beneran mabok di rumah gubernur apa yang akan terjadi Kalau Takuji mabok berat terus tibo-tlba beol di alas meja makan Gubernur apa yang akan dunia bilang Sung akhirnya membuka mulut. 'Anterin Takuji pulang saja. Yang penting dia keluar dulu dari party ini.' 'Betul!' semua suara mengiyakan Sung yang mendadak jadi pintar. Kita semua menepuk pundak Sung dan berkata, 'Good luck membawa Tokuji pulangi' 'HAAAWHYME!' Sung panik. Dia menyesal telah membuka mulutnya. Akhirnya, Sung memapah Takuji keluar dari gorden party sambil sebisa mungkin mencegah ada orang yang melihat. Mungkin, kalau orang nanya, 'Kenapa jalannya dipapah gitu' Sung bakalan bilang, 'Dia tibo-tibo kena polio.' Kita semua memerhatikan Sang yang memapah Tokuji keluar pintu gerbang rumah Gubernur. Gerbangnya lumayon jauh dari lempat kita berdiri, melewati tanaman-tanaman mawar milik gubernur dulu. Mokanya, kita semua was-was, berharap Sung bisa melewati mara bahaya ini. Taruhannya adalah nama baik kelas Bahasa kita. Begitu setengah perjalanan, tiba-tiba muka Takuji menengok ke kanan, HOEEEK. Dia muntah di atas bunga mawarnya Gubernur! Mampus. Anak-anak, di kejauhan pada histeris. Sementara Sung mukanya mangap lebar. Bingung mesti nga- pain. Dia lirik kanan-kiri, ada beberapa orang yang merhatiin. Mungkin seharusnya Sung bilang, 'Ini emong kebiasaan orang Jepang untuk meng ucapkan terima kasih: muntah di atas barang kesa yangan penyelenggara pestanya. Jodi, hati-hati mengundang orang Jepang ke acara ulang tahun kamu ya!' LULUS kelas Bahasa, gue akhirnya berpisah de ngon Takuji. Persiapan masuk ke Universitas punya kelas sendiri. Di sini kita bergabung dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa lainnya. Gue kira, gue udah sel a met dari para jago-jago mabok dunia. Topi, begitu hari Senin gue masuk, temen sebe lah gue, orang Arab bernama Ali, berkata, 'You know, Saturday I was so drunk that I slept under the table and didn't remember anything on the next morning.' Gue bilang, 'I will nol invite you to my birthday party.'' Bukan Binatang Biasa APA yang bikin arang bahagia Kadang gue pengen jadi kayak orang di iklan- iklan itu. Orang-orang yang kelihatannya hidupnya nelangsa banget, eh tapi gara-gara make produk tertentu dia bisa jadi bahagia. Tau kan, misalnyo iklan ada cowok lagi bete karena suatu masalah terus tiba-tiba dengan minum koka-kola aja semua berubah menjadi ceria Banyak iklan kayak gitu sekarang. Kayaknya, produk-produk mulai menjadi solusi dari semua masalah umat manusia. Seperti kalimat iklan ini: 'Anda ingin gaul Ba ca Gadis' 'Kerempeng mana keren ! Minum L-Men' 'Ingin cepat mati Minum Clear For Men!!' Sewaktu gue di penghujung kelas 3 SMA, kebahagiaan gue dan temen-temen gue ditentukan oleh satu hal: lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Kayaknya, semua orang bisa jadi happy kalau masuk KedokteranUI, Kamunikasi UI, dan universitas-universitas negeri lain nya. Mo- salahnya cuman satu: masuk UI itu lebih susah daripada ciuman ama Dian Sastro. Dan, kemungkinannya sangatlah kecil. Salah masuk jurusan, bisa-bisa salah jalan hidup. Maka, bagi gue SPMB bisa jugaa disebut Se tahun Penuh Mencret Berdarah, karena harus be lajar mati-matian. Dan sejujurnya, menurut gue gak adil juga harapan arang tua, masa depan, dan sebagai macamnya ditentukan pada dua hari ujian SPMB itu. Bayangin aja, kalau misalnya ada orang yang bener-bener pinter terus pas ujian SPMB tiba- tiba kedua tangannya buntung, Dia harus kayak gimana Apakah harus ngebuletin lembar jawaban pake idung Gimana kalau pensilnya nyodok idungnya, masuk, terus keselek pensil, dan dia gak tembus SPMB Gak adil banget. Sepanjang akhir kelas 3 SMA itu juga, di kepala gue berputar-putar satu pertanyaan maha- dasyat {bukan, bukan 'apakoh saya beneran laki- laki'!, pertanyaan tersebut adalah: 'Mau dibawa ke manakah Idup gue'. Setelah mencari-cari dengan seksama dengan segala rupa, maka gue pun akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Yaitu: 'Mampus, gue kagak tau' Lo mau milih apa buat SPMB' kata Pito. temen sekelas, di mobil gue. 'Masih belom tau nih, To. Pengennyo sih Fisika,' Saat itu kita berdua, bareng sekelas lainnya, berencana untuk membual foto kelas untuk di masukkan ke dalam buku tahunan angkatan. Masing-masing kelas temanya beda, ada yang colorful (bukan berarti semuanya make kolor}, oda yang carnaval, odo yong piknik, pokoknya macem. mocem deh. Kelos gue sendiri memakai tema hotelier, jadi kila berpoto dengan tema hotel dan segala hal yang berkaitan dengan hotel. Temen-temen gue ada yang pura-puranya jadi sekuriti, resepsionis, tamu dari berbagai macam negara, dan lain-lain. Padahal dulu gue pernah mengusulkan agar folo kelas lata tuh lemanya naked aja, lapi entah kenapa gok odo yang mau. 'Gue baru minjem nih baju satpam,' kata Pito. 'Dari Kas man.' 'Kasman salpom sekolah' 'Ho-oh.' Pembagian peron pun disesuaikan dengan ke mampuan mosing-masing, temen gue yong item kayak orang negro dikasih peran pedagang nar koba, temen gue yang chubby dikasih peron anak yang kebanyakon makan gula Jawa. Gue sendiri, entah alas dasar apa, dikasih peron "orang yang berenang di kolam renang". Tadinya gue pikir pas pemotretan orang bakalan bilang, 'Ih Radith, body- nya keren ban-get.' Tapi yang keluar malah hinaan seperiti, 'Dith, tete lu kok bernanah' Si Pita sendiri entah kenapa jadi satpam, kepa lanya punya banyak kemiripan sama pentungan satpam. Pas sesi pemotretan, gue jadi berpikir banyak hal. Kayaknya seru juga kalau nanti kita udah Lulus SMA dan gede nanti bakalan seperti foto buku tahunan. Ada yang turis, ado yang resepsionis, ada yang jaga biliar, walopun kerjaan gue gak elit juga sih: 'orang yang berenang'. Sesi pemotretan berlangsung tanpa masalah. 5emuanya terlihat oke-oke saja. Semuanya, kecuali si Pito yang berperan jadi satpam. Waktu dia lagi dari keluar pintu hotel, tiba-tiba ada tamu hotel nya m perin dio. Dengan penuh kelembutan dia bilang, 'Mas, Mas! Tolong cariin saya taksi!' 'CARI AJA NDIRI!' kata Pito sambil ngeloyor pergi. Disangka satpam beneran, Kasian deh lu. Sewaktu di mobil, Pito bilang, 'Gimana yah kolo gue beneran jadi satpam' 'Maksud lo' gue bilang. 'Iya, kayak tadi. Serem juga ya. Maksudnya, kita pas udah lulus nanti, gak dapet kerja, dan ja di satpam. Rasanya, serem banget. Tadi aja gue disuruh manggilin taksi udah sewot' 'Kuncinya yah cuman satu, To' 'Apa' 'SPMB nanti. Di situ turning point of life kita. 'Tapi, gimana kalau kita gak lulus' 'Eh iya. Gi... gimana ya' Gue gak berani nge- bayangin. SPMB itu sendiri seperti hutan yang penuh binatang buas, siap menerkam satu sama lain. Untuk tembus SPMB, kita harus menjadi lebih dari binatang biasa, bukan binatang biasa. Sebenernya gue gak harus khawatir banget. Pasalnya, SMAN 70, tempat gue sekolah, pu nya track record bagus dalam hal kelulusan 5PMB. Waktutahun gue sekoiahdi sana, 80%siswa mereka lulus SPMB. Mungkin hal ini ditunjang dengan fasilitas sekolah yang memadai. Sekolahnya gede, oda lap angan bola, ada ruangan audio visual, dan ada kolam renang 30 x 30 cm (ini kalam renang apa lobang kakus). Sekolah sendiri punya Bimbingan Tes Alumni (BTA) yang isinya alumni-alumni SMAN 70 yang udah Lebih duluan tembus masuk Universitas Indo nesia. Waktu pertama mereka ngajar, mereka jalan-jalan keliling sekolah sambil mengibaskan jaket kuning mereka. Jaket khas anak UI. Gue, yang mentok-mentok cuman punya jaket tukang ojek hanya bisa sirik setengah mampus dan berpikir, 'Kayaknya gak mungkin deh gue bisa punya'. Apalagi, gue sewaktu SMA kerjaannya cenge ngesan melulu. Jarang masuk sekolah, suka nong krong di kontin. Gue pernah dapet 4 buat nilai Kimia di rapor. Sampai-sampai tuh guru bilang di depan kelas, 'Saya bingung. Raditya itu mau jadi apa nantinya' Gue mengalami krisis pede yang amat gawat. Semuanya berubah begitu gue ikut kelas BTA 70. Satu kelas BTA dan salu ucapan dari seorang guru BTA mengubah semuanya. 'Coba kalian pikir,' ujar guru tersebut di depan kelas, 'kalian semua ini bisa menjadi manusia karena persaingan jutaan sperma untuk mendapatkan satu ovum! Nah, masa SPMB yang cuman ribuan orang aja kalian bisa kalah!'. Gue duduk di pojokan kelas manggut-mang gut. Dasar guru Biologi. Mikir aja masih nyerempet- nyerempet ke Biologi. Tapi, nasihat sperma-menuju- ovum yang dia berikan tadi sangat meresap masuk ke dalam kepala gue. Perkataan guru Biologi itu gue pegang teguh. Dan kalimat ilu sering gue jadikan nasihal kepada femen-temen gue yang lagi mengalami kejadian yang nyerempet kepada kemustahilan. Seperti kalau ada temen gue yang lagi ngincer cewek tapi ditolak, gue akan bilang, 'INGAT! LO ITU SPERMA!' Dia paling nengok ke gue dan bilang, 'Lo tuh idiot.' Gue berulang-ulang menjadikan kalimat 'Aku ini sperma. Aku ini sperma' berulang-ulang sampai- sampai gue jadi takut sendiri kalau ntar kenalan ama cewek dan ceweknya bilang 'Hai, aku Diana!' gue bakalah jerit 'HAI! AKU SPERMA!' Intinya, kalimat itu menjadi kalimat motivasi gue dalam menjalani SPMB. Gue jadi sering belajar, jarang tidur, minum kopi sampai bergalon-galon. Gue jadi pede dan yakin, saingan-saingan gue bu kan musuh yang mustahil untuk dikalahkan. Kemungkinan gue untuk tembus SPMb masih ada, bahkan lebih besar. Satu bulan menjelang SPMB, semua orang jadi freak. Tiap istrahat makan siang, salu sekolah sepi. Dikit banget yang keluar dari kelas. Kebanyakan dari kita duduk di pojokan kelas, ngutak-ngatik soal, mencoba untuk mencari cara terbaik dalam memecahkan sebuah soal. Gue masih dengan se- mongat 'akuini-sperma' belajar selengah mati. Mata gue bawahnya jadi item, dan tiap hari ber gumul dengan kertas-kertas soal. Selain ikut BTA, gue juga ikut bimbingan tes. Di bimbingan tes itu juga gue diperah bagaikan kuda liar yang hendak dijual susunya. Tiap hari latihan soal sampoi otak ini kram. Bahkan, ketika satu keluarga mengajak pergi ke luar negeri, gue menjawab dengan halus, 'Maaf, Ma Besok ada try out' 225 'Dika! Kamu kesetrum kulkas ya!' kata nyo kap yang gak biasa ngeliat anak cengengesannya jadi kayak gini. 'Enggak. Tapi emang besok ada try out ming guan.' 'Pa.' nyokap histeris. 'Anakmu kenapa, Pa! ANAKMU KE NAP AAA!' Gue akhirnya ngikutin try out itu, dan pulang mendapati rumah kosong melompong. Satu keluarga semuanya liburan dan gue tinggal sendirian dengan soal-soal dan buku pelajaron dari kelas 1 SMA, Suatu hari nyokap ngabarin bahwa gue akan disekolahkan di University of Adelaide, Australia. Gue seneng-seneng ajo bisa sekolah di luar negeri, tapi yang jelas gue harus punya pembuktian dulu bahwa gue bisa tembus Universitas Indonesia, yang katanya nomor satu di Indonesia itu. Gue tetep begadang, gue tetep makan soal tiap hari,-seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aktivitas ngerjain soal itu malah lama-kelamaan jadi suatu hal yang lazim. Jadi enggo berasa bebannya sa ma sekali. Gue malah ke mana-mana pasti selalu membawa buku latihan soal. Pas lagi pacaran di Twenty One aja, gue sama pacar gue (yang sama- sama pengen tembus UI) duduk di koridor Twenty One sambil ngerjain soal-soal Matematika Dasar. 'Ada gak sih orang lain yang pacarannya begini' kata dia. 'Orang lain yang berpacaran sehat' 'Engga ado deh kayaknya. Di hari SPMB, orang-orang tambah jadi freak. Tiba-tiba mereko semua menjadi cleon freak tingkat tinggi. Begitu duduk di meja ujian, tuh meja dilap dengan alkohol sedikit demi sedikit. Mejanya dilap sedemikian rupa sampe jangan-jangan orang biso ngaca di sana. Mereka semuanya takut kertas jawabannya kotor dan jawabannya engga terbaca oleh komputer. Gue sendiri, hari itu lupa bawa pensil. Tiga- bulan kemudian, gue lagi berbaring di apartemen gue di Adelaide, Australia. Gue baru seminggu pindah ke Australia, dan menunggu untuk masuk ke college. Titit! Titit! Hape gue berbunyi. Gue mendapat SMS. from: Kebo Sayang! Aku keterima! Sastra Cina UI! Oh I'm so happy that I cried! I don't know I could cry like this! Oh yes,, u got in to... FISIKA UI! Wah, gua tembus Fisika UI ternyata. Semenit kemudian, gue nelpon ke Jakarta. 'Halo' bokap yang angkat. 'Pa, aku masuk Fisika UI lho,' gue bilang. 'Udah tahu. Bangga sama kamu,' dia bilang. 'Ohya' 'Iya dong! Mamanya juga,' kata bokap. Samar- samar kedengeran suara nyokap teriak-teriak ke Telepon. Entah bener histeris gue masuk UI atau jangan-jangan rumah lagi kebakaran. Gue menutup telepon. Kejadian selanjutnya malah bikin heboh. Saking bangganya anaknya masuk UI, nyokap justru malah jadi norak. Dio menyuruh gue pulang dori Australia, hanya untuk ikut les kesehatan dan ngambil Jaket Kuning. Tapi kan, aku mau kuliah di sini, bukan di UI, ngapain diambil' gue protes. 'Ya, iyaaaaa. Duh, begitu udah dapet jaket kuning, kamu boleh balik ke Australia lagi, biar bangga aja gitu. Paling engga kamu terdaftar di Ul! UI GITU LHO, DIK! Paling engga jaketnya ada di tangan,' kata nyokap. Tapi, karena tiket pulang bolak-balik sangat mahal, dan course gue di Australia udah mau mulai, gue menolak saran nyokap Itu. 'Oke, biar mama nyari cara lain,' kata nyokap Cara lain yang digunakan oleh nyokap ternyata memakan korban Pito. Pito keterima di UGM, dan kebetulan dia lagi sial main ke rumah gue, alhasil nyokap malah ngedandanin dia jadi mirip ama gue. 'Pito, kamu yang ngegantiin si Dika yah buat tes kesehatan masuk UI,' kata nyokap. 'Nanti, kalau tes urine gimana. Tante' Pito g aga p. 'YAH PAKE KENCING KAMU LAH!' Nyokap jawab santai. 'Masa kamu mau si Dika ngirim kencing pake DHL atau FEDEX gitu' 'l-iya. Tante.' 'Sekarang ganti baju, kita ka UI' '5iap!' Maka, nyokap dan Pito laksana ibu dan anak datang ke UI berduaan. Tiap kali ketemu orang, nyokap akan mengenalkan Pito sebagai "Ini Dika, anak saya." Pito diseret untuk foto, ngurus Kartu Tanda Mahasiswa, dan segala tetek-bengek administrasi untuk terdaftar sebogai mahasiswa UI. Semua orang tampak dengan mudah dibohongi oleh Raditya Dika gadungan ini. Kecurigaan hanya sedikit terpancar pas tes kesehatan, dokternya sempet curiga dan nanya ke Pito, 'Komu kok gak mirip dengan foto komu ya' Jelas dokternya curiga, di foto gue terlihat mahogonteng sekali. 'Iya, Dok. Saya gemukon,' kota Pito kalem. 'Beres, Dik,' kalo nyokap di telepon. 'Beres apa' 'Udah, kamu terdaftar di UI. Si Pita dengan sukses ngelolosin kamu.' 'Tes kesehatan' 'Lulus, Semua lulus.' 'Oke,' kata gue. Hebat juga si Pito. Ternyata dia lebih sehat daripada dugaan gue. Tumor diudel nya na mpaknya tidak terdeteksi oleh dokter. 'Oke ya, baik-baik di Australia. Daaaah' nyo- kop lalu menutup telepon. Gue menghela napas, dan menyandarkan diri ke atas kasur. Nyokap bener-bener segitunya untuk ngurusln pendaftaran gue di UI. Gue memejamkan mata, dan detik itu terasa begitu lama. Di telepon, nyokap terdengar sangat bahagia. Hmmm, per tanyaan lama pun terulang kembali, 'Apa yang bikin orang bahagia' Jujur, masuk UI enggak ngEbuatgue bahagia- bahagia banget. Tapi, ada satu hal yang bisa membuat senyuman gue gak berhenti kempis ma lam itu, kenyataan yang baru gue sadari setelah Pito menjadi korban; gue baru saja bikin orang tua bangga! - Dan mungkin, untuk detik ini, inilah kebahagia an yang gue cari.